Kanker tulang atau Osteosarcoma, Gejala dan Penanganannya

Kanker tulang atau Osteosarcoma adalah jenis kanker yang menyerang tulang. Penyakit ini dapat diidap oleh anak-anak hingga orang dewasa.

Kanker tulang terbagi menjadi dua, yaitu kanker tulang primer dan sekunder. Dinamakan kanker tulang primer bilamana kanker tersebut muncul dan berkembang langsung di dalam tulang. Sedangkan kanker tulang sekunder adalah kanker yang berasal dari bagian tubuh lain yang menjalar ke tulang.

Seluruh tulang di dalam tubuh bisa terserang oleh penyakit ini, namun sebagian besar terjadi pada tulang kaki dan lengan.

  • Nyeri. Seseorang yang terkena kanker tulang akan merasakan nyeri pada daerah tulang yang diserang. Nyeri ini biasanya berangsur-angsur meningkat dan memburuk, terutama ketika tulang digerakkan atau ketika malam hari.
  • Pembengkakan. Daerah sekitar tulang yang terkena kanker akan mengalami pembengkakan dan berwarna kemerahan. Bahkan jika pembengkakan terjadi di dekat suatu sendi, maka sendi tersebut akan sulit digerakkan.
  • Pelemahan tulang. Kanker tulang menyebabkan tulang menjadi lemah atau rapuh. Bahkan jika sudah parah, jatuh biasa atau cedera kecil saja bisa membuat tulang patah.
  • Tubuh terasa lelah.
  • Penurunan berat badan.
  • Demam.
  • Berkeringat, terutama pada malam hari.
  • Pada orang dewasa, gejala nyeri tulang kadang-kadang disalahartikan sebagai radang sendi. Pada anak-anak dan remaja, kadang-kadang disalahartikan sebagai efek samping dari pertumbuhan tulang. Sebaiknya temui dokter jika Anda atau anak Anda terus-menerus merasakan nyeri pada tulang selama lebih dari tiga hari.

Penyebab 

  • Penyebab pasti kanker tulang belum diketahui, namun kondisi ini diduga disebabkan adanya perubahan atau mutasi di dalam struktur DNA yang mengendalikan pertumbuhan sel sehingga sel-sel tersebut terus tumbuh di luar kendali. Penumpukan sel-sel ini kemudian membentuk tumor yang dapat menyerang struktur tulang di dekatnya atau bahkan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Faktor Resiko

Berikut ini beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker tulang.

  • Paparan radiasi tinggi dari suatu pengobatan yang pernah dialami penderita, misalnya radioterapi.
  • Pernah memiliki riwayat suatu jenis kanker mata yang disebut retinoblastoma saat kecil.
  • Pertumbuhan tulang yang cepat pada pubertas.
  • Menderita penyakit Paget, yaitu suatu kondisi yang dapat menyebabkan tulang lemah.
  • Menderita penyakit hernia umbilitikus sejak lahir.

Jenis-jenis 

Berdasarkan tempat sel kanker bermula, ada tiga jenis kanker tulang yang umum terjadi, di antaranya:

  • Osteosarcoma. Kanker tulang ini berkembang di dalam jaringan baru pada tulang yang sedang tumbuh. Jenis ini biasanya menyerang tulang paha dan tulang betis. Osteosarcoma bisa diidap siapa saja, namun yang paling umum adalah remaja dan orang-orang yang baru menginjak usia dewasa.
  • Ewing’s sarcoma. Kanker tulang ini berkembang di dalam jaringan saraf yang belum dewasa pada sumsum tulang. Jenis ini biasanya menyerang tulang paha, tulang betis, dan tulang panggul. Ewing’s sarcoma lebih sering diidap remaja ketimbang orang dewasa.
  • Chondrosarcoma. Kanker tulang ini berkembang di dalam tulang rawan. Biasanya menyerang tulang paha, tulang panggul, tulang rusuk, tulang belikat, dan tulang lengan bagian atas. Chondrosarcoma biasanya diidap oleh orang-orang yang berusia 30-60 tahun.

Tahapan perkembangan kanker tulang

Ada empat tahapan yang menentukan tingkat keparahan suatu penyakit kanker tulang, di antaranya:

  • Stadium 1. Pada tahap ini kanker baru mengenai satu bagian tulang dan belum menyebar ke bagian lainnya.
  • Stadium 2. Hampir sama seperti stadium 1, tapi pada tahap ini kanker masih berada di satu bagian tulang dan belum menyebar. Pada tahap ini, agresivitas kanker sudah mulai terlihat.
  • Stadium 3. Pada tahap ini kanker sudah mulai menyebar ke lebih dari satu area pada tulang yang sama.
  • Stadium 4. Pada tahap ini, kanker yang menggerogoti tulang telah menyebar ke bagian-bagian lainnya di dalam tubuh, misalnya paru-paru, hati, atau otak.

Penentuan tingkat keparahan kanker tulang bisa dilakukan melalui diagnosis. Hal ini berguna dalam membantu dokter untuk memberikan pengobatan yang tepat.

Untuk mengetahui apakah seorang pasien menderita kanker tulang, selain menanyakan tentang gejala-gejala yang dirasakan, dokter perlu melakukan beberapa tes. Jenis-jenis tes ini di antaranya adalah:

  • Tes darah. Tes ini dapat mengetahui adanya kanker tulang melalui perubahan yang terjadi di dalam darah. Misalnya naiknya kadar enzim alkalin fosfatase akibat osteosarkoma. Kegunaan lain dari tes darah adalah untuk memastikan bahwa pasien bukan menderita kondisi lain, misalnya artritis atau radang sendi yang juga dapat menyebabkan gejala nyeri seperti pada kanker tulang.
  • Biopsi. Selain dapat mendeteksi keberadaan kanker tulang, tes ini juga dapat menentukan tingkat keparahan penyakit tersebut bila ada. Biopsi dilakukan dengan cara mengambil sedikit sampel dari tulang untuk selanjutnya diteliti di laboratorium. Tes ini dianggap sebagai cara paling akurat untuk mendiagnosis kanker tulang.
  • Sinar-X. Melalui tes ini dapat diketahui apakah kerusakan tulang yang dialami oleh pasien disebabkan oleh kanker atau kondisi lainnya. Selain kerusakan tulang, pertumbuhan tulang yang tidak wajar akibat kanker juga dapat terdeteksi melalui pemindaian X-ray.
  • Pemindaian tulang. Tes ini dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah bahan radioaktif ke dalam pembuluh vena. Bahan tersebut nantinya akan diserap oleh tulang. Biasanya tulang yang bermasalah atau tidak normal akan lebih cepat melakukan penyerapan dibandingkan tulang yang normal. Informasi soal tulang yang didapat lewat pemindaian tulang biasanya lebih rinci daripada yang didapat melalui pemeriksaan sinar-X.
  • MRI scan. Melalui metode ini, tingkat keparahan penyebaran kanker di dalam tulang dapat diketahui. Dengan dibantu gelombang radio dan medan magnetik, MRI scan dapat menghasilkan gambar tulang secara lebih rinci.
  • CT scan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mencari tahu apakah kanker tulang telah menyebar, misalnya ke paru-paru. Pemindaian yang menggunakan rangkaian sinar-X dan bantuan komputer ini dapat menghasilkan gambar bagian tubuh secara rinci dalam bentuk 3 dimensi.

Pengobatan kanker tulang sangat bergantung pada tingkat keparahan kanker, lokasi kanker, dan bahkan jenis kanker itu sendiri. Meski demikian, penanganan utama kanker tulang biasanya dilakukan melalui operasi yang dikombinasikan dengan pengobatan lainnya, seperti kemoterapi dan radioterapi.

Beberapa jenis operasi bisa dilakukan untuk mengatasi kanker tulang, di antaranya:

  • Operasi pengangkatan tulang. Prosedur ini biasanya dilakukan jika kanker belum menyebar keluar tulang. Bagian tulang atau sendi yang terinfeksi kanker akan diangkat untuk selanjutnya diganti dengan tulang atau sendi buatan. Operasi pengangkatan ini juga masih bisa diterapkan jika kanker hanya baru menyebar ke jaringan-jaringan di sekitar tulang.
  • Amputasi. Amputasi biasanya dilakukan jika kanker tidak berhasil ditangani dengan operasi pengangkatan tulang atau jika kanker tulang telah menyebar, misalnya menuju saraf, pembuluh darah, serta kulit.
  • Kemoterapi. Kemoterapi merupakan metode pengobatan kanker yang melibatkan pemberian sejumlah obat-obatan. Pada penyakit kanker tulang, obat-obatan tersebut diinfuskan ke dalam pembuluh darah.
  • Pada kasus kanker tulang, kemoterapi biasanya dilakukan sebelum operasi dengan tujuan untuk menyusutkan kanker agar tidak perlu dilakukan amputasi, serta dilakukan setelah operasi agar kanker tidak muncul kembali. Selain itu, kemoterapi juga bisa dipadukan dengan radioterapi untuk diberikan kepada penderita Ewing’s sarcoma atau chemoradiation sebelum menjalani operasi. Jika penderita kanker tulang sudah tidak bisa ditangani lagi dengan cara apa pun, kemoterapi biasanya diberikan dengan tujuan untuk memperlambat gejala. Waktu pelaksanaan kemoterapi biasanya dibagi menjadi beberapa siklus, di mana tiap siklus terdiri dari beberapa hari. Jumlah siklus yang dibutuhkan oleh penderita kanker tulang berbeda-beda, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakit yang diidap oleh mereka. Tiap siklus kemoterapi biasanya dipisahkan oleh jeda waktu beberapa minggu. Tujuan pemberian jeda waktu ini adalah agar penderita dapat memulihkan diri dari efek kemoterapi. Beberapa efek samping kemoterapi adalah rambut rontok, rasa lelah, sariawan, diare, mual dan muntah, serta melemahnya sistem kekebalan tubuh. Biasanya efek samping ini akan hilang setelah pengobatan kemoterapi berakhir.
  • Radioterapi. Metode radioterapi dilakukan dengan menggunakan pancaran radiasi untuk menghancurkan sel-sel kanker. Pada kasus kanker tulang, radioterapi dapat digunakan sebelum atau sesudah operasi. Metode ini juga dapat dilakukan untuk memperlambat gejala kanker tulang pada penderita yang tidak bisa lagi diobati dengan cara apa pun. Radioterapi biasanya dilakukan sebanyak lima sesi dalam seminggu dan satu sesi biasanya berlangsung sekitar 15 menit. Sama seperti kemoterapi, radioterapi juga memiliki efek samping. Beberapa di antaranya adalah lelah, rambut rontok, nyeri sendi, mual, iritasi dan kemerahan pada kulit. Umumnya efek samping ini akan hilang setelah pengobatan radioterapi berakhir.

Peluang sembuh penderita kanker tulang

  • Kanker tulang yang belum menyebar ke organ tubuh lainnya atau yang masih terlokalisasi, lebih mudah ditangani ketimbang kanker tulang yang sudah menyebar atau bermetastasis. Faktor inilah yang nantinya akan berpengaruh pada peluang penderita untuk sembuh.
  • Menurut penelitian, seseorang yang terdiagnosis menderita osteosarcoma terlokalisasi diperkirakan masih memiliki peluang hidup sebesar 60 persen selama setidaknya 5 tahun ke depan, dibandingkan mereka yang terdiagnosis menderita osteosarcoma metastasis yang hanya berpeluang 10 persen.
  • Sedangkan untuk kasus kanker tulang Ewing’s sarcoma yang telah terdiagnosis, penderita kondisi terlokalisasinya diperkirakan masih memiliki peluang hidup sebesar 70 persen setidaknya selama 5 tahun ke depan dibandingkan penderita kondisi metastasis yang hanya memiliki peluang 30 persen. Sama seperti osteosarcoma terlokalisasi, sebagian besar penderita Ewing’s sarcoma terlokalisasi juga berhasil sembuh dari penyakitnya.
  • Selain tingkat penyebaran, seberapa parah jaringan sel yang terkena kanker juga bisa berdampak pada kesempatan penderita untuk sembuh. Menurut penelitian, rasio peluang hidup penderita kanker tulang chondrosarcoma stadium rendah dengan penderita stadium tinggi selama setidaknya 5 tahun ke depan adalah 80 persen banding 30 persen.

Advertisements

Gejala dan Penanganan Kanker Tenggorokan 

Gejala dan Penanganan Kanker Tenggorokan Nasofaring

Kanker tenggorokan adalah tumor yang tumbuh dan berkembang di tenggorokan, sekitar faring, laring, atau tonsil. Sama seperti kanker mulut dan lidah, sebagian besar kanker tenggorokan yang dialami pasien memiliki jenis karsinoma sel skuamosa.

Sedangkan jika berdasarkan lokasi atau bagian yang diserang, kanker ini dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis. Di antaranya adalah:

  • Kanker nasofaring (tenggorokan bagian atas di belakang hidung).
  • Kanker orofaring (tenggorokan bagian tengah, dibelakang lidah).
  • Kanker hipofaring (tenggorokan bagian bawah).
  • Kanker laring (pita suara).
  • kanker tenggorokan 

Gejala kanker tenggorokan bisa beragam dan tidak sama pada tiap penderita. Beberapa indikasi yang umumnya dirasakan oleh pasien meliputi:

  • Sulit menelan.
  • Perubahan suara.
  • Batuk kronis.
  • Sakit tenggorokan.
  • Telinga yang sakit atau berdengung.
  • Benjolan yang tidak kunjung sembuh.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Pembengkakan pada mata, rahang, tenggorokan, atau leher.
  • Gejala kanker tenggorokan cenderung mirip dengan masalah kesehatan lain sehingga sulit terdeteksi. Karena itu, kita harus tetap waspada dan memeriksakan diri jika merasakan gejala-gejala tertentu. Terutama indikasi yang tidak kunjung membaik atau bertambah parah.

Penyebab dan Faktor Risiko 

  • Semua kanker terjadi akibat adanya mutasi pada sel-sel. Mutasi inilah yang memicu pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Itulah yang terjadi dengan kanker tenggorokan.
  • Penyebab di balik proses mutasi tersebut belum diketahui secara pasti. Tetapi ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker tenggorokan, misalnya usia, pola hidup, serta kondisi medis.
  • Risiko kanker tenggorokan akan meningkat seiring bertambahnya usia seseorang. Kanker ini umumnya terjadi pada orang yang berusia di atas 60 tahun.
  • Kemungkinan munculnya kanker tenggorokan juga berhubungan erat dengan pola hidup yang kurang sehat. Beberapa contohnya meliputi:
  1. Mengonsumsi tembakau, baik dalam bentuk rokok maupun kunyah.
  2. Mengonsumsi minuman keras yang berlebihan.
  3. Kurang mengonsumsi buah dan sayur.
  4. Selain itu, terdapat beberapa kondisi medis tertentu yang bisa menjadi faktor pemicu kanker tenggorokan. Contohnya infeksi virus HPV (human papillomavirus) dan penyakit asam lambung atau GERD.

Pada tahap awal diagnosis, dokter akan menanyakan gejala, riwayat kesehatan, serta melakukan pemeriksaan fisik pasien. Jika diduga mengidap kanker tenggorokan, pemeriksaan lebih mendetail akan dianjurkan untuk memastikan diagnosis. Jenis pemeriksaan lebih lanjut yang umumnya meliputi:

  • Endoskopi atau laringoskopi.
  • Pengambilan sampel jaringan atau biopsi.
  • USG, X-ray, CT, MRI, dan PET scan. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan tingkat penyebaran kanker tenggorokan.

Stadium

Mengetahui tingkat penyebaran dan stadium kanker yang Anda derita akan membantu dokter untuk menentukan langkah pengobatan yang akan dijalani. Kanker ini terbagi dalam stadium 1 hingga stadium 4. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

  • Stadium 1: tumor berukuran kecil (7 cm atau kurang) dan hanya menyerang bagian tertentu pada tenggorokan.
  • Stadium 2: tumor berukuran lebih besar tapi belum menyebar di luar tenggorokan dan/atau noda limfa.
  • Stadium 3: kanker sudah menyebar ke jaringan atau organ di luar tapi dekat dengan tenggorokan dan/atau noda limfa.
  • Stadium 4: kanker menyebar hingga ke jaringan atau organ di luar tenggorokan dan/atau noda limfa.

Tiap pengidap bisa membutuhkan pengobatan yang berbeda-beda. Penentuan metode penanganan yang terbaik tergantung pada usia dan kondisi kesehatan pasien, lokasi tumbuhnya kanker, serta stadium kanker itu sendiri.

  • Pendeteksian dan pengobatan sedini mungkin adalah kunci utama dalam menangani semua kanker, termasuk kanker tenggorokan. Beberapa langkah penanganan yang umumnya akan dijalani oleh pengidap meliputi radioterapi, operasi, kemoterapi, serta terapi biologis. Kanker pada stadium lanjut biasanya membutuhkan kombinasi dari keempat metode tersebut.
  • Jika kanker berada pada stadium awal, radioterapi terkadang sudah cukup efektif dalam mengatasinya. Sedangkan untuk kanker stadium lanjut, radioterapi dilakukan hanya untuk mengurangi gejala yang dialami pasien.
  • Radioterapi juga terkadang dikombinasikan dengan kemoterapi karena ada beberapa jenis obat kemoterapi yang dapat meningkatkan sensitivitas sel-sel kanker terhadap proses radioterapi. Proses kombinasi ini akan meningkatkan potensi efek samping radioterapi sekaligus kemoterapi yang meliputi kelelahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, serta sariawan.
  • Metode operasi untuk kanker tenggorokan memiliki beberapa jenis. Dokter akan menentukan prosedur mana yang dibutuhkan pasien berdasarkan stadium dan lokasi tumbuhnya kanker. Jenis-jenis operasi tersebut meliputi:
  • Operasi pengangkatan melalui endoskopi. Prosedur ini dianjurkan untuk kanker tenggorokan stadium awal.
  • Laringektomi atau operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kotak suara yang terkena kanker. Operasi ini dilakukan untuk menangani tumor berukuran kecil.
  • Faringektomi atau prosedur pengangkatan sebagian atau seluruh bagian tenggorokan.
  • Prosedur pengangkatan noda limfa leher yang terserang kanker. Operasi ini dilakukan jika kanker sudah menyebar luas pada leher. Proses ini juga digunakan untuk memeriksa tingkat penyebaran sel-sel kanker pada noda limfa.
  • Langkah penanganan lainnya adalah dengan obat terapi biologis. Jenis obat yang umumnya digunakan adalah cetuximab. Proses ini akan mengincar kelemahan pada sel-sel kanker untuk menghambat pertumbuhannya.
  • Untuk memaksimalisasi pengobatan kanker tenggorokan, ada beberapa langkah sederhana yang dapat Anda lakukan. Di antaranya adalah berhenti merokok dan menjauhi konsumsi minuman keras.
  • Selain menurunkan keefektifan metode pengobatan, merokok dan konsumsi minuman keras dapat memperlambat proses pemulihan tubuh. Kebiasaan ini juga bisa mempertinggi risiko seseorang untuk terkena jenis kanker lain.

Gejala dan Penangannnya Karsinoma Nasofaring

Gejala dan Penangannnya Karsinoma Nasofaring

Karsinoma nasofaring (nasopharyngeal carcinoma/NPC) adalah jenis kanker pada tenggorokan (faring) yang muncul di area nasofaring, yaitu area belakang hidung dan area  belakang langit-langit tenggorokan. Saat bernapas melalui hidung, aliran udara yang Anda hirup akan masuk melewati hidung ke tenggorokan lalu ke nasofaring hingga akhirnya ke paru-paru. Kanker ini tergolong jarang terjadi jika dibandingkan dengan kanker pada kepala atau leher lainnya.

Selain di nasofaring, kanker faring juga dapat muncul pada area orofaring (dasar lidah, tonsil, dan permukaan bawah langit-langit mulut) dan hipofaring (sinus piriformis, area setelah tulang krikoid dan dinding belakang faring). Kasus kanker ini lebih banyak ditemukan pada orang-orang di kawasan Asia Tenggara.

Penyebab 

  • Seperti kanker pada umumnya, kanker karsinoma disebabkan oleh adanya mutasi gen yang menyebabkan sel berkembang di luar kendali dan menginvasi jaringan di sekitarnya  yang kemudian dapat menyebar ke bagian tubuh lain (metastase). Penyebab mutasi gen ini belum diketahui hingga saat ini.
  • Karsinoma nasofaring memiliki beberapa faktor risiko yang bisa membuat seseorang lebih berisiko terserang penyakit ini, seperti virus Epstein-Barr. Akan tetapi pemicu pasti penyakit ini masih belum ditemukan. Oleh karena itu, pada sebagian kasus, seseorang dapat terhindar dari kondisi ini walaupun memiliki semua faktor risiko pada dirinya, sementara pada kasus lain terjadi sebaliknya. Beberapa faktor risiko karsinoma nasofaring, yaitu:
  • Etnis. Kasus karsinoma nasofaring lebih banyak ditemukan pada orang yang tinggal di Cina, Afrika bagian utara, Asia Tenggara, dan bangsa Inuit di Alaska. Walau demikian, warga Asia yang dilahirkan di Amerika tidak memiliki risiko setinggi warga Asia yang berimigrasi ke Amerika.
  • Keluarga dengan riwayat kanker nasofaring.
  • Usia. Penyakit ini paling umum ditemukan pada orang dewasa yang berusia antara 30-50 tahun.
  • Jenis Kelamin. Penyakit ini paling umum ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan.
  • Uap masakan dari makanan yang diawetkan dengan teknik pengasinan yang masuk ke rongga hidung dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring, seperti ikan asin , dan asinan sayuran. Risiko akan bertambah tinggi jika pasien sudah terpapar zat kimia ini sejak usia dini.
  • Bekerja di lingkungan yang membuat Anda selalu menghirup serbuk kayu dan zat kimia formaldehyde.
  • Virus Epstein-Barr. Virus yang merupakan bagian dari keluarga virus herpes ini memiliki gejala yang menyerupai pilek. Selain karsinoma nasofaring, penderita yang terjangkit infeksi virus ini juga dapat terkena infeksi mononukleosis. Selain kanker nasofaring, virus Epstein-Barr juga dikaitkan dengan jenis kanker lain yang langka.

  • Tidak mudah untuk mengetahui kemunculan dan gejala karsinoma nasofaring di stadium awal. Penyakit ini biasanya mulai terlihat ketika pasien sudah berada pada stadium lanjut. Hal ini dapat disebabkan oleh gejala karsinoma nasofaring pada stadium awal yang tidak spesifik atau bahkan gejala bisa tidak muncul sama sekali. Beberapa gejala karsinoma nasofaring yang umumnya dapat dikenali, yaitu:
  1. Terdapat benjolan pada leher akibat terjadi pembesaran kelenjar getah bening
  2. Darah pada air liur
  3. Mimisan
  4. Trismus (susah membuka mulut akibat rahang tertahan atau otot rahang kaku)
  5. Pusing
  6. Hidung tersumbat
  7. Pendengaran berkurang
  8. Infeksi telinga dengan frekuensi yang lebih sering

Segera temui dokter jika mengalami salah satu dari gejala-gejala di atas dan tidak kunjung membaik. Buatlah catatan mengenai gejala, pertanyaan-pertanyaan terkait, dan tindakan apa saja yang sudah dilakukan sebelum menemui dokter. Terangkan juga mengenai sejarah penyakit Anda atau riwayat kesehatan keluarga agar dokter dapat lebih memahami dan mengenali gejala yang Anda alami sehingga mudah untuk mendapatkan diagnosis.

  • Diagnosa karsinoma nasofaring terdiri dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kondisi dan penyebaran (stadium) sel kanker.
  • Ruwayat gejala dan tanda yang dialami penderita, faktor risiko, dan riwayat kesehatan keluarga yang mungkin berhubungan dengan karsinoma faring.
  • Pemeriksaan fisik dilakukan dengan mengecek keadaan fisik leher untuk meraba pembengkakan pada kelenjar getah bening. Selain itu, pemeriksaan akan dimulai dari pemeriksaan fisik umum, mulut, pemeriksaan menyeluruh pada area kepala dan leher. 
  • Pemeriksaan kamera endoskopi untuk melihat ke dalam nasofaring pasien. Pemeriksaan ini dilakukan dengan metode endoskopi melalui hidung setelah pembiusan lokal untuk mencari kejanggalan pada kondisi nasofaring. Jika belum terdapat data-data pendukung diagnosis yang cukup, dokter akan mengambil contoh jaringan dengan metode yang sama untuk memastikan adanya sel kanker di laboratorium.
  • Beberapa pemeriksaan tambahan mungkin akan dilakukan begitu diagnosis karsinoma nasofaring didapatkan. Pemeriksaan ini terdiri dari CT scan, MRI scan, X-ray, dan tes pencitraan PET (positron emission tomography).. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut ditujukan untuk mencari tahu tahapan penyebaran sel kanker yang dimulai dari stadium I hingga stadium IV. Tahapan ini akan membantu menentukan rencana pengobatan dan peluang kesembuhan pasien. Stadium rendah menunjukkan ukuran kanker yang kecil dan masih berada di area nasofaring. Namun stadium tinggi menandakan bahwa kanker telah menyebar ke luar nasofaring, bisa ke leher atau area tubuh lain.

  • Pengobatan karsinoma nasofaring atau kanker karsinoma melibatkan beberapa jenis terapi, seperti kemoterapi, radiasi, atau gabungan keduanya. Tiap pilihan terapi memiliki kelebihan dan keuntungan tersendiri yang dapat didiskusikan secara langsung dengan dokter yang menangani kondisi pasien.
  • Sebuah rencana pengobatan dapat dibuat berdasarkan stadium, tujuan pengobatan, kondisi kesehatan pasien, dan efek samping pengobatan yang dapat ditoleransi oleh pasien. Beberapa jenis pengobatan yang mungkin dilakukan adalah:

Terapi radiasi

  • Radiasi X-ray atau proton berkekuatan tinggi diarahkan langsung ke bagian tubuh yang menjadi target penyinaran untuk membunuh sel kanker atau tumor pada nasofaring. Terapi radiasi ini dinamakan external beam radiation (radiasi cahaya eksternal). Efek samping yang mungkin ditimbulkan adalah kulit kemerahan yang bersifat sementara, mulut kering, dan berkurangnya fungsi pendengaran. Terapi radiasi yang dikombinasikan dengan obat-obatan kemoterapi dapat menyebabkan efek samping berupa radang pada mulut dan tenggorokan sehingga pasien dapat mengalami kesulitan ketika makan.
  • Terapi sinar radiasi lainnya yang digunakan adalah brachytherapy yang umumnya digunakan pada kasus karsinoma nasofaring yang kambuh. Terapi ini dilakukan dengan cara menempatkan kabel beraliran radioaktif sangat dekat atau langsung pada tumor.

Kemoterapi

  • Terapi yang menggunakan obat-obatan sebagai pembasmi sel kanker ini dapat diberikan dalam bentuk pil, disuntikkan melalui pembuluh nadi, atau keduanya. Jenis, dosis, dan efek samping dari obat-obatan kemoterapi akan bergantung dari jenis obat yang diberikan oleh dokter. Terapi ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
  • Kemoterapi sebelum terapi radiasi, atau kemoterapi neoajuvan, yaitu pemberian obat-obatan kemoterapi sebelum terapi radiasi atau terapi kemoradiasi. Tingkat kesuksesan terapi ini masih perlu diteliti lebih lanjut.
  • Kemoterapi bersamaan dengan terapi radiasi, atau terapi kemoradiasi, yaitu pemberian obat-obatan pembasmi kanker secara bersamaan dengan radiasi untuk meningkatkan efektivitas terapi radiasi. Efek samping yang mungkin muncul adalah gabungan dari efek samping kedua jenis terapi ini sehingga pasien berkemungkinan sulit untuk menoleransi dampaknya.
  • Kemoterapi setelah terapi radiasi, yaitu pemberian obat-obatan pembasmi kanker setelah terapi radiasi atau kemoradiasi untuk membasmi sisa-sisa sel kanker dalam tubuh pasien termasuk yang sudah menyebar ke tubuh lain. Metode ini masih menuai kontroversi tentang apakah pengobatan kemoterapi tambahan memang memperbaiki peluang kesembuhan dari pasien karsinoma nasofaring. Pada umumnya, efek samping yang berat dan sulit untuk ditoleransi pasien menjadi penyebab pengobatan ini harus dihentikan.

Pembedahan

  • Terapi pembedahan jarang dilakukan pada kasus karsinoma faring. Pembedahan biasanya dilakukan untuk mengangkat nodus limfa yang sudah diinvasi sel kanker. Dokter akan memindahkan sel kanker tersebut dengan cara membuat irisan pada langit-langit mulut pasien.
  • Pengobatan radioterapi karsinoma nasofaring dapat memicu mulut kering yang membuat pasien merasa tidak nyaman saat menelan makanan. Komplikasi pengobatan ini juga dapat memicu infeksi yang berisiko berdampak kepada kesehatan mulut dan gigi. Pasien yang memiliki kondisi mulut kering (xerostomia) mungkin akan mendapatkan rekomendasi perawatan maupun diet makanan untuk mengurangi memburuknya gejala yang dialami, dari dokter atau dokter gigi. Beberapa langkah pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, yaitu:
  • Berkumur dengan larutan garam dengan air hangat setelah makan. Gunakan campuran dari air hangat, garam, dan baking soda sebagai campuran cairan kumur.
  • Perbanyak minum air putih untuk menjaga kelembapan mulut. Anda juga bisa mengunyah permen atau permen karet bebas gula untuk merangsang kelenjar ludah menghasilkan air liur.
  • Perbanyak konsumsi makanan yang basah. Anda bisa menambahkan kuah, kaldu, mentega, atau susu pada makanan yang kering.
  • Hindari makanan yang asam, pedas, dan minuman yang tidak baik bagi kesehatan mulut, seperti minuman berkafein dan beralkohol.

Komplikasi 

  • Beberapa komplikasi yang bisa terjadi jika tidak segera mengobati karsinoma nasofaring, yaitu:
  • Kanker yang mengganggu jaringan sekitar. Kanker nasofaring yang tumbuh terlalu besar dapat mengganggu struktur di sekitarnya seperti tenggorokan, otak, dan tulang.
  • Meluasnya pertumbuhan sel kanker (metastase) sehingga merusak atau memengaruhi jaringan pada tenggorokan, tulang, dan otak.

Pencegahan 

  • Pencegahan karsinoma nas6ofaring dapat dimulai dengan mengurangi risiko Anda mengembangkan kondisi ini dalam tubuh, yaitu dengan menghindari kebiasaan yang berhubungan dengan pemicu kanker karsinoma. Misalnya, mengurangi konsumsi makanan yang diawetkan menggunakan teknik pengasinan dan secara alami, tidak merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol.
  • Anda juga bisa membuat jadwal pemeriksaan kesehatan rutin, seperti pemeriksaan darah untuk mendeteksi virus Epstein-Barr. Pemeriksaan darah sangat dianjurkan bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi terhadap penyakit ini. Salah satunya adalah tinggal di daerah dengan angka kasus karsinoma faring yang tinggi.

Kanker Vulva, Gejala dan Penanganannya

Kanker Vulva, Gejala dan Penanganannya

Kanker vulva adalah kanker yang menyerang permukaan luar daerah kemaluan wanita. Vulva adalah bagian organ seksual eksternal wanita yang merupakan area yang mengelilingi lubang kencing (urethra opening) dan vagina. Organ seksual eksternal wanita lainnya meliputi labia minora dan majora (“bibir” dalam dan luar yang menutupi vagina), klitoris, dan kelenjar Bartholin yang ada di kedua sisi vagina.

Kanker vulva muncul dalam bentuk benjolan atau luka di area vulva. Kanker ini lebih sering menyerang wanita yang lebih tua, umumnya yang telah mengalami menopause.

Terdapat dua jenis kanker vulva berdasarkan jenis sel yang terkena dampaknya. Jenis kanker ini juga berguna bagi dokter untuk menentukan jenis langkah pengobatan yang akan diambil.

  1. Vulva melanoma, yaitu sel kanker yang terbentuk di sel penghasil pigmen yang terdapat pada kulit vulva.
  2. Vulva karsinoma sel skuamus (vulvar squamous cell carcinoma), yaitu sel kanker yang terbentuk pada sel tipis, berpermukaan datar yang melapisi permukaan vulva. Sebagian besar kasus kanker vulva berasal dari jenis ini.

Beberapa tipe lainnya, yaitu:

  • Sel basal karsinoma, yaitu luka pada labia majora atau pada area lain di vulva, yang lama-lama berkembang menjadi kanker. Jika tidak segera diobati, luka ini dapat dengan mudah muncul kembali.
  • Karsinoma kelenjar Bartholin, yaitu tumor langka pada kelenjar Bartholin yang biasa menyerang wanita di usia pertengahan 60-an.
  • Adenocarcinoma dan sarcoma.

Penyebab 

  • Penyebab kanker secara umum masih belum diketahui dengan jelas, demikian juga dengan kanker vulva. Para ahli masih mencari tahu pemicu sel-sel bermutasi menjadi sel kanker dan berkembang dengan begitu cepat. Sel yang membelah diri akan terus bertambah dengan melipat-gandakan jumlah hingga membentuk tumor, kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Sel kanker dan tumor akan terus tumbuh dan membelah diri sementara sel yang sehat akan mati.
  • Walau belum diketahui penyebabnya, beberapa faktor berikut adalah kondisi yang dapat meningkatkan timbulnya kanker vulva, yaitu:
  1. Merokok.
  2. Pertambahan usia. Risiko kanker vulva umumnya meningkat pada usia 65 tahun ke atas dan mereka yang berada pada masa menopause. Kasus ini jarang ditemui pada wanita berusia di bawah 50 tahun yang belum mengalami menopause.
  3. Terpapar infeksi HPV (human papillomavirus), salah satu penyakit menular seksual yang banyak ditemui pada wanita yang aktif secara seksual. Umumnya infeksi HPV dapat mereda dengan sendirinya. Pada sebagian kasus lainnya penyakit ini, sel yang terinfeksi dapat bermutasi dan berkembang menjadi sel kanker.
  4. Terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus) yang melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menjadikan penderita rentan terhadap infeksi HPV.
  5. Menderita gangguan pada kulit di area vulva, misalnya penyakit Lichen Sclerosus.
  6. Pernah berada dalam kondisi prakanker vulva, atau vulvar intraepithelial neoplasia (VIN), yang bisa berkembang menjadi kanker vulva. VIN adalah kondisi ketika sel mengalami perubahan yang tidak menjurus kepada kanker. Meski pada kebanyakan kasus yang pernah terjadi, kondisi ini dapat menghilang dengan sendirinya, namun pada kenyataannya dapat juga berkembang menjadi sel kanker.

  • Kanker vulva bisa menyebabkan gatal-gatal yang sangat mengganggu di area vulva. .
  • Perdarahan yang bukan berasal dari menstruasi.
  • Perubahan pada kondisi kulit, seperti warna dan ketebalan kulit. Kulit dapat berwarna merah, putih, atau menggelap.
  • Terdapat tahi lalat di area vulva yang berubah bentuk atau warna.
  • Benjolan yang menyerupai jerawat, bisul, atau luka terbuka.
  • Nyeri atau sensitif terhadap rasa sakit di area panggul, terutama ketika berhubungan seksual.
  • Terasa perih, khususnya ketika sedang kencing.
  • Sebanyak 50 persen kasus kanker vulva menyerang labia mayor (“bibir” bagian luar dari alat kemaluan perempuan), diikuti dengan labia minor (“bibir” bagian dalam). Segera temui dokter jika Anda merasakan gejala-gejala seperti di atas.

Selain untuk memastikan keberadaan sel kanker pada vulva, diagnosis kanker vulva juga dilakukan untuk mengetahui sejauh mana sel kanker telah berkembang atau menyebar. Setelah informasi berupa gejala, riwayat medis pribadi dan keluarga dikumpulkan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik penderita. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah ada kelainan di area vulva.
Beberapa tes dan prosedur yang digunakan untuk mendiagnosis kanker vulva, antara lain:

  • Pemeriksaan lebih mendetail pada vulva menggunakan alat kaca pembesar untuk mencari tanda-tanda kanker vulva pada area ini. Pemeriksaan ini disebut kolposkopi.
  • Pemeriksaan sistoskopi yang dilakukan menggunakan sebuah tabung kecil disertai kamera dan lampu yang dimasukkan ke kandung kemih.
  • Melakukan biopsi kemudian memeriksa sampel yang telah diambil dari vulva, atau kelenjar getah bening, untuk mencari tanda-tanda kanker. Penderita biasanya diberikan bius lokal di daerah yang akan dibiopsi. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan atau tanpa jahitan, tergantung dari ukuran sampel yang diambil.
  • Pemeriksaan pada area panggul, untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar ke area ini.
  • Pemeriksaan dengan menggunakan X-ray, CT scan, MRI scan, dan PET scan, pada area dada, paru-paru, kelenjar getah bening, perut atau organ lain, untuk mengetahui penyebaran kanker di area ini.
  • Setelah diagnosis didapatkan, dokter akan menentukan stadium kanker yang akan membantu dalam pemilihan langkah pengobatan. 

Tingkatan stadium kanker vulva meliputi:

  • Stadium 1 – Kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening atau area tubuh lainnya. Terdapat tumor kecil pada vulva atau kulit di antara area vagina dan anus (perineum).
  • Stadium 2 – Berbeda dengan stadium 1, pada tingkatan ini, tumor telah merambat ke area sekitarnya. Area-area yang dimaksud adalah pada bagian bawah saluran kencing (urethra), vagina, dan anus.
  • Stadium 3 – Penyebaran kanker pada stadium ini secara spesifik telah menjalar ke kelenjar getah bening.
  • Stadium 4A – Kanker telah menyebar ke area yang lebih luas di kelenjar getah bening, atau ke bagian atas urethra atau vagina, atau ke kandung kemih, dan rektum/dubur. Selain itu, area tulang panggul telah terkena dampak penyebaran sel kanker.
  • Stadium 4B – Kanker telah menyebar atau bermestastase ke anggota tubuh lain yang tidak hanya berada di dekat vulva.

  • Salah satu langkah pengobatan kanker vulva adalah prosedur pengangkatan kanker dan sejumlah jaringan sehat di sekitar vulva (biasanya sekitar 1 sentimeter) atau bedah radial eksisi luas. Namun ada juga kasus kanker vulva yang mengharuskan vulva diangkat seluruhnya, termasuk klitoris dan jaringan di bawahnya yang bernama vulvektomi radikal.
  • Prosedur pengangkatan vulva memiliki risiko mengalami infeksi hingga kemunculan rasa tidak nyaman saat duduk untuk waktu yang lama. Anda mungkin tidak akan bisa merasakan area kemaluan dan tidak bisa mencapai orgasme ketika melakukan hubungan seksual.
  • Makin awal kanker vulva bisa terdiagnosis, makin kecil juga kemungkinan diperlukannya prosedur ini. Berikut adalah beberapa prosedur pengangkatan kanker vulva lainnya.
  • Vulvektomi parsial. Pada prosedur ini, hanya sebagian vulva dan jaringan di bawahnya yang diangkat.
  • Prosedur pelvic exenteration untuk kanker stadium lanjut. Prosedur ini dilakukan jika kanker telah menyebar ke luar dari vulva kepada organ lainnya, dengan cara mengangkat seluruh bagian vulva dan organ yang terkait, misalnya usus besar. Sebuah lubang akan dibuat di perut (stoma) agar kotoran atau urine bisa dimasukkan ke dalam kantong ostomi. Tindakan ini termasuk ke dalam operasi besar yang saat ini sudah tidak banyak dilakukan lagi.
  • Prosedur rekonstruksi. Prosedur pengangkatan kanker pada area yang lebih luas biasanya meninggalkan luka lebar yang tidak bisa menutup dengan sendirinya. Hal ini terjadi pada kanker yang telah menyebar hingga jaringan di sekitarnya. Pada kasus ini, dokter akan melakukan bedah rekonstruksi dengan mengambil kulit dari bagian tubuh lain untuk menutup area tersebut.
  • Selain pengangkatan vulva, prosedur pengangkatan kelenjar getah bening juga dapat dilakukan pada saat yang sama jika kanker telah menyebar ke area ini. Proses ini menyebabkan cairan tertahan dan terjadi pembengkakan pada kaki yang disebut limfedema.
  • Kelenjar getah bening juga bisa diangkat melalui operasi kelenjar getah bening sentinel (sentinel node biopsy) dengan cara mengambil contoh kelenjar getah bening yang mudah terinfeksi, lalu mengetesnya atas keberadaan sel kanker. Jika tidak ada sel kanker yang ditemukan, maka ada kemungkinan kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening lainnya.
  • Seperti pengobatan kanker lainnya, kanker vulva juga bisa ditangani dengan kemoterapi, terapi radiasi, atau gabungan dari keduanya.
  • Kemoterapi. Penderita kanker vulva dengan penyebaran sel kanker di area tubuh lain dapat memilih langkah ini untuk membantu membunuh sel kanker. Obat-obatan bisa dikonsumsi atau dimasukkan melalui pembuluh darah di lengan. Kemoterapi yang dikombinasikan dengan terapi radiasi umumnya bertujuan memperkecil kanker demi mempermudah prosedur pembedahan.
  • Terapi radiasi. Selain mengecilkan sel kanker, terapi radiasi juga digunakan pada kasus sel kanker yang telah menyebar ke kelenjar getah bening setelah menjalani operasi. Terapi dilakukan dengan cara memaparkan energi berkekuatan tinggi, seperti X-ray, ke area yang telah ditentukan di permukaan kulit.
  • Pemeriksaan kesehatan rutin setelah penanganan kanker vulva akan tetap diperlukan untuk memantau kondisi pasien dan memastikan sel kanker tidak terbentuk kembali. Oleh karena itu sangat penting untuk memeriksakan diri secara teratur pasca pengobatan.

Pencegahan 

  • Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin (medical check-up) dapat membantu Anda memonitor kesehatan sekaligus mendeteksi penyakit yang tidak diketahui sebelumnya. Diskusikan bersama dokter mengenai rentang waktu yang ideal untuk melakukan medical check-up secara rutin. Anda juga bisa berkonsultasi tentang jadwal pemeriksaan panggul. Prosedur pemeriksaan panggul akan memberikan informasi mengenai kondisi organ reproduksi dalam Anda.
  • Beberapa langkah pencegahan yang juga bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kanker vulva maupun penyakit menular seksual seperti HPV atau HIV adalah:
  1. Menggunakan kondom tiap melakukan hubungan seksual.
  2. Membatasi jumlah atau tidak bergonta-ganti pasangan seksual.
  3. Memperoleh vaksin HPV. Vaksin ini dapat mengurangi risiko perkembangan kanker vulva dan direkomendasikan bagi anak perempuan yang berusia 12-13 tahu.

Gejala dan Penanganan Rhabdomyosarcoma

Gejala dan Penanganan Rhabdomyosarcoma

Rhabdomyosarcoma atau RMS atau ‘rhabdo’ adalah sel kanker yang tumbuh dari jaringan lunak tubuh, seperti jaringan otot dan jaringan ikat. Kanker ini umumnya terbentuk di kepala, leher, testis, prostat, vagina, kandung kemih, lengan dan tungkai. Rhabdomyosarcoma umumnya menyerang anak laki-laki yang berusia di bawah 10 tahun dan jarang menimpa orang dewasa.

Penyebab 

  • Hingga saat ini penyebab pasti rhabdomyosarcoma belum diketahui. 

Fakto Resiko kelainan genetik bawaan

  • Neurofibromatosis, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan tumbuhnya tumor pada jaringan saraf.
  • Sindrom Li-fraumeni, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan seseorang, terutama anak dan remaja dewasa menjadi rentan terhadap pertumbuhan beberapa jenis kanker.
  • Sindrom Costello dan sindrom Noonan, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan kelainan bentuk anggota tubuh (deformitas), keterbelakangan mental, dan gangguan lainnya.
  • Sindrom Beckwith-Wiederman, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan secara berlebihan pada bayi.
  • Sindrom Rubinstein-Taybi, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan kelainan pada penampilan fisik, seperti ibu jari dan jari kaki yang melebar, fitur wajah yang khas, hingga cacat intelektual.
  • Sindrom Gorlin Basal Cell Nevus, adalah suatu kondisi yang menyebabkan pemiliknya menjadi rentan terhadap kanker kulit non-melanoma.
  • Beberapa faktor lingkungan juga dapat meningkatkan risiko terkena rhabdomyosarcoma, seperti kondisi intrauterin (di dalam rahim) yang sering terpapar X-ray, penggunaan obat antikanker jenis tertentu, dan orang tua yang mengonsumsi kokain atau mariyuana.

Jenis rhabdomyosarcoma 

  • Alveolar RMS, yaitu jenis rhabdomyosarcoma yang umum terjadi pada pasien remaja dan sering menjangkiti area lengan, tungkai, dada, atau perut. Kondisi ini membutuhkan perawatan yang intensif karena tumor dapat berkembang dengan cepat. Jenis ini sulit ditangani.
  • Pleomorphic RMS, yaitu jenis rhabdomyosarcoma yang menyerang pasien dewasa dan menjangkiti area otot di lengan dan tungkai.
  • Embryonal RMS, yaitu jenis rhabdomyosarcoma yang umum menjangkiti area kepala, leher, genital, atau saluran kemih. Kondisi ini menyerang pasien yang berusia di bawah enam tahun dan tergolong agresif, namun biasanya membaik dengan terapi yang diberikan.
  • Botryoid, yaitu jenis embryonal RMS yang menyerang orang dewasa dengan perwujudan berbentuk anggur di area vagina atau kandung kemih.

  • Rhabdomyosarcoma memiliki gejala yang berbeda untuk lokasi yang berbeda pula. Sebuah benjolan tumor dapat terlihat atau sebaliknya berada di dalam tubuh sehingga tidak menunjukkan gejala yang signifikan atau bahkan tidak ada.

Berikut adalah gejala yang mungkin muncul pada area tubuh tertentu:

  • Kepala, dapat memiliki gejala berupa sakit kepala, kelopak mata yang turun, atau mata yang menonjol.
  • Prostat, gejala yang muncul berupa gangguan pada usus maupun kandung kemih.
  • Vagina, gejala yang muncul berupa pertumbuhan massa polypoid (polip).
  • Paratestikular, gejala yang muncul berupa benjolan pada skrotum yang tidak terasa nyeri.
  • Rahim dan leher rahim, gejala yang muncul berupa pendarahan menstruasi berlebih (menorrhagia) atau siklus haid yang menjadi tidak teratur (metrorrhagia).
  • Kandung kemih, gejala yang muncul dapat berupa kencing mengandung darah (hematuria).
  • Lengan dan tungkai/ekstremitas, gejala yang muncul berupa benjolan yang tidak terasa nyeri.
  • Area sekitar mata/orbit, gejala yang muncul berupa penonjolan bola mata dan gerakan bola mata yang tidak normal.
  • Parameningeal (area telinga, rongga hidung, rongga sinus di dekat hidung, fossa infratemporal, dan pterigopalatina), gejala yang muncul berupa sakit atau nyeri pada saluran pernapasan atas.
  • Gejala yang timbul akibat penyebaran sel kanker dari organ asalnya juga dapat muncul dalam bentuk rasa sakit atau ngilu pada tulang, anemia, sesak napas, trombositopenia, dan neutropenia.

  • Untuk memastikan rhabdomyosarcoma, dokter akan melaksanakan serangkaian tes pemeriksaan. Beberapa tes seperti pemeriksaan darah lengkap dapat membantu memberikan informasi apakah pasien menderita anemia. Tes darah untuk memeriksakan fungsi hati (LFT) akan memberikan petunjuk mengenai apakah penyakit ini sudah mengenai organ hati.
  • Pemeriksaan pada sampel urine (urinalisis) penderita mungkin bisa dilakukan untuk mendeteksi sel darah merah (hematuria) pada saluran kemih, mengecek kadar elektrolit, dan fungsi saluran kemih.
  • Pemeriksaan scan tulang mungkin dilakukan untuk mengecek penyebaran sel kanker pada bagian tersebut. Analisis sumsum tulang juga mungkin dilakukan untuk memeriksa penyebaran ke sumsum tulang. Selain itu, dapat dilakukan pula prosedur biopsi dan analisis molekul. Pemeriksaan lainnya adalah ultrasonografi, CT scan/MRI, PET, dan tes pencitraan radiologi lainnya.

Rhabdomyosarcoma memiliki beberapa tahap pertumbuhan dan penyebaran yang terbagi menjadi empat stadium.

  • Stadium 1, penyakit hanya muncul di area leher, orbit, kepala, namun bukan pada area parameningeal, area genital dan saluran kemih, atau saluran empedu.
  • Stadium 2, penyakit hanya muncul di area selain area stadium 1 dengan ukuran tumor sebesar 5 cm atau lebih kecil dan belum memengaruhi kelenjar getah bening.
  • Stadium 3, penyakit hanya muncul di area selain area stadium 1 dengan tumor berukuran 5 cm atau lebih besar dan telah memengaruhi kelenjar getah bening.
  • Stadium 4, telah terjadi metastase atau penyebaran sel kanker ke organ lain saat diagnosis diperoleh.

  • Meski memiliki penyebab yang belum diketahui dengan jelas, penyakit rhabdomyosarcoma dapat disembuhkan jika gejalanya dapat dikenali dan ditangani sejak dini. Penanganan untuk rhabdomyosarcoma dapat meliputi operasi untuk mengangkat massa tumor, pemberian kemoterapi, dan radioterapi.
  • Operasi dilakukan pada tumor yang memungkinkan untuk diangkat. Namun, prosedur ini mungkin tidak dapat dilakukan pada tumor yang letaknya di bagian dalam tubuh atau pada kasus yang cukup parah. Rhabdoyosarcoma yang parah dapat membutuhkan tindakan amputasi untuk mengangkat tumor atau memutus jaringan yang terinfeksi.
  • Rhabdomyosarcoma yang tidak segera ditangani memiliki faktor risiko kepada perkembangan penyakit lain, seperti kardiomiopati, metastase sel kanker ke organ tubuh lain, gangguan pada paru-paru, dan gangguan sistem metabolik.

Pencegahan 

  • Rhabdomyosarcoma pada pasien anak belum memiliki langkah pencegahan yang diketahui secara pasti. Menghibur pasien rhabdomyosarcoma dapat menjadi bentuk dukungan yang bermanfaat bagi pasien dan keluarga.
  • Memastikan pasien mendapatkan segala informasi dan dukungan yang diperlukan dapat membantu mereka melalui masa-masa pengobatan tanpa harus merasa sendirian.

Gejala dan Penanganannya Kanker Tulang Osteosarcoma

Gejala dan Penanganannya Osteosarcoma

Osteosarcoma adalah salah satu jenis kanker tulang paling sering dijumpai yang menyerang remaja berusia 20 ke bawah dan anak-anak. Kanker tulang jenis ini umumnya menyerang tulang-tulang berukuran besar pada bagian yang memiliki tingkat pertumbuhan tercepat. Osteosarcoma biasanya berkembang di masa remaja karena pada periode ini pertumbuhan tulang berada dalam fase paling cepat. Jadi risiko seseorang mengidap osteosarcoma meningkat pada masa pertumbuhan tulang.

Osteosarcoma termasuk kanker agresif, namun mayoritas pasien bisa disembuhkan dengan kombinasi beberapa metode pengobatan. Pada rentang usia 0-24 tahun, pria memiliki risiko terkena osteosarcoma lebih besar daripada wanita.

  • Rasa nyeri dan sakit pada tulang atau persendian.
  • Terbatasnya gerakan tubuh.
  • Sakit ketika disentuh, pembengkakan, atau benjolan di sekitar tulang atau pada ujung tulang.
  • Pincang, jika benjolan tumor berada di kaki.
  • Retaknya tulang yang disebabkan oleh sesuatu tidak normal atau patah tulang pada gerakan rutin.
  • Rasa nyeri ketika mengangkat sesuatu. Ini terjadi jika benjolan berada di bagian tangan.
  • Biasanya tulang yang terkena oleh osteosarcoma adalah tulang paha, tulang kering, dan tulang lutut. Tumor juga bisa terbentuk pada tulang bahu, tulang panggul, atau tulang rahang.

Penyebab

  • Kondisi yang menyebabkan berkembangnya osteosarcoma berasal dari kesalahan kode genetik pada DNA seorang anak. Kesalahan kode tersebut menyebabkan sel-sel yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan tulang justru menciptakan tumor osteosarcoma.
  • Pada beberapa kasus, osteosarcoma juga bisa disebabkan. Satu-satunya faktor dari luar yang bisa menyebabkan munculnya osteosarcoma adalah paparan radiasi.

  • Diagnosis merupakan langkah dokter untuk mengidentifikasi penyakit atau kondisi yang menjelaskan gejala dan tanda-tanda yang dialami oleh pasien. Untuk mendiagnosis osteosarcoma, dokter akan melakukan beberapa hal berikut:
  • Tes darah. Fungsi tes darah adalah untuk mendeteksi kanker tulang dari perubahan kandungan darah. Gambaran hasil pemeriksaan darah juga dapat membedakan apakah kondisi Anda berupa osteosarcoma atau radang sendi.
  • Pemindaian tulang. Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan bahan radioaktif ke pembuluh darah. Tulang normal akan lebih lambat menyerap bahan radioaktif dibanding tulang bermasalah. Kemudian dilakukan sinar X untuk melihat perbandingan penyerapan bahan radiokatif.
  • CT scan. Tes ini berfungsi memberi informasi penyebaran kanker tulang ke organ lainnya.
  • MRI scan. Hasil prosedur ini dapat menghasilkan gambar tulang lebih detail serta informasi penyebaran kanker tulang.
  • Positron emission tomography. Tes ini akan menunjukkan bagaimana organ atau jaringan tubuh bekerja dengan memanfaatkan bahan radioaktif.
  • Pencitraan sinar X.
  • Biopsi. Jika pada tes pencitraan ditemukan tanda-tanda osteosarcoma, maka pasien membutuhkan biopsi. Ahli bedah akan mengambil sampel jaringan atau tulang dari bagian tubuh yang terasa nyeri atau membengkak.
  • Biasanya osteosarcoma bisa diketahui sejak awal. Anak-anak atau remaja akan mengatakan tentang rasa sakit yang dirasakan, atau bisa juga karena orang tua melihat adanya pembengkakan dan cara berjalan yang timpang.

  • Cara pengobatan osteosarcoma bergantung dari tingkat keparahan dan lokasi osteosarcoma. Tindakan pengobatan juga dilakukan setelah proses biopsi tumor selesai. Umumnya, osteosarcoma ditangani dengan beberapa tindakan yaitu:
  • Pembedahan. Tindakan ini dilakukan untuk mengangkat tumor.
  • Terapi radiasi dan kemoterapi. Biasanya kedua tindakan ini dilakukan sebelum pembedahan, untuk membunuh sel kanker. Bedanya, kemoterapi menggunakan obat-obatan, sedangkan terapi radiasi menggunakan pancaran sinar X.
  • Operasi pengangkatan tulang dan amputasi. Prosedur ini bisa dilakukan jika belum terjadi penyebaran kanker ke luar dari tulang atau jika kanker baru menyebar di jaringan sekitar tulang. Sedangkan amputasi akan dilakukan jika kanker sudah menyebar hingga saraf, pembuluh darah, dan kulit.

Gejala dan Penanganan Kanker Pankreas

Gejala dan Penanganan Kanker Pankreas

Kanker pankreas adalah penyakit yang disebabkan oleh tumbuhnya tumor di dalam pankreas. Pankreas adalah sebuah kelenjar besar yang merupakan bagian dari sistem pencernaan dan memiliki panjang sekitar 15 cm. Kanker pankreas bisa dialami oleh pria maupun wanita, dan biasanya terjadi pada orang-orang yang berusia lanjut atau di atas 75 tahun.

Pankreas memiliki fungsi yang penting bagi tubuh karena memproduksi enzim pencernaan yang berfungsi menguraikan makanan agar dapat diserap oleh tubuh. Selain itu, pankreas juga memproduksi hormon, termasuk insulin, yang berfungsi menjaga kestabilan kadar gula darah dalam tubuh.

  • Kanker pankreas pada tahap awal biasanya tidak menimbulkan gejala dan oleh karena itu diagnosis menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Gejala kanker pankreas pada tahap lanjut tergantung bagian kelenjar pankreas yang terjangkit karena pankreas memiliki dua jenis jaringan kelenjar. Pertama adalah kelenjar yang memproduksi enzim pencernaan atau disebut dengan kelenjar eksokrin. Kedua adalah kelenjar yang memproduksi hormon, atau disebut juga dengan kelenjar endokrin.
  • Kelenjar eksokrin merupakan kelenjar yang paling sering terjangkit kanker pankreas dengan gejala yang umumnya terjadi seperti penyakit kuning, kehilangan berat badan, dan nyeri punggung atau nyeri perut.

Selain beberapa gejala yang disebutkan di atas, ada beberapa gejala kanker pankreas lain seperti berikut:

  • Diabetes
  • Demam dan menggigil
  • Gatal
  • Darah mudah menggumpal
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pencernaan
  • Perubahan pola buang air besar
  • Hilangnya selera makan
  • Demam

Penyebab 

  • Sampai saat ini penyebab seseorang terkena kanker pankreas masih belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang terkena kanker pankreas seperti berikut ini.
  • Diabetes dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker pankreas. Sebaliknya, tumor ganas yang tumbuh di pankreas juga bisa menjadi penyebab terjadinya diabetes.
  • Bakteri helicobacter pylori yang menyebabkan infeksi lambung diperkirakan dapat sedikit meningkatkan risiko seseorang terkena kanker pankreas.
  • Merokok dapat meningkatkan risiko terjangkit kanker pankreas karena racun dan zat kimia berbahayanya bisa menyebabkan jaringan dan organ dalam tubuh mengalami iritasi dan peradangan.
  • Berusia di atas 75 tahun.
  • Orang-orang yang tidak banyak melakukan aktivitas fisik, memiliki kelebihan berat badan atau obesitas, dan tidak membiasakan pola makan yang sehat.

Pernah menderita peradangan pada pankreas atau pankreatitis.

  • Memiliki anggota keluarga dekat yang menderita kanker pankreas.
  1. Selain faktor-faktor risiko seperti yang disebutkan di atas, ada juga faktor risiko lainnya yang bisa meningkatkan risiko terjangkit kanker pankreas, yaitu orang-orang yang banyak mengonsumsi minuman beralkohol berlebihan dan penderita hepatitis kronis.


Diagnosis kanker pankreas pada tahap awal sulit untuk dilakukan karena sering tidak menimbulkan gejala pada penderita. Pemeriksaan fisik untuk memeriksa kanker pankreas sulit untuk dilakukan karena letak pankreas cukup tersembunyi di dalam tubuh dan dikelilingi bagian dari usus.

Pemeriksaan untuk mendiagnosis kanker pankreas:

  • Tes pencitraan organ dalam tubuh seperti ultrasound scan, CT, MRI, dan PET scan. Selain itu, endoluminal ultrasonography (EUS) juga dapat dilakukan jika CT scan atau MRI scan yang telah dilakukan masih kurang jelas. Endoskop atau alat kamera kecil akan dimasukkan melalui mulut menuju lambung untuk memotret kondisi pankreas.
  • Laparoskopi atau pembedahan ‘lubang kunci’ di daerah perut untuk memasukkan mikroskop kecil yang disebut dengan laparoskop , untuk melihat organ-organ di dalam rongga perut dan panggul.
  • Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) hampir sama dengan EUS, yaitu proses memasukkan endoskop melalui mulut dan menuju lambung. Namun endoskop dalam proses ERCP digunakan untuk menyuntikkan pewarna khusus ke saluran pankreas dan empedu guna mengetahui keberadaan tumor yang menyumbat. Tes ini dilakukan jika seseorang menderita penyakit kuning.
  • Biopsi atau proses pengambilan sampel sel yang dicurigai sebagai tumor untuk diperiksa di bawah mikroskop. Alat kecil yang menempel pada endoskop dapat digunakan untuk biopsi saat melakukan prosedur laparoskopi, ERCP atau EUS.

Tahapan kanker terbagi atas empat tahap atau yang biasa disebut dengan stadium. Dokter akan menggolongkan stadium kanker berdasarkan diagnosis yang telah dilakukan. Di bawah ini adalah penggolongan stadium kanker pankreas:

  1. Kanker hanya terdapat di pankreas dan belum menyebar ke bagian lain, disebut dengan stadium I.
  2. Kanker telah menyebar ke jaringan dan organ tubuh yang dekat dengan pankreas, atau mungkin telah menjangkiti kelenjar getah bening, disebut dengan stadium II.
  3. Kanker telah menyebar lebih ke pembuluh darah besar di sekitar pankreas dan mungkin telah menjangkiti nodus limfa, disebut dengan stadium III.
  4. Kanker telah menyebar luas ke organ tubuh lain seperti paru-paru, hati, serta peritoneum atau membran yang melapisi rongga perut, disebut dengan stadium IV.


Perawatan kanker pankreas pada tiap pasien berbeda-beda karena ada beberapa faktor yang menentukan jenis perawatan yang dilakukan seperti berikut ini:

  • Bagian pankreas yang terjangkit kanker.
  • Luas penyebaran kanker atau stadium yang diderita.
  • Usia pasien.
  • Kesehatan pasien secara menyeluruh.
  • Pilihan atau preferensi perawatan pasien.

Perawatan pada pasien kanker pankreas bertujuan untuk mengangkat tumor dan sel kanker lainnya di dalam tubuh. Namun jika hal ini tidak memungkinkan untuk dilakukan, maka dokter akan melakukan perawatan yang bertujuan untuk mencegah tumor tumbuh lebih besar karena bisa menyebabkan munculnya bahaya lebih lanjut. Selain itu, perawatan yang dilakukan berguna untuk meredakan gejala yang dialami, dan membuat pasien bisa merasa nyaman.

Perawatan atau proses penyembuhan kanker akan jauh lebih sulit jika tumor yang muncul di dalam tubuh berukuran besar atau telah menyebar. Diskusikan dengan dokter dan anggota keluarga untuk memilih jenis perawatan yang sesuai dengan kondisi yang Anda alami. Berikut ini adalah beberapa jenis perawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker pankreas.
Operasi

  • Jenis perawatan kanker pankreas yang paling banyak dilakukan adalah dengan melakukan operasi karena bisa mengobati kanker pankreas hingga sembuh sepenuhnya. Namun tidak semua penderita kanker pankreas bisa melakukan operasi, hanya 1 dari 5 pasien yang cocok untuk melakukan operasi pengangkatan tumor.
  • Ada beberapa faktor yang dapat menentukan keberhasilan operasi pengangkatan tumor, antara lain:
  1. Tumor belum menyebar ke bagian tubuh lain.
  2. Tumor tidak tumbuh di sekitar pembuluh darah yang penting.
  3. Pasien memiliki kesehatan yang baik secara menyeluruh.

Jenis operasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kanker pankreas:

  • Operasi yang paling banyak dilakukan adalah operasi Whipple, yaitu untuk mengangkat kepala pankreas. Dalam operasi ini, dokter juga mungkin mengangkat bagian pertama usus kecil, kantong empedu, bagian saluran empedu, dan terkadang sebagian dari lambung. Sekitar 30 persen pasien yang telah melakukan operasi Whipple memerlukan obat enzim untuk membantu mencerna makanan. Operasi ini memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat dibandingkan operasi pengangkatan pankreas total.
  • Operasi pancreatectomy total untuk mengangkat seluruh pankreas. Selain itu, operasi ini juga mengangkat organ limpa, saluran empedu, sebagian usus kecil, kantong empedu, kelenjar getah bening sekitar pankreas, dan terkadang sebagian dari lambung. Pasien yang telah melakukan operasi ini perlu mengonsumsi enzim untuk membantu mencerna makanan. Pengangkatan organ pankreas yang berfungsi memproduksi insulin akan membuat pasien menderita diabetes juga. Selain itu, pasien harus mengonsumsi antibiotik penisilin seumur hidup dan vaksinasi rutin untuk mencegah terkena infeksi dan penggumpalan darah akibat pengangkatan organ limpa.
  • Operasi pancreatectomy distal untuk mengangkat bagian tubuh dan ekor pankreas tapi membiarkan kepala pankreas. Operasi ini juga mengangkat sebagian lambung, sebagian usus besar, ginjal sebelah kiri, kelenjar adrenal bagian kiri, dan kemungkinan diafragma bagian kiri juga akan diangkat.
  • Jika tidak bisa disembuhkan, operasi untuk meredakan gejala dan membuat pasien lebih nyaman bisa dilakukan. Operasi ini menggunakan ERCP untuk meletakkan stent atau tabung pembuka di dalam saluran empedu untuk mencegah penumpukan unsur bilirubin yang menyebabkan penyakit kuning. Operasi bypass yang menghambat saluran empedu dapat dilakukan jika penggunaan stent tidak cocok untuk pasien. Saluran empedu yang tersumbat akan dipotong bagian atasnya dan disambungkan kembali ke usus agar bisa menyalurkan cairan empedu.
  • Proses pemulihan pascaoperasi kanker pankreas harus diperhatikan karena memerlukan waktu yang panjang. 

Proses pemulihan pascaoperasi kanker pankreas:

  • Pastikan obat pereda sakit sesuai dan dalam dosis cukup untuk masa pascaoperasi.
  • Pasien tidak bisa segera makan atau minum setelah menjalani operasi karena sistem pencernaan seperti usus memerlukan waktu untuk pulih.
  • Sebelum pasien bisa makan dan minum secara lebih teratur, pasien akan menyesap cairan secara perlahan-lahan.
  • Serangkaian kemoterapi selama enam bulan biasanya disarankan setelah operasi. Hal ini sangat berdampak besar bagi peluang kesembuhan pasien.

Kemoterapi

  • Untuk membinasakan sel kanker ganas di dalam tubuh atau mencegah pertumbuhannya, pasien dapat melakukan kemoterapi dengan obat-obatan antikanker. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum atau setelah operasi, atau jika operasi tidak bisa dilakukan. Obat kemoterapi memiliki dua bentuk, yaitu yang dikonsumsi secara langsung dan yang diberikan melalui infus.
  • Kemoterapi memiliki banyak efek samping karena dapat menyerang sel-sel yang sehat dan normal. Efek samping yang dapat terjadi, antara lain sariawan, letih, mual, dan muntah. Selain itu, kemoterapi juga dapat meningkatkan risiko terkena infeksi. Efek samping yang dialami pasien akibat melakukan kemoterapi biasanya hanya sementara dan akan mereda begitu perawatan selesai dilakukan.
  • Risiko terkena efek samping akan meningkat jika pasien menjalani kombinasi pengobatan kemoterapi, namun hal ini bisa memperbesar kemungkinan untuk mengendalikan atau memperkecil kanker yang diderita.

Radioterapi

  • Untuk membantu memperkecil tumor dan meredakan rasa sakit yang diderita, pasien dapat melakukan terapi kanker menggunakan sinar radiasi energi tinggi yang disebut dengan radioterapi. Bagi pasien yang tidak bisa melakukan operasi untuk mengatasi kanker, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan perawatan kombinasi kemoterapi dan radioterapi.
  • Namun terapi ini memiliki beberapa efek samping, seperti hilangnya nafsu makan, mual, muntah, letih, diare, dan ruam kulit. Efek samping yang dialami pasien akibat melakukan radioterapi biasanya hanya sementara dan akan mereda begitu perawatan selesai dilakukan.

Gejala dan Penanganan Kanker Mulut

Gejala dan Penanganan Kanker Mulut

Kanker mulut adalah kanker yang tumbuh dan berkembang di dalam mulut. Misalnya pada bibir, lidah, gusi, dinding mulut, serta langit-langit mulut. Kanker ini dapat menyebar secara langsung ke jaringan-jaringan di sekitar mulut atau melalui kelenjar getah bening. Di antara seluruh kasus kanker yang muncul, diperkirakan hanya terdapat dua persen kanker mulut. Karena itu, jenis kanker ini termasuk kanker yang jarang terjadi.

Sebagian besar kanker mulut menyerang lansia berusia 50-75 tahun dan lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita. Tetapi kanker ini juga dapat terjadi pada kalangan dewasa muda, terutama akibat infeksi HPV (human papillomavirus).

Jenis Kanker Mulut

  • Kanker mulut yang paling umum terjadi adalah karsinoma sel skuamosa. Diperkirakan sekitar 90 persen pengidap kanker mulut menderita jenis ini.
  • Jenis kanker mulut lainnya adalah melanoma oral ganas dan adenokarsinoma. Melanoma oral ganas adalah kanker yang berkembang dari sel melanosit. Sedangkan adenokarsinoma adalah kanker yang menyerang kelenjar air liur.


Seperti kanker pada umumnya, gejala kanker mulut juga jarang dan sulit terdeteksi pada stadium awal. Karena itu, kita sebaiknya mewaspadai gejala-gejala umumnya yang meliputi:

  • Sariawan yang tidak kunjung sembuh.
  • Bercak kemerahan atau putih dalam mulut.
  • Benjolan atau penebalan pada dinding dalam mulut.
  • Rasa sakit dalam mulut, terutama lidah.
  • Sulit atau rasa sakit saat menelan serta mengunyah.
  • Gigi yang goyang tanpa penyebab yang jelas.
  • Perubahan suara.
  • Mengalami kesulitan saat bicara.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher.
  • Rahang yang terasa kaku atau sakit.
  • Sakit tenggorokan.
  • Gejala kanker mulut juga cenderung sulit dikenali karena sering kali mirip dengan indikasi penyakit lain yang lebih ringan. Tetaplah waspada dan segera periksakan diri ke dokter jika gejala-gejala tersebut tidak kunjung sembuh selama lebih dari dua minggu, terutama bagi perokok berat atau yang sering mengonsumsi minuman keras.

Penyebab 
Kanker mulut disebabkan oleh adanya perubahan pada perkembangan sel-sel dalam mulut atau bibir. Penyebab di balik mutasi ini belum diketahui secara pasti. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dipercaya dapat memicu kemunculan kanker ini. Di antaranya adalah:

  • Menggunakan segala jenis tembakau, seperti rokok, cerutu, serta tembakau kunyah.
  • Konsumsi minuman keras secara berlebihan.
  • Infeksi HPV (human papillomavirus).
  • Pola makan yang buruk.
  • Kebersihan mulut yang tidak terjaga, misalnya membiarkan gigi berlubang atau gusi yang mengalami infeksi.
  • Mengunyah buah pinang.

  • Dalam proses diagnosis, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang Anda alami serta memeriksa kondisi mulut Anda. Jika diduga mengidap kanker mulut, Anda akan dianjurkan untuk menjalani biopsi atau pengambilan sampel jaringan untuk memastikan ada atau tidaknya sel-sel kanker.
  • Pasien yang positif didiagnosis mengidap kanker mulut akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi stadium serta tingkat perkembangan kanker mulut yang dideritanya. Prosedur ini dapat dilakukan melalui endoskopi, rontgen, MRI scan, CT scan, serta PET scan.
  • Dengan mengetahui stadium serta tingkat perkembangan kanker yang diderita pasien, dokter dapat menentukan langkah pengobatan yang akan perlu dilakukan. Begitu juga dengan kondisi kesehatan pasien dan letak serta jenis kanker mulut yang dideritanya.
  • Kanker mulut stadium awal memiliki kemungkinan tertinggi untuk sembuh total. Sementara kanker mulut stadium menengah mungkin dapat disembuhkan. Tetapi kanker mulut stadium lanjut umumnya tidak dapat disembuhkan dan penanganan yang dilakukan hanya untuk meringankan gejala serta memperlambat penyebaran kanker.

  • Langkah-langkah penanganan untuk kanker mulut meliputi operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Ketiga langkah ini sering dikombinasikan guna mendapatkan hasil yang maksimal.
  • Kanker mulut stadium awal dapat diatasi dengan operasi menggunakan sinar laser. Prosedur ini disebut photodynamic therapy (PDT). Tetapi jika kanker sudah menyebar ke bagian lain tubuh, maka pengangkatan tumor disertai jaringan sehat di sekitarnya perlu dilakukan. Misalnya pengangkatan sebagian jaringan pada dinding mulut, lidah, atau bahkan rahang. Dokter kemudian akan melakukan operasi rekonstruksi untuk kembali membentuk bagian atau jaringan yang diangkat.
  • Langkah radioterapi biasanya digunakan setelah operasi guna mencegah kembalinya sel-sel kanker. Terapi radiasi ini dapat dilakukan dari luar maupun dalam tubuh.
  • Dalam menangani kanker yang sudah menyebar luas pada tubuh atau berisiko tinggi untuk tumbuh kembali, dokter akan menganjurkan kemoterapi. Obat-obatan yang digunakan dalam proses ini akan menghancurkan DNA dari sel-sel kanker agar tidak bisa berkembang biak. Tetapi obat-obatan tersebut juga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga pasien rentan mengalami infeksi.
  • Di samping manfaat, radioterapi dan kemoterapi berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa di antaranya meliputi mual, muntah, kelelahan, sariawan, serta mulut yang terasa sakit.
  • Cetuximab juga terkadang digunakan untuk menangani kanker mulut stadium lanjut. Penggunaan obat ini biasanya dikombinasikan dengan radioterapi atau kemoterapi.
  • Cetuximab akan menyerang protein pada permukaan sel-sel kanker untuk mencegah penyebaran kanker. Tetapi cetuximab dianjurkan jika pasien tidak bisa menjalani kemoterapi karena alasan medis tertentu, misalnya sedang hamil.

Komplikasi 

  • Tiap langkah pengobatan tentu memiliki risiko komplikasi. Begitu juga dengan penanganan kanker mulut. Kesulitan menelan dan gangguan kemampuan bicara adalah komplikasi utama yang dapat terjadi setelah Anda menjalani operasi dan radioterapi.
  • Kesulitan menelan termasuk komplikasi yang serius karena dapat menyebabkan kekurangan gizi serta memicu pneumonia aspirasi akibat adanya makanan yang masuk ke saluran pernapasan dan tersangkut di paru-paru. Komplikasi ini umumnya akan membaik seiring proses penyembuhan dan terapi. Tetapi ada kemungkinan kemampuan menelan Anda tidak akan pulih sepenuhnya.
  • Sama halnya dengan menelan, radioterapi dan operasi juga berpotensi menyebabkan gangguan dalam kemampuan bicara Anda. Karena itu, terapi wicara akan sangat bermanfaat untuk mengembalikan kemampuan bicara Anda.

Pencegahan

Karena penyebabnya yang belum diketahui, kanker mulut tidak dapat dicegah sepenuhnya. Tetapi Anda tetap dapat mengambil langkah-langkah sederhana untuk menurunkan risikonya, yaitu:

  • Berhenti merokok dan jangan menggunakan tembakau dalam bentuk apa pun.
  • Hindari atau membatasi konsumsi minuman keras Anda.
  • Terapkan pola makan yang sehat dan seimbang, terutama dengan meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan.
  • Menjaga kebersihan mulut, misalnya rajin menyikat gigi.
  • Memeriksakan kesehatan gigi secara teratur, setidaknya setahun sekali.

Gejala dan Penanganan Kanker Usus Kolorektal

Gejala dan Penanganan Kanker Usus Kolorektal

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang tumbuh pada usus besar (kolon) atau rektum. Kanker ini umumnya bermula dari polip yang tumbuh di sepanjang dinding permukaan dalam usus besar serta rektum.

Polip atau jaringan yang tumbuh ini biasanya jinak dan tidak menyebabkan gangguan. Meski demikian, ada juga yang berpotensi menjadi ganas, terutama yang sudah ada pada usus dan rektum selama 5 hingga 15 tahun.


Gejala kanker kolorektal biasanya akan dirasakan oleh pasien ketika kanker sudah berkembang jauh. Jenis gejalanya juga tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker. Beberapa tanda dan gejala yang umumnya terjadi meliputi:

  • Diare atau konstipasi.
  • Proses buang air besar (BAB) yang terasa tidak tuntas.
  • Darah pada tinja, biasanya tidak banyak.
  • Tinja yang disertai lendir.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Sakit perut.
  • Lemas dan lelah.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter. Pada tahap awal, gejala kanker kolorektal sering tidak terasa. Karena itu, pemeriksaan secara rutin patut dilakukan untuk berjaga-jaga.

Penyebab dan Faktor Risiko 

  • Tumbuhnya sel-sel secara abnormal merupakan sumber di balik semua kanker, termasuk kanker kolorektal. Namun hingga saat ini, penyebab perkembangbiakan sel-sel abnormal yang tidak terkendali itu belum diketahui secara pasti.

Gaktor Resiko. Para pakar menduga terdapat beberapa faktor yang bisa memicu pertumbuhan kanker. Faktor-faktor risiko tersebut adalah:

  • Pengaruh usia. Risiko kanker kolorektal akan meningkat seiring bertambahnya usia. Kanker ini diperkirakan diidap oleh 9 di antara 10 orang yang berusia 50 tahun atau lebih.
  • Faktor keturunan. Orang dengan anggota keluarga yang mengidap kanker atau polip kolorektal memiliki risiko lebih tinggi untuk mengidap kanker kolorektal.
  • Pengaruh gaya hidup, seperti kurang olahraga, kekurangan asupan serat, konsumsi minuman keras, kelebihan berat badan, obesitas, atau merokok.
  • Mengidap penyakit Crohn  dan kolitis ulseratif lebih dari 9 tahun.

  • Pemeriksaan kondisi fisik (biasanya melalui pengecekan rektum) dan menanyakan gejala merupakan langkah awal dalam diagnosis kanker kolorektal. Riwayat kesehatan pasien dan keluarga juga akan menjadi pertimbangan.
  • Jika diagnosis awal kurang jelas, dokter juga akan menganjurkan sejumlah pemeriksaan guna memastikan diagnosis. Beberapa di antaranya adalah:
  • Kolonoskopi, yaitu evaluasi kondisi bagian dalam rektum dan usus besar. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan slang panjang yang fleksibel dan disertai lampu pada ujungnya melalui anus. Pemeriksaan ini bisa juga disertai pemeriksaan flexible sigmoideoscopy yang menggunakan slang lebih pendek, CT colonography menggunakan sinar X untuk mengambil gambar serial yang detail dari dinding usus, dan barium enema yang alirannya dipantau dengan sinar X.
  • Biopsi atau pengambilan sampel jaringan pada sel-sel abnormal agar bisa diperiksa di laboratorium. Biopsi dilakukan untuk memastikan diagnosis.
  • USG, rontgen, CT, dan MRI scan untuk melihat penyebaran kanker dan menentukan tahap perkembangan kanker (staging).
  • Selain untuk diagnosis, metode-metode pemeriksaan tersebut juga dilakukan untuk mengetahui perkembangan serta tingkat penyebaran kanker.

  • Diagnosis dan pengobatan kanker kolorektal sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan sembuh pada penderita. Namun, jika kanker sudah berkembang pada stadium lanjut, langkah pengobatan akan dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus meringankan gejala-gejala yang dialami oleh pasien.
  • Sama halnya seperti kanker-kanker lain, pengobatan kanker kolorektal biasanya meliputi operasi, kemoterapi, dan radioterapi. Kombinasi ketiga langkah pengobatan tersebut tergantung pada berbagai faktor, seperti kondisi kesehatan pasien serta tingkat perkembangan dan penyebaran kanker.

Prosedur operasi

  • Operasi merupakan penanganan utama untuk kanker kolorektal. Biasanya bagian usus atau rektum yang dtumbuhi kanker akan dibuang dan masing-masing ujung saluran pencernaan dijahit menjadi satu.
  • Pada penderita kanker rektum, biasanya tidak banyak bagian sehat yang tersisa setelah dipotong. Maka penyambung kedua ujung saluran cerna akan sangat sulit dilakukan karena jaringan untuk disambung begitu minim. Kasus-kasus ini biasa diselesaikan dengan kolostomi. Kolostomi adalah operasi pembuatan lubang pada dinding perut yang kemudian disambung ke ujung usus yang telah dipotong, guna mengeluarkan tinja secara langsung melalui dinding perut dan di tampung dalam sebuah kantong yang ditempelkan ke dinding perut luar.
  • Prosedur ini terbagi dalam dua jenis, yaitu sementara dan permanen. Kolostomi sementara dilakukan bila kanker sudah menyebar keluar dinding saluran cerna dan organ atau bagian lain juga perlu dibersihkan dari sel-sel kanker. Untuk menunggu pemulihan organ atau bagian lain pasca tindakan, maka kolostomi dibuat sementara dan nantinya akan ditutup kembali. Sedangkan kolostomi permanen umumnya dianjurkan bagi pasien yang telah menjalani pengangkatan rektum secara keseluruhan.

Kemoterapi dan Radioterapi

  • Tujuan kemoterapi dan radioterapi adalah untuk membunuh sel-sel kanker atau menghentikan perkembangbiakannya. Kemoterapi semakin banyak digunakan untuk menangani kanker usus. Sementara radioterapi sebagian besar dijalani oleh pengidap kanker kolorektal yang tumbuh di rektum.
  • Keduanya juga digunakan sebagai terapi pada sebelum maupun setelah operasi. Bila dilakukan setelah operasi, maka untuk membunuh sisa sel-sel kanker yang telah menyebar dari lokasi utama kanker. Sedangkan kemoterapi atau radioterapi sebelum operasi diberikan untuk menyusutkan tumor agar lebih mudah diangkat.

Gejala dan Penanganan Kanker Laring

Gejala dan Penanganan Kanker Laring

Kanker laring adalah tumor yang tumbuh pada jaringan kotak suara (laring). Laring merupakan bagian dari tenggorokan yang memiliki fungsi penting dalam membantu proses bernapas dan bicara kita. Bagian tubuh ini juga akan melindungi paru-paru dari masuknya makanan pada saat menelan.

Kondisi medis ini dapat dialami oleh siapa saja, namun pria memiliki risiko 4 kali lebih tinggi untuk mengalaminya dibandingkan dengan wanita. Kanker laring juga umumnya menyerang lansia, terutama mereka yang berusia 60 tahun atau lebih.

  • Sebagian besar kanker laring tumbuh dan berkembang pada sel-sel skuamosa yang membentuk dinding bagian dalam laring. Gejala kanker ini juga bisa bervariasi, berdasarkan ukuran dan lokasinya. 
  • Perubahan suara, misalnya menjadi serak.
  • Benjolan atau pembengkakan di leher.
  • Sakit tenggorokan.
  • Batuk yang tidak kunjung sembuh.
  • Terasa ada yang mengganjal di tenggorokan.
  • Napas tidak sedap.
  • Sulit atau sakit saat menelan.
  • Rasa sakit pada telinga.
  • Kelelahan.
  • Mengi.

Periksakanlah kondisi kesehatan Anda ke dokter jika mengalami gejala-gejala tersebut. Pemeriksaan sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan sembuh Anda.

Penyebab 

  • Penyebab di balik semua kanker adalah munculnya pertumbuhan sel-sel yang abnormal. Pemicu pertumbuhan tersebut belum diketahui secara pasti.
  • Meski demikian, ada sejumlah faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kanker laring. 

Faktor risiko

  • Merokok. Ini merupakan faktor risiko utama pada kanker laring maupun berbagai penyakit lain.
  • Sering mengonsumsi minuman keras secara berlebihan.
  • Pernah atau memiliki anggota keluarga yang mengidap kanker pada bagian kepala atau leher.
  • Mengalami paparan senyawa kimia tertentu untuk jangka panjang, misalnya debu asbes.

  • Gejala-gejala kanker laring cenderung mirip dengan beragam penyakit lain. Karena itu, penyakit ini termasuk sulit terdeteksi.
  • Pada tahap awal diagnosis, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami dan riwayat medis Anda serta keluarga. Kondisi fisik diluar-dalam leher dan sekitarnya juga akan diperiksa.

Apabila ada dugaan bahwa Anda mengidap kanker laring, dokter akan menganjurkan beberapa pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan diagnosis. Proses pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Laringoskopi atau endoskopi.
  • Biopsi atau pengambilan sampel jaringan.
  • CT, MRI, dan PET-CT scan.
  • USG.
  • Proses-proses pemeriksaan di atas juga akan membantu dokter untuk menentukan stadium dan tingkat perkembangan kanker yang diidap oleh pasien. Sama seperti kanker pada umumnya, stadium kanker laring juga ditentukan berdasarkan ukuran tumor, nodus limfa yang terserang, serta tahap penyebarannya.
  • Tumor berukuran kecil dan belum menyebar ke nodus limfa maupun bagian tubuh lain merupakan kanker dengan stadium terendah dan memiliki potensi terbesar untuk disembuhkan. Bahaya kanker akan meningkat seiring dengan perkembangan serta penyebarannya.
  • Kecepatan perkembangan tumor juga akan menjadi pertimbangan dalam menentukan stadium kanker. Perkembangan yang cepat akan meningkatkan penyebaran kanker yang diidap oleh pasien.

  • Jika didiagnosis positif mengidap kanker laring, maka harus menjalani pengobatan secepatnya. Penanganan sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan pasien untuk pulih.
  • Penanganan kanker laring umumnya meliputi kemoterapi, radioterapi, serta operasi. Langkah penanganan yang sesuai untuk pasien akan ditentukan oleh dokter berdasarkan ukuran tumor dan tingkat penyebarannya.
  • Kanker stadium awal terkadang cukup ditangani dengan radioterapi atau operasi kecil. Sedangkan kanker stadium lanjut atau tumor berukuran cukup besar biasanya membutuhkan kombinasi operasi yang lebih besar, kemoterapi, dan radioterapi.
  • Secara umum, operasi yang mungkin dianjurkan dalam menangani kanker laring meliputi pengangkatan tumor saat endoskopi dan laringektomi.
  • Pengangkatan tumor pada prosedur endoskopi biasanya dianjurkan untuk tumor berukuran kecil dengan stadium awal. Sementara laringektomi disarankan untuk menangani kanker pada stadium yang lebih lanjut.

Laringektomi adalah operasi pengangkatan laring. Prosedur ini terbagi dalam 2 jenis, yaitu:

  • Laringektomi parsial. Pada operasi ini, hanya sebagian pita suara pasien yang akan diangkat sehingga kemampuan berbicara pasien masih dapat diselamatkan. Tetapi suara pasien akan berubah menjadi serak atau lirih.
  • Laringektomi total. Operasi ini akan mengangkat seluruh kotak suara serta nodus limfa di sekitarnya. Karena itu, kemampuan bicara pasien pun akan hilang. Laringektomi total juga akan menyisakan lubang permanen (stoma) pada leher pasien untuk membantu pernapasan. Kebersihan stoma harus senantiasa dijaga agar terbebas dari kuman.

Bagi pasien yang menjalani laringektomi total, terdapat beberapa langkah yang memungkinkan pasien untuk kembali mendapatkan kemampuan bicara. Salah satunya dengan memasang alat bantu berupa katup artifisial pada leher pasien. Ahli terapi wicara akan membimbing pasien untuk membiasakan diri dalam penggunaannya.

Pencegahan 

  • Sama seperti semua kanker, kanker laring juga tidak bisa dicegah sepenuhnya. Yang bisa kita lakukan adalah menekan potensi dari faktor-faktor risikonya.
  • Langkah utama untuk menghindari kanker laring adalah dengan berhenti merokok dan membatasi konsumsi minuman beralkohol. Batas konsumsi minuman beralkohol sesuai yang dianjurkan, dalam sehari adalah 2 hingga 2,5 kaleng bir berkadar alkohol 4,7 persen untuk pria, dan maksimal 2 kaleng bir berkadar alkohol 4,7 persen untuk wanita.
  • Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang juga dipercaya dapat membantu pencegahan kanker laring serta berbagai penyakit lainnya.

    Gejala dan Penanganan KANKER Ginjal

    Gejala dan Penanganan KANKER Ginjal
    Kanker ginjal adalah suatu jenis kanker yang menyerang ginjal. Ginjal adalah organ di dalam tubuh yang berfungsi menyaring kotoran dari darah dan mengubahnya menjadi urine. Manusia memiliki dua buah ginjal yang terletak di kedua sisi pinggang di bawah tulang rusuk. Kanker biasanya menyerang salah satu ginjal saja.

    • Kanker ginjal sebagian besar diderita oleh orang-orang yang telah berusia 50 tahun ke atas. Pada stadium awal biasanya tidak ada gejala yang dirasakan. 
    • Pada stadium lanjut, seseorang yang menderita penyakit ini dapat merasakan nyeri dan pembengkakan di sekitar area pinggang. 
    • Berubahnya warna urine menjadi kemerahan atau kecokelatan karena telah bercampur dengan darah.
    • Penurunan berat badan.
    • Kekurangan darah atau anemia.
    • Badan terasa lelah.
    • Nafsu makan berkurang.
    • Keluar keringat di malam hari.
    • Hipertensi atau tekanan darah tinggi.
    • Pembengkakan pembuluh darah di sekitar testis (jika kanker ginjal diderita oleh pria).
    • Demam tinggi.
    • Tingkat keparahan kanker ginjal secara umum ditandai dengan sistem TNM. Huruf T mengindikasikan seberapa besar jaringan kanker (tumor) telah tumbuh, di antaranya:
    • T1a (apabila diameter tumor masih kurang dari 4 cm).
    • T1b (apabila diameter tumor telah mencapai ukuran 4 sampai 7 cm).
    • T2 (apabila diameter tumor sudah lebih dari 7 cm namun belum menyebar keluar ginjal).
    • T3a (apabila tumor telah menjalar ke lapisan lemak di sekeliling ginjal atau telah menjalar ke kelenjar adrenal).
    • T3b (apabila tumor telah menjalar ke dalam pembuluh balik ginjal atau ke pembuluh balik utama/vena cava).
    • T3c (apabila penyebaran tumor telah melewati diafragma).
    • T4 (apabila penyebaran tumor telah melewati lapisan jaringan keras yang melindungi ginjal).
    • SHuruf N menandakan apakah kanker telah menyebar ke nodus limfa di dekat ginjal, di antaranya:
    1. N0 (belum adanya sel kanker di dalam nodus limfa).
    2. N1 (sel kanker sudah ada dalam satu nodus limfa).
    3. N2 (sel kanker sudah ada dalam dua atau lebih nodus limfa).
    • Dan huruf terakhir, yaitu huruf M, menandakan apakah sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Berikut ini pembagiannya:
    1. M0 (menandakan bahwa sel kanker belum menyebar ke bagian tubuh lainnya).
    2. M1 (menandakan bahwa kanker telah menyebar ke bagian tubuh lainnya).

    Penyebab 

    • Kanker terjadi ketika sel-sel di dalam tubuh manusia tumbuh secara tidak terkendali. Pada kasus kanker ginjal, penyebabnya belum diketahui. 

    Faktor Reaiko

    Meskipun belum diketahui, ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker ginjal, di antaranya:

    • Kelebihan berat badan atau obesitas.
    • Memiliki anggota keluarga penderita kanker ginjal.
    • Merokok.
    • Penyakit hipertensi.
    • Selain faktor-faktor tersebut, kanker ginjal juga disinyalir bisa terjadi akibat efek samping pengobatan dialisis pada kasus gagal ginjal dan efek samping konsumsi obat pereda rasa sakit (misalnya obat-obatan golongan antiinflamasi nonsteroid), meskipun risiko ini sangat kecil.

    • Jika Anda merasakan gejala-gejala kanker ginjal, seperti nyeri terus-menerus di daerah pinggang dan kencing disertai darah, segera temui dokter untuk dilakukan pemeriksaan.
    • Diperlukan pemeriksaan darah dan urine terlebih dahulu untuk memastikan kondisi ginjal yang dialami oleh pasien. Artinya gejala yang dirasakan pasien belum tentu akibat kanker dan mungkin saja akibat batu ginjal atau infeksi ginjal lainnya.
    • Sama halnya seperti pemeriksaan sistoskopi, metode ini mungkin akan dilakukan jika dokter mencurigai darah dalam urine karena adanya masalah pada kandung kemih.
    • Jika ternyata penyebab gejala bukan karena infeksi, penyakit batu ginjal, atau kondisi-kondisi lainnya, maka dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan guna mendeteksi adanya kanker ginjal, seperti:
    1. USG
    2. Biopsi
    3. CT scan dan MRI scan
    4. Pemeriksaan X-ray

    • Metode penanganan kanker ginjal yang utama adalah melalui operasi. Ada dua macam operasi, pertama adalah nefrektomi. Melalui prosedur ini, dokter akan berusaha menghilangkan sel-sel kanker dengan mengangkat sejumlah bagian dari ginjal atau bahkan seluruhnya, tergantung dari besarnya diameter tumor.
    • Apabila diameter tumor masih kurang dari 4 cm, maka beberapa bagian dari ginjal yang terkena kanker akan dipotong oleh dokter. Sebaliknya, jika diameter tumor sudah lebih dari 4 cm, maka ginjal tersebut harus diangkat dan selanjutnya pasien akan hidup dengan satu ginjal.
    • Jenis penanganan yang lain adalah embolisasi. Prosedur ini dilakukan dengan cara menyuntikkan zat khusus ke dalam vena ginjal guna menghambat aliran darah. Dengan terputusnya pasokan nutrisi atau oksigen ke dalam ginjal, maka lambat laun tumor akan menyusut.

    Selain itu, saat ini berbagai obat-obatan sedang dikembangkan untuk mengobati kanker ginjal, seperti:

    • Sunitinib. Obat ini bekerja dengan cara menghambat protein kinase (enzim yang membantu pertumbuhan sel kanker) sehingga perkembangan kanker dapat dihentikan.
    • Sorafenib dan pazopanib. Selain bekerja seperti sunitinib, yaitu menghambat enzim tirosin kinase, kedua obat ini juga mampu mencegah sel kanker menumbuhkan pembuluh darah.
    • Axitinib. Obat ini biasanya dijadikan alternatif oleh dokter apabila pemberian sunitinib atau pazopanib tidak efektif. Obat ini belum masuk ke Indonesia.
    • Temsirolimus dan everolimus. Kedua obat ini bekerja dengan cara menghambat atau mengganggu fungsi protein MTOR yang terdapat di dalam sel-sel kanker, sehingga jumlah sel kanker tidak makin banyak.

    Selain penggunaan obat-obatan, cara-cara penanganan dalam kasus kanker ginjal juga meliputi:

    • Radioterapi. Meskipun prosedur yang menggunakan radiasi dari energi radioaktif ini tidak bisa mengobati kanker sepenuhnya, radioterapi mampu mengurangi nyeri yang dirasakan pasien dan dapat memperlambat perkembangan kanker.
    • Ablasi radiofrekuensi. Metode ini sering kali diterapkan dokter apabila tingkat keparahan kanker ginjal masih rendah (tahap awal). Di lain sisi, langkah ini ditempuh karena kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dioperasi atau posisi kanker terlalu dekat dengan usus. Dalam metode ini, sel-sel kanker akan dimusnahkan oleh panas yang dihasilkan dari gelombang radio.
    • Krioterapi. Hampir sama seperti ablasi radiofrekuensi, krioterapi dilakukan jika kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dioperasi, misalnya karena kurang fit atau ukuran tumor masih kecil. Pada metode ini, sel-sel kanker dibunuh dengan cara dibekukan.

    Pencegahan 

    • Berhenti merokok atau menghindari asap rokok.
    • Mengonsumsi makanan yang kaya akan serat, seperti biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan, serta mengonsumsi makanan yang rendah lemak dan garam. Selain itu, perbanyak konsumsi ikan salmon, sarden, dan makarel karena kandungan vitamin D dalam minyak ikan dapat menurunkan risiko terkena kanker.
    • Lakukan olahraga secara rutin selama 2,5 jam dalam satu minggu, seperti aktivitas bersepeda, jalan cepat, berenang, atau lari.
    • Apabila Anda menderita obesitas, kurangi berat badan agar terhindar dari kanker ginjal dengan cara mengombinasikan latihan rutin dan konsumsi makanan sehat.

    Prognosis 

    • Tingkat keberhasilan pengobatan dan jangka umur penderita kanker ginjal tergantung kepada agresivitas dan tingkat keparahan penyakit ini ketika terdiagnosis. Apabila kanker ginjal masih dalam fase awal saat terdiagnosis, maka peluang penderitanya untuk hidup lebih lama akan makin besar dibandingkan mereka yang kankernya telah memasuki fase menengah atau parah ketika terdiagnosis. Sering kali operasi pengangkatan ginjal mampu menuntaskan penyakit ini dan pasien dapat menjalani hidup sehat meski dengan satu ginjal.
    • Diperkirakan sebanyak hampir 90 persen penderita kanker ginjal tahap awal yang berhasil terdiagnosis dokter, dapat hidup sekurang-kurangnya lima tahun ke depan. Sedangkan pada kasus kanker yang sudah menyebar ke luar ginjal ketika terdiagnosis, penderita yang mampu hidup setidaknya 5 tahun ke depan diperkirakan mencapai 70 persen.
    • Harapan hidup tersebut dinilai lebih baik jika dibandingkan dengan kasus kanker ginjal yang terdiagnosis parah, yaitu ketika sel-sel kanker telah menggerogoti sejumlah organ tubuh lainnya. Peluang untuk bisa hidup setidaknya lima tahun ke depan diperkirakan hanya 10 persen saja.

    Gejala Kanker Kulit Squamous Cell Carcinoma dan Bassal Cell Carcinoma

    Gejala Kanker Kulit Squamous Cell Carcinoma dan Bassal Cell Carcinoma

    Squamous Cell Carcinomawp-1493338282996.

    • Gejala ini pada umumnya disebabkan oleh keratosis, leukoplakia, dan berbagai jenis kanker lainnya. Terjadinya luka atau ulcer, merupakan penyebab awal pertumbuhannya menjadi cepat. Pada umumnya squamous cell carcinoma bercampur dengan infeksi purulen, bau busuk, dan rasa sakit. Dalam hal ini, akan banyak dijumpai metastase kelejar getah bening lokal.
    • Pasien squamous cell carcinoma lebih banyak terjadi pada usia 30-50 tahun, sedangkan pasien bassal cell carcinoma cenderung terjadi pada usia di atas 50 tahun.
    • Squamous cell carcinoma dalam waktu yang relatif singkat dapat tumbuh dengan cepat, sedangkan bassal cell carcinoma pertumbuhannya sangat lambat.
    • Squamous cell carcinoma dapat dengan mudah tumbuh i bagian bibir bawah, bagian hidung, bagian lidah, vulva dan persimpangan lendir kulit.

    Bassal Cell Carcinoma

    • Pada awal terjadinya jenis kanker ini, tidak terdapat gejala apapun. Pada tahap awal pertumbuhannya akan berbentuk papula substrat patch keras, ada juga yang berbentuk menonjol verrucos, dan kemudian pada ulserasi berubah menjadi lesi ulkus, dengan bentuk acak dan bagian tepi menonjol seperti mulut gunung merapi, lalu pada bagian bawah tidak merata dan pertumbuhannya sangat lambat.
    • Basal cell carcinoma dapat dengan mudah tumbuh di bagian rongga mata, pada bagian dalam canthus, bagian hidung, pipi, dahi, dan semua area bagian kepala juga leher.

    Tanda Dan Gejala Kanker Kulit

    wp-1493338282996.Kanker kulit adalah pertumbuhan sel-sel pada kulit pada taraf abnormal. Penyebab kanker kulit berbeda-beda dan tingkat keganasan kanker pun berbeda-beda. Kanker kulit paling umum terjadi pada lapisan sel skuamosa, basal dan melanosit. Kanker kulit biasanya tumbuh di epidermis (lapisan paling luar kulit), sehingga tumor (benjolan) dapat terlihat dari luar, sehingga kanker kulit merupakan jenis kanker yang paling mudah ditemukan gejalanya pada stadium awal. kanker kulit juga merupakan kanker yang paling sedikit risiko kematiannya pada penderita, ini disebabkan karena kulit jarang dapat mencapai organ-organ vital seperti jantung, paru-paru, ginjal dan batang otak pada manusia.

    Tanda dan gejala

    • Muncul bercak pada kulit Mungkin tanpa Anda sadari, tiba-tiba ketika Anda mengamati permukaan kulit, ternyata ada bercak seperti lingkar hitam atau coklat, dan seiring berjalannya waktu bercak tersebut semakin melebar. Jika Anda mengalami hal tersebut, terutama terlebih jika Anda sering terkena sinar matahari secara langsung, Anda perlu segera memeriksakan ke dokter. Untuk mewaspadai munculnya sel kanker kulit. Pencegahan di awal waktu akan semakin meningkatkan peluang kesembuhan pasien.wp-1493165984434.
    • Muncul benjolan pada kulit Munculnya benjolan pada tubuh merupakan ciri hampir semua penyakit tumor dan kanker. Sehingga, tidak ada salahnya untuk mewaspadai apabila Anda menemukan benjolan pada tubuh. Untuk memastikan arti dari benjolan yang muncul, sebaiknya Anda segera berkonsultasi ke dokter. Biasanya, dokter akan menyarankan untuk melakukan medical check up untuk memastikan apa yang dialami oleh tubuh. Bentuk benjolan yang kurang beraturan atau asimetris. Sehingga antara bentuk bagian kiri dan kanannya terlihat berbeda. Adanya batas pinggiran benjolan yang terlihat tidak rata dan cenderung memiliki tekstur yang kasar. Benjolan memiliki warna yang tidak rata atau bergradasi, misalnya warna gelap di tengah dan warna cokelat muda di bagian pinggir hingga batas tepinya. Besar diameter benjolan yang tidak wajar, bandingkan dengan diameter sebuah pensil. Bentuknya yang berubah-ubah jika diamati secara teliti. Untuk membuktikan hal ini bisa mengambil foto benjolan atau tompel pada hari pertama Anda mengetahuinya. Kemudian lakukan pengambilan foto pada minggu berikutnya, amati apakah ada perubahan bentuk, warna, atau bahkan ukuran.
    • Rasa gatal disertai nyeri di permukaan kulit Rasa gatal disertai nyeri merupakan salah satu tanda bahwa sel kanker mulai menyeran sel kulit yang sehat. Rasa gatal dan nyeri tersebut dapat Anda kenali melalui bentuk luka yang muncul. Permukaan kulit terasa kasar, dan luka lecet pada area gatal terlihat tidak umum. Seperti berlubang dan cenderung mengeluarkan darah terus menerus.
    • Adanya perubahan warna kulit pada area tertentu Kanker kulit ada berbagai macam jenis. Namun yang paling sering terjadi adalah kanker kulit melanoma. Adanya perubahan warna kulit disebabkan oleh sel kanker yang menyerang pigmen pada kulit. Selain itu, paparan sinar UV secara langsung juga dapat mempengaruhi perubahan warna pada kulit, sehingga jika Anda menjumpai ciri perubahan warna kulit menyerupai bercak pada area tertentu, terasa gatal, dan nyeri, serta berwarna coklat kemerahan, sebaiknya Anda memeriksakan ke dokter. Jangan hanya menganggap bahwa perubahan warna tersebut akibat alergi pada hal tertentu. Karena tidak menutup kemungkinan tanda tersebut merupakan gejala awal kanker kulit terlebih jika Anda memiliki riwayat kanker pada keturunan Anda.
    • Permukaan kulit seperti bersisik Selain muncul bercak, permukaan kulit tempat area sel kanker berkembang akan cenderung kering dan bersisik. Hal ini dikarenakan banyak sel kulit yang rusak sehingga tidak dapat melakukan regenerasi.
    • Tahi lalat yang bertambah ukuran Hampir setiap orang memiliki tahi lalat di tubuh mereka. Meskipun seringkali tahi lalat dianggap sebagai tumor jinak, namun Anda tetap perlu mewaspadai jika tahi lalat tersebut mengalami pertambahan ukuran seiring berjalannya waktu. Bisa saja tahi lalat tersebut merupakan gejala awal kanker kulit. Oleh karena itu, segera konsultasikan dengan dokter apakah tahi lalat tersebut berbahaya atau tidak.
    • Bibir terasa kering Bibir merupakan area paling sensitif. Selain itu, bibir juga merupakan area yang paling memungkinkan terkena paparan sinar UV secara langsung. Gejala kanker kulit dapat berupa bibir yang terasa kering dalam jangka waktu yang cukup lama. Bibir kering tidak hanya diakibatkan kurangnya vitamin C saja namun juga sebagai sinyal bahwa tubuh kita sedang mengalami masalah. Oleh karena itu, untuk memastikan Anda perlu berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.

    Pencegahan Kanker Kulit

    • Hindari mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung zat-zat kimia termasuk gula pasir dan air mineral.
    • Hindari segala bedak dan handbody lotion yang terbuat dari zat kimia.
    • Hindari terkena sinar matahari secara langsung di atas jam 9 pagi.

    Terapi Herbal Untuk pencegahan

    • Minumlah suplemen yang mampu membersihkan kotoran yang melekat di dinding usus (colon cleanshing). Dalam hal ini yang terbaik, terenak dan termurah adalah kolak waluh (labu parang) tanpa santan. Yang perlu diingat dalam mengonsumsinya harus ditambah air jeruk nipis. minumlah 2 gelas sehari.
    • Buatlah suplemen yang banyak mengandung zat-zat anti oksidan, seperti juss dari buah tomat sayur, buah anggur, buah wortel, dan taoge kacang hijau. Untuk pembuatan juss, sebaiknya di blender selama 20 menit, jangan berhenti. Tujuannya adalah agar ada injeksi oksigen ke dalam juss. Karena itu harus langsung diminum habis, jangan dibiarkan lam karena oksigennya bisa menguap lagi. Minumlah 2 gelas sehari.
    • Buatkanlah rebusan herbal yang banyak mengandung zat-zat anti oksidan. Herbal ini antara lain daun benalu mangga, daun benalu teh, daun sukun, daun tapak dara, daun mahkota dewa, temu putih , dll. Minumlah 2 gelas sehari.
    • Buatkanlah rebusan herbal yang lebih keras daripada di atas, Bisa menggunakan mahkota dewa, pace, jintan hitam, dll. minumlah 2 gelas sehari.
    • Buatkanlah bedak dari keladi tikus, ketela pohon tahunan yang beracun. Balurkan bedak ini ke kankernya, 4 – 5 kali sehari.

    Gejala dan Penanganan Terkini Kanker Mata

    Gejala dan Penanganan Terkini Kanker Mata

    Tanda dan Gejalawp-1493338282996.

    Sebagian besar melanoma pada mata tumbuh pada bagian dalam mata yang cenderung tidak terlihat, sehingga sulit untuk terdeteksi. Kanker ini juga jarang menimbulkan gejala yang signifikan. Jika ada indikasi yang muncul, biasanya berupa:

    • Muncul bintik hitam pada iris mata.
    • Sering merasa silau.
    • Terasa ada bintik-bintik serta garis yang menghalangi pandangan.
    • Pandangan kabur atau kehilangan kemampuan penglihatan.
    • Perubahan bentuk pupil atau jaringan di sekitar mata.
    • Pembengkakan pada salah satu mata.
    • Benjolan pada kelopak atau bola mata yang makin membesar.

    Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Mata

    • Pajanan sinar matahari dan ultraviolet.
    • Faktor usia. Risiko kanker mata akan meningkat seiring bertambahnya usia.
    • Warna mata. Orang yang memiliki warna mata terang (misanya, biru, hijau, atau abu-abu) memiliki risiko kanker mata yang lebih tinggi.
    • Kelainan kulit turunan. Kulit yang memiliki kecenderungan membentuk tahi lalat di berbagai area kulit tubuh, umumnya berisiko berkembang menjadi melanoma di mata dan kulit.

    Diagnosis Kanker Mata Proses diagnosis awal untuk kanker mata umumnya dilakukan oleh dokter ahli mata. Selain menanyakan gejala-gejala Anda, terdapat beberapa pemeriksaan lebih mendetail yang mungkin dianjurkan. Proses-proses pemeriksaan tersebut meliputi:

    • Pemeriksaan kondisi mata, seperti optalmoskopi dan biomikroskopi.
    • USG mata.
    • Angiogram untuk memeriksa pembuluh darah di dalam dan pada sekitar tumor.
    • Prosedur pengambilan sampel jaringan atau biopsi untuk diperiksa di laboratorium.
    • Tes darah
    • CT dan MRI scan
    • USG perut

    Penangananwp-1493165984434.

    • Kemoterapi Pengobatan jenis ini menggunakan bahan kimia untuk membunuh sel kanker. Pengobatan ini dapat dilakukan dengan mengonsumsi pil kemoterapi ataupun ditransmisikan melalui pembuluh darah. Untuk anak-anak yang mengidap penyakit retinoblastoma, kemoterapi dapat membantu mengecilkan tumor.  Sehingga pengobatan jenis lain, seperti erapi radiasi, cryotherapy, thermotherapy atau terapi laser, dapat digunakan untuk mengobati sel-sel kanker yang tersisa. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan bahwa Anda tidak mmerlukan pembedahan.
    • Terapi radiasi Jenis terapi ini menggunakan sinar berenergi tinggi, seperti sinar-X, untuk membunuh sel kanker. Ada 2 jenis terapi radiasi yang digunakan untuk mengobati retinoblastoma, yakni
      • Radiasi internal (brachytherapy)Selama radiasi internal, perangkat pengobatan sementara ditempatkan di atau dekat tumor. Radiasi internal untuk retinoblastoma menggunakan piringan kecil yang terbuat dari bahan radioaktif. piringan tersebut dijahit di tempat dan dibiarkan selama beberapa hari sementara perlahan-lahan mengeluarkan radiasi untuk tumor. Menempatkan radiasi dekat tumor mengurangi kesempatan bahwa pengobatan akan mempengaruhi jaringan mata yang sehatRadiasi sinar eksternal.
      • Radiasi sinar eksternal. Ini menggunakan sinar bertenaga tinggi (sinar-X). Namun, apabila sinar radiasi mencapai daerah halus di sekitar mata, seperti otak, itu akan menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, jenis terapi ini hanya dianjurkan apabila jenis pengobatan lain tidak bekerja.
      • Terapi laser (laser fotokoagulasi) Laser digunakan untuk menghancurkan pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke tumor. Tanpa adanya sumber untuk bahan bakar, sel kanker akan mati.
      • Cold treatment (cryotherapy) Zat yang sangat dingin, seperti nitrogen cair, digunakan pada jenis  pengobatan ini guna membunuh sel kanker. Selama cryotherapy, zat  tersebut ditempatkan di atau dekat sel-sel kanker. Sel kanker akan  membeku dan mencair. Proses pembekuan dan pencairan, diulang  beberapa kali dalam setiap sesi cryotherapy.                                                                                                                    
      • Heat treatment (thermotherapy): Thermotherapy menggunakan suhu panas yang ekstrem untuk membunuh  sel kanker. Selama thermotherapy, panas diarahkan pada sel kanker  dengan menggunakan USG, microwave atau laser.

    Operasi

    Jenis pengobatan ini harus dilakukan apabila tumor terlalu besar dan  tidak dapat diobati oleh metode lain. Jenis pembedahan untuk  retinoblastoma, antara lain:

    1. Enukleasi. Jenis pembedahan untuk mengangkat mata yang terkena sel kanker. Otot-otot dan jaringan di sekitar mata akan dilepaskan dan bola mata akan diangkat. Sebagian dari saraf optik, yang memanjang dari belakang mata ke otak, juga akan dihilangkan.
    2. Pembedahan untuk menempatkan implan mata. Setelah bola mata diangkat, ahli bedah segera menempatkan bola khusus – terbuat dari bahan plastik atau lainnya – dan ditempatkan dalam rongga mata. Otot-otot yang mengatur pergerakkan mata direkatkan pada implan. Apabila sudah sembuh, otot-otot mata akan beradaptasi dengan bola mata implan, sehingga bola mata impan bisa bergerak seperti mata alami. Namun, bola mata implan yang ditanamkan tidak bisa melihat.

    Karakteristik Gejala Muntah Yang Disebabkan Karena Kanker Otak

      Penelitian yang dilakukan oleh BSMMU mendapati 26 dari 50 penderita tumor otak mengalami gejala muntah (sekitar 52%). 

      Karakteristik muntah yang menjurus pada kanker otak adalah 

      • Terjadi pada pagi hari tanpa adanya mual terlebih jika diikuti tanda lainnya seperti sakit kepala. Sama seperti gejala dan tanda poin pertama (sakit kepala), baik muntah dan sakit kepala merupakan dua penyakit yang sangat umum sehingga samar-samar dan sulit dibedakan.
      • Ketelitian anda dalam mencermati berbagai jenis muntah yang anda alami sangat penting untuk mengetahui penyakit yang anda alami. 
      • Terjadi secara tiba tiba tanpa penyakit tertentu sebelumnya
      • Cairan muntah tidak normal (berwarna agak hijau) dan
      • Terjadi bersamaan dengan sakit kepala. 
      • Muntah muntah ini terjadi karena adanya saraf yang terganggu karena tumor otak. Biasanya hal ini tidak dapat diobati selama masih ada tumor di dalam otak tersebut.

        Kanker Otak

        Kanker otak adalah tumor otak ganas yang dapat menyebar dengan cepat ke bagian lain dari otak dan tulang belakang. Perlu diketahui, tidak semua tumor otak bersifat ganas dan bisa dikategorikan sebagai kanker. Ada juga tumor otak yang bersifat jinak. Tumor otak jinak adalah sekumpulan sel-sel otak yang tumbuh perlahan dan tidak menyebar ke bagian lain. Tumor otak sendiri adalah pertumbuhan sel-sel otak yang tidak wajar dan tidak terkendali. Pada otak, tumor dapat berkembang dari sel yang menyusun jaringan otak, dari saraf yang keluar-masuk ke otak, dan dari selaput pelindung otak dan saraf tulang belakang (meninges).

        Menurut asalnya, tumor otak terbagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder. Tumor otak primer adalah tumor yang muncul pada otak, sedangkan tumor otak sekunder adalah tumor yang berasal dari bagian tubuh lain namun menyebar ke otak.