Ascariasis atau Cacing Gelang, Gejala dan Penanganannya

Ascariasis atau Cacing Gelang, Gejala dan Penanganannya

Ascariasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang. Cacing ini adalah jenis parasit yang bisa hidup dan berkembang biak di dalam usus manusia. Infeksi akibat cacing ini biasanya tidak menyebabkan gejala spesifik. Namun, jumlah cacing gelang yang sangat banyak dalam usus berpotensi memicu gejala serta komplikasi yang serius.

  • Fase awal infeksi, telur-telur cacing yang tertelan akan menetas , sehingga memicu gejala berupa demam, batuk kering, napas pendek, serta mengi. Fase ini umumnya bisa berlangsung hingga 21 hari
  • Pada fase lanjut, larva-larva telah berpindah ke usus dan berkembang menjadi cacing dewasa. Ascariasis ringan hingga menengah akan memicu gejala sakit perut, mual, muntah, diare, atau munculnya darah pada tinja.

Semakin banyak jumlah cacing gelang yang ada dalam tubuh, gejala yang dialami oleh pengidap akan semakin memburuk. Ascariasis yang parah akibat banyaknya jumlah cacing gelang di dalam usus akan menyebabkan gejala-gejala berupa:

  • Sakit perut yang parah.
  • Muntah-muntah.
  • Kelelahan.
  • Adanya cacing dalam muntah atau tinja.
  • Penurunan berat badan..

Penularan  

  • Tertelan telur-telur cacing gelang yang terdapat dalam air atau makanan. Bahan makanan yang tumbuh pada tanah yang terkontaminasi telur cacing gelang juga bisa menjadi sumber penyebab ascariasis.

Faktor-faktor risiko 

  • Kebersihan yang tidak terjaga. Ascariasis banyak berkembang di tempat-tempat yang kurang bersih, terutama daerah yang memanfaatkan tinja manusia sebagai pupuk.
  • Usia. Ascariasis umumnya menyerang pasien berusia 10 tahun ke bawah.
  • Kepadatan penduduk. Infeksi ini sering terjadi di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Diagnosis 

  • Selain menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien, dokter akan mengambil dan memeriksa sampel tinja pengidap. Prosedur ini akan membantu dokter untuk memeriksa ada atau tidaknya telur-telur cacing pada tinja pengidap.
  • Tes darah dapat dilakukan untuk melihat adanya kenaikan sel darah putih tertentu yang disebut sebagai eosinophilia, tapi ini tidak spesifik untuk memastikan adanya infeksi Ascaris. Pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan X-rayUSG, atau CT scan dan MRI guna melihat apakah ada larva di paru-paru, cacing dewasa pada organ hati atau pankreas, gumpalan cacing-cacing yang menyumbat saluran hati atau pankreas.

  • Mebendazole. Obat ini dianjurkan bagi pasien berusia 1 tahun ke atas. Efek samping yang berpotensi muncul meliputi diare, ruam kulit, serta sering buang angin.
  • Piperazine. Bayi berusia 3 hingga 11 bulan biasanya disarankan mengonsumsi obat ini sebanyak 1 kali saja. Sakit perut, diare, mual, muntah, serta kolik merupakan beberapa efek samping dari piperazine.
  • Albendazole. Obat ini biasanya dianjurkan untuk dikonsumsi sebanyak 2 kali sehari. Sakit perut, mual, muntah, pusing, serta ruam kulit adalah beberapa efek samping yang mungkin dialami oleh pasien setelah meminum albendazole.

Pencegahan 

  • Cuci tangan dengan air bersih dan sabun, misalnya sebelum makan, memasak, maupun setelah buang air besar.
  • Pastikan masakan benar-benar matang sebelum mengonsumsinya.Minumlah air dalam kemasan yang tersegel ketika bepergian. 
  • Jika tidak tersedia, masaklah air hingga mendidih sebelum meminumnya.
  • Konsumsi buah-buahan yang bisa dikupas, misalnya jeruk atau apel.Cucilah buah dan sayuran hingga bersih sebelum dikonsumsi.


    Advertisements

    Gejala dan Penanganan Terkini Dispepsia Fungsional

    Gejala dan Penanganan Terkini Dispepsia Fungsional

    Dispepsia merupakan gejala atau kumpulan gejala berasal dari regio gastroduodenum yang dapat berupa nyeri epigastrium, rasa terbakar, rasa penuh setelah makan, perasaan cepat kenyang, dan lainnya termasuk rasa kembung pada area abdomen atas, mual, muntah, dan berdahak.

    Keluhan dispepsia kronik dapat terjadi terus-menerus, intermiten, atau kambuhan yang dirasakan minimal 6 bulan atau lebih. 

    Berdasarkan kriteria Roma III, dispepsia fungsional adalah adanya satu atau lebih dari:

    • Rasa penuh (kekenyangan) setelah makan (bothersome postprandial fullness)
    • Perasaan cepat kenyang
    • Nyeri ulu hati
    • Rasa terbakar di ulu hati
    • Tidak ditemukan kelainan struktural yang dapat menjelaskan keluhan saat dilakukan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas (SCBA)
    • Keluhan berlangsung > 3 bulan terus menerus, atau dimulai sejak 6 bulan sebelum diagnosis ditegakkan. 

    Dispepsia fungsional dibagi kedalam dua kategori diagnostik, yaitu:

    1. Postprandial distress syndrome (PDS)
    2. Epigastric Pain Syndrome (EPS)

    Penyebab dispepsia fungsional bersifat multifaktorial, diduga dapat timbul karena keterlambatan pengosongan lambung, hipersensitif aferen visera terhadap zat asam dan lemak sehubungan dengan rangsang sentral maupun perifer, status inflamasi ringan, serta predisposisi genetis. 

    Rangsang psikis atau emosi dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna melalui jalur neurogenik atau jalur neurohormonal. 

    • Diagnosa ditegakkan berdasarkan klinis dan pemeriksaan endoskopi saluran cerna bagian atas

    • Rasa sakit dan tidak enak di ulu hati. Perih, mual, muntah, cepat kenyang, kembung, sering bersendawa, regurgitasi. 
    • Keluhan dirasakan umumnya berhubungan / dicetuskan dengan adanya stres, berlangsung lama dan sering kambuh. Sering disertai gejala- gejala ansietas dan depresi (misalnya dysphoric state) 
    • Evaluasi sistem kardiovaskuler, hepatobilier, ginjal, tiroid: dalam batas normal
    • Turgor kulit, berat badan
    • Laboratorium: Hb, Ht, leukosit, gula darah, faal ginjal, tes fungsi hati, urin lengkap, darah samar feses, dan pemeriksaan laboratorium lain sesuai indikasi untuk menyingkirkan diagnosis banding (misal hormon tiroid, kalsium, dsb)
    • EKG
    • Radiologi : Foto lambung dan duodenum dengan kontras
    • Pemeriksaan endoskopi bagian atas (EGD) :
    1. Pemeriksaan untuk Helicobacter Pylori
    2. Stress analyzer/ Heart rate variability untuk menilai vegetative imbalance

    Diagnosis Banding

    • Dispepsia organik, misalnya ulkus peptikum, gastritis erosif, infeksi saluran cerna, GERD
    • Gangguan pada sistem hepato-bilier dan pankreas
    • Intoleransi laktosa a tau karbohidrat lain (fruktosa, sorbitol), sindrom kolon iritabel
    • Dispepsia yang disebabkan penyakit kronik seperti gagal ginjal, diabetes melitus, keganasan,dsb
    • Iskemia jantung, gagal jantung kongestif, tuberkulosis
    • Gangguan psikologis (ansietas dengan ataupun tanpa aerofagia, gangguan penyesuaian, somatisasi pada depresi, hipokondriasis)

    • Pendekatan psikosomatik terhadap aspek fisik, psikososial dan lingkungan: psikoterapi suportif dan psikoterapi perilaku
    • Pengaturan diet untuk mencegah pencetus gejala
    • Simptomatik: diberikan antasida, antagonis H2 (simetidin, ranitidin), penghambat pompa proton (omeprazol, lansoprazol) dan obat prokinetik (metoklopramid, domperidon, cisapride ).
    • Bila jelas terdapat ansietas atau depresi diberikan anti cemas atau anti depresan yang sesuai.
    • Eradikasi Helicobacter pylori bila terbukti ada infeksi penyerta.
    • Obat relaksan fundus gaster (nitrat, sildenafil (phosphodiesterase-S inibitor) dan sumartiptan ( antagoni reseptor 5-HT 1)

    KOMPLIKASI

    • Dehidrasi bila muntah berlebihan
    • Gangguan gizi
    • Berat badan turun

    PROGNOSIS

    • Dispepsia fungsional merupakan penyakit kronis dan keluhan dapat menyerupai gangguan gastrointestinallainnya. Pada beberapa pasien, keluhan akan tetap dirasakan 10 % kasus akan mempunyai keluhan menyerupai gangguan gastrointestinal lain, sedangkan 10% kasus akan remisi spontan. 
    • Walaupun perjalanan penyakit ini tidak stabil, tetapi hanya 2 % kasus akan berkembanga menjadi ulkus peptikum dalam 7 tahun, belum terbukti penyakit ini menyebabkan kematian. 

    REFERENSI

    • Hasler, W L. Naussea, Vomiting and Indigestion. In : Kasper D L, et al ediors. Harrison’s Principal of Internal Medicine 16th ed. Me Grow-Hill Companies: 2005. p222- 223.

    Penyebab dan Penanganan Ikterus atau Kuning Pada Jaringan Tubuh

    Penyebab dan Penanganan Ikterus atau Kuning Pada Jaringan Tubuh
    Ikterus adalah warna kuning pada jaringan tubuh karena deposit bilirubin ternyata ikretus jika level bilirubin > 3mg/dL (tergantung dari warna kulit) 

    Ikterus diklasifikasikan menjadi tiga kategori, tergantung pada bagian mana dari mekanisme fisiologis mempengaruhi patologi. 

    Klasifikasi ikterus tersebut adalah

    • Pra-hepatik: patologi yang terjadi sebelum hati
    • Hepatik: patologi terletak di dalam hati
    • Post hepatik: patologi terletak setelah konjugasi bilirubin dalam hati


    • Penggunanan obat-obatan jangka panjang seperti analobik steroid, vitamin, herbal, dll
    • Riwayat penggunaan obat-obatan suntik, tato, aktivitas seksual risiko tinggi
    • Riwayat konsumsi makanan dengan kontaminasi yang tidak baik, konsumsi alkohol jangka panjang
    • Atralgia, mialgia, rash, anoreksia, berat badan turun, nyeri perut, pruritus, demam, perubahan warna urin dan warna fases
    • Stigmata penyakit hati kronis: spider nevi, palmar eritema,, gynecomastia, caput medusa
    • Atrofi testis pada sirosis hepatis dekompensata
    • Pembesaran kelenjar limfe supraclavicular atau nodul periumbilical, curiga keganasan abdomen
    • Distensi vena jugular, gejala gagal jantung kanan, pada kongesti hati
    • Efusi pleura kanan, ascites:pada sirosis hati dekompensata
    • Hepatomegali, splenomegali
    • Darah: alkalin fostafate(ALP), aspartat aminotransferase (AST), alanin aminotransferase, bilirubin total, konjugasi bilirubin, bilirubin tak terkonjungasi, albumin, protrombim time (PT)
    • Urin: urobilinogen, bilirubin urin

    DIAGNOSIS BANDING

    • Hiperkarotenemia 

    • Tatalaksana suportif: koreksi cairan dan elektrolit, penurunan demam (jika disertai demam), dan lain-lain
    • Tatalaksana sesuai dengan penyakit yang mendasari (malaria, hepatitis virus akut, sirosis hati, batu system bilier)

    KOMPLIKASI

    • Sepsis, komplikasi lain sesuai dengan penyakit penyebabnya 

    PROGNOSIS

    • Prognosis tergantung penyakit penyebabnya, lebih lengkap dapat dilihat pada bab malaria, hepatitis virus akut, sirosis hati, batu system biliber, dan lain-lain. 

    REFERENSI

    • Jaundice. Dalam : Fauci A, Kasper D, Longo D, Braunwald E, Hauser S, Jameson J, Loscalzo J, editors. Harrison’s principles of internal medicine. 18 1h ed. United States of America; The McGraw- Hill Companies, 2012.
    • Liver and Biliary tract. Dalam : McPhee, Stephen J. Papadakis, Maxine A. Current Medical Diagnosis and Treatment. The McGraw Hills Companies. 2011
    • Approach to patient with jaundice or abnormal liver test results. Dalam : Ausiello. Goldman. Cecil Medicine 23’d edition. Saunders: Philadhelphia. 2007.

    Gejala dan Penanganan Terkini Perlemakan Hati Non Alkoholik

    Gejala dan Penanganan Terkini Perlemakan Hati Non Alkoholik
    Penyakit perlemakan hati non alkoholik (NAFLD/non alcoholic fatty liver atau NASH/ Non alcoholic steatohepatitis) merupakan suatu sindrom klinis dan patologis akibat perlemakan hati, ditandai oleh berbagai tingkat perlemakan, peradangan dan fibrosis pada hati. 

    Perlemakan hati (fatty liver atau steatosis) merupakan suatu keadaan adanya lemak di hati (sebagian besar terdiri dari trigliserida) melebihi 5% dari seluruh berat hati yang disebabkan kegagalan metabolisme lemak hati dikarenakan defek diantara hepatosit atau proses transport kelebihan lemak, asam lemak, atau karbohidrat karena melebihi kapasitas sel hati untuk sekresi lemak. Kriteria non alkoholik karena melebihi kapasitas sel hati untuk sekresi lemak. Kriteria non alkoholik disepakati bahwa konsumsi alkohol < 20 gram/hari. 

    Terjadinya perlemakan hati melalui 4 mekanisme yaitu:

    • Peningkatan lemak dan asam lemak dari makanan yang dibawa ke hati
    • Peningkatan sintesis asam lemak oleh mitokondrial atau menurunnya oksidasi yang meningkatkan produksi trigliserida
    • Kelainan transport triliserida keluar dari hati
    • Peningkatan konsumsi karbohidrat yang selanjutanya dibawa ke hati dan dikonversi menjadi asam lemak
    • Faktor resiko: obesitas, diabetes mellitus, hipertrigliserida, obat-obatan (amiodaron, amoksifen, steroid, estrogen sintetik) dan toksin (pestisida). 
    • Berdasarkan tingkat gambaran histopatologik ada beberapa perjalanan ilmiah penyakit ini yaitu perlemakan hati sederhana, steatohepatitis, steatohepatitis yang disertai fibrosis dan sirosis. 

    Hipotesis terjadinya NAFLD Yaitu:

    • First hit
    • Terjadi beberapa penumpukan lemak di hepatosit akibat peningkatan lemak bebas pada dislipdemia, obesitas, diabetes mellitus. Bertambahnya asam lemak bebas di dalam hati akan menimbulkan peningkatan oksidasi dan esterifikasi lemak pada mitokondria sel hati sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kerusakan mitokondria itu sendiri.

    Second hit

    • Peningkatan stress oksidatif dapat terjadi karena resistensi insulin, peningkatan endotoksin di hati, peningkatan aktivitas un-coupling protein mitokondrial, peningkatan aktivitas sitokrom P 450, peningkatan cadangan besi, dan menurunnya aktivitas antioksidan. Ketika stres oksidatif yang terjadi melebihi kemampuan perlawanan antioksidan, maka aktifasi sel stelata dan sitokin pro inflamasi akan berlanjut dengan inflamasi progresif, pembengkakan hepatosit dan kematian sel, pembentukan badan Mallory, serta fibrosis.

    • Umumnya pasien tidak menunjukkan gejala atau tanda-tanda penyakit hati, beberapa pasien mengeluhkan rasa lemah, malaise, rasa mengganjal diperut kanan atas. Riwayat konsumsi alkohol, riwayat penyakit hati sebelumnya. 
    • FUNGSI HATI: peningkatan ringan (< 4 kali) AST( Aspartate aminotransferase), ALT (alanine aminotransfrase). AST > ALT pada kasus hepatitis karena alkohol.
    • Alkali fostase, gamma GT (glutamil transferase): dapat meningkat
    • Bilirubin serum, albumin serum, dan prothrombin time: dapat normal, kecuali pada kasus NAFLD terkait sirosis hepatis
    • Gula darah, profil lipid, sero marker hepatitis
    • ANA, Anti ds DNA: titer rendah(<1:320)
    • USG : Gambaran bright liver
    • CT Scan
    • MRI: deteksi infiltrasi lemak
    • Biopsi hati: baku emas diagnosis. Ditemukan 5-10% sel lemak dari keseluruhan hepatosit, peradangan lobules, kerusakan heptatoselular, hialin Mallory dengan atau tanpa fibrosis. Kegunaan biopsy hati : Membedakan steatosis non alkoholik dengan perlemakan tanpa atau disertai inflamasi, menyingkirkan etiologi penyakit hati lain, memperkirakan prognosis, dan menilai progresi fibrosi dari waktu ke waktu. Grading dan staging NAFL

    DIAGNOSI BANDING

    • Hepatitis B dan C Kronik, penyakit hati autoimun, hemokromatosis, penyakit Wilsons, defesiensi antitrypsin 

    PENATALAKSANAAN

    • Nonfarmakologis
    • Mengontrol faktor resiko: penurunan berat badan, kontrol gula darah, memperbaiki profil lipid, memperbaiki resistensi insulin, mengurangi asupan lemak ke hati, dan olah raga. 
    • Farmakologis
    • Antidiabetik dan insulin sentizier:
    • Metformin 3 x 500 mg selama 4 bulan di dapatkan perbaikan konsentrasi AST dan ALT, Peningkatan sensitivitas insulin, dan penurunan volume hati. Cara kerja: meningkatkan kerja insulin pada sel hati dan menurunkan produksi glukosa hati melalui penghambatan TNF-α
    • Tiazolidindion (pioglitazon): memperbaiki kerja insulin di jaringan adipose
    • Obat anti hiperlipidemia
    • Gemfibrozil: perbaikan ALT dan konsentrasi lipid setelah pemberian 1 bulan
    • Atorvastatin: perbaikan parameter biokimia dan histology
    • Antioksidan
    • Tujuan: mencegah steatotis menjadi steatohepatitis dan fibrosis
    • Vitamin E, vitamin C, betain, N-asetilsisten
    • Vitamin E400,800 IU/ hari dapat menurunkan TGF-β, memperbaiki inflamasi dan fibrosis, perbaikan fungsi hati dengan cara menghambat produksi sitokin oleh leukosit
    • Betain berfungsi sebagai donor metail pada pembentukan lesitin dalam siklus metabolic metionin, dengan dosis 20 mg/hari selama 12 bulan terlihat perbaikan bermaka konsentrasi ALT, steatosis, aktivitas nekorinflamasi, dan fibrosis
    • Ursideoxycholic acid (UDCA adalah asam empedu yang mempunyai efek imunomodultor, pengaturan lipid, efek sitoproteksi. Dosis 13-15 mg/kg berat badan selama satu tahun menunjukkan perbaikan ALT, fosfatase alkali, gamma GT, dan steatosis tanpa perbaikan bermakna derajat inflamasi dan fibrosis.

    KOMPLIKASI

    • Sirosis hati, karsinoma hepatoselular. 

    PROGNOSIS

    • Pada 257 pasien NAFL yang dipantau selama 3,5 tahun sampai 11 tahun melalui biopsy hati, didapatkan 28% mengalami kerusakan hati progresif, 59% tidak mengalami perubahan, dan 13% membaik. Pasien steatohepatitis non alkoholik memiliki kesintasan yang lebih pendek yaitu 5-10 tahun. Kesintasan 5 tahun hanya 67% dan kesintasan 10 tahun 59%. Banyak faktor yang mempengaruhi mortalitas yaitu obesitas, diabetes mellitus dan komplikasinya, komorbiditas lain yang berkaitan dengan obesitas, serta kondisi hati sendiri
    • Pada beberapa penelitan menunjukkan bahwa NAFL merupakan kondisi yang berlangsung kronik ( beberapa tahun) dan tidak akan berkembang menjadi penyakit hati berat. Fungsi hati tetap stabil dalam beberapa waktu. Pada beberapa pasien, NAFLD dapat berkembang menyebabkan kerusakan hati pada 3% pasien 54 % tetap stabil, dan 43% pasien memburuk. Resiko menjadi sirosis yaitu 8-26%. 

    REFERENSI

    • Sherlock S, Dooley J. Non-alcoholic Fatty Liver Disease and Nutrition. In: Dooley J, Lok A Burroughs A Heathcot. Diseases of the Liver and biliary System. 12’h ed. UK: Blackwell Science. P546-567
    • Kaplan M. Nonalcoholic steatohepatitis (NASH). Diunduh dari http:/ /www.uptodate.com/ contents/patient-information-nonalcoholic-steatohepatitis-nash-beyond-the-basics pada tanggal22 Mei 2012

    Sirosis Hati: Tanda, Gejala dan Penanganan

    Sirosis Hati: Tanda, Gejala dan Penanganan
    Sirosis hati adalah penyakit hati kronis yang ditandai dengan hilangnya arsitektur lobules normal oleh fibrosis, dengan destruksi sel parenkim disertai dengan regenerasi yang membentuk nodulus. 

    Penyakit ini memiliki periode laten yang panjang, biasanya diikuti dengan pembengkakan abdomen dengan atau tanpa nyeri, hematemesis, edema dan ikterus. Pada stadium lanjut, gejala utamanya berupa asites, jaundice, hipertensi portal, dan gangguan system saraf pusat yang dapat berakhir menjadi koma hepatikum. 

    • Perasaan mudah lelah dan berat badan menurun
    • Anoreksia, dyspepsia
    • Nyeri abdomen
    • Jaundice, gatal, warna urin lebih gelap dan feses dapat lebih pucat
    • Edema tungkai atau asites
    • Perdarahan: hidung, gusi, kulit , saluran cerna
    • Libido menurun
    • Riwayat : jaundice, hepatitis, obat-obatan hepato toksik, tranfusi darah
    • Kebiasaan minum alcohol
    • Riwayat keluarga: penyakit hati, penyakit autoimun

    Gejala awal sirosis (kompensata):

    • Perasaan mudah lelah dan lemas, selera makan berkurang, perasaan perut kembung, mual, berat badan menurun
    • Gejala lanjut sirosis (dekompnsata):
    • Bila terdapat kegagalan hati dan hipertensi portal, meliputi hilangnya rambut badan, gangguan tidur, demam subfebris, perut membesar, bila terdapat gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis, hematemesis melena, ikterus, perubahan siklus haid, serta perubahan mental. Pada laki-laki dapat impotensi. Buah dada membesar, hilangnya dorongan seksualitas.Pemeriksaan Fisik
    • Status nutrisi, demam, fetor hepatikum, ikretus, pigmentasi, purpura, clubbing finger, white nails, spider naevi, eritema Palmaris, ginekomastia, atrofi testis, distribusi rambut tubuh, pembesaran kelenjar parotis, kontraktur dupuytren-(dapat ditemukan pada sirosis akibat alkoholisme namun dapat juga idiopatik) ,hipogonadisme, asterixis bilateral, tekanan darah.
    • Abdomen: asites, pelebaran vena abdomen, ukuran hati bisa membesar/normal/kecil, splenomegali
    • Edema perifer
    • Perubahan neurologis, fungsi mental, stupor, tremor
    • SGOT/SGPT: dapat meningkat tapi tak begitu tinggi: biasanya SGOT lebih meningkat dari SGPT dapat pula normal
    • Alkali fosfatase: dapat meningkat 2-3 x dari batas normal atau normal
    • GGT: dapat meningkat atau normal
    • Bilirubin: dapat normal atau meningkat
    • Albumin: menurun
    • Globulin meningkat: rasio albumin dan globulin terbalik
    • Waktu protrombin : memanjang
    • Sering terjadi anemia, trombositopenia, leukopenia, netropenia dikaitkan dengan hipersplenisme. Bila terdapat asites, periksa elekrolit, ureum, kreatinin, timbang setiap hari, ukur volume urin 24 jam dan ekskresi natrium urin.
    • USG: sudut hati, permukaan hati, ukuran, homogenitas, dan ada tidaknya massa, pada sirosis lanjut hati mengecil dan nodular, permukaan ireguler, peningkatan ekogentias parenkim hati, vena hepatica sempit dan berkelok-kelok
    • Transient elastopraphy (fibroscan)
    • CT scan: informasi sama dengan USG biaya relatif mahal, MRI
    • EEG bila ada perubahan status neurologis
    • Esofagugastroduodenoskopi, skrining varises esogafus
    • Cek AFP untuk skrining hepatoma
    • Mencari etiologi: serologi hepatitis (HbsAg anti HCV), Hepatitis autoimun (ANA, antibody anti-smooth muscle), pemeriksaan Fe dan Cu (atas kecurigaan adanya penyakit Wilson) pemeriksaaan α1 – antitrypsin (atas indikasi pada yang memiliki riwayat merokok dan mengalami PPOK) Biopsi hati.

    DIAGNOSIS BANDING

    • Hepatitis kronik aktif 

    KOMPLIKASI

    • Varises esophagus/gaster, hipertensi portal, peritonitis bakterial spontan, sindrom hepatorenal, sindrom hepatopulmonal, gangguan hemostasis, ensefalopati hepatikum, gastropati hipertensi portal 

    • Istirahat cukup
    • Diet seimbang (tergantung kondisi klinis)
    • Pada pasien sirosis dekompensata dengan komplikasi asites: diet rendah garam
    • Laktulosa dengan target BB 2-3 x sehari
    • Terapi penyakit penyebab

    REFERENSI

    • Bacon BR. Cirrhosis and Its Complications. In: Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL Jameson JL Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18’h Edition. New York, McGraw-Hill. 2012
    • McCormick PA. Hepatic Cirrhosis. In: Dooley JS, Lok ASF, Burroughs AK, et al. Sherlock’s Diseases of the Liver and Biliary System. 12 1 h Edition. United Kingdom: Blackwell Publishing Ltd. 2011. Hall 03-19
    • Elsayed EY, Riad GS, Keddeas MW. Prognostic Value OF MELD Score in Acute Variceal Bleeding. Researcher 201 0;2(4) :22-27

    Penanganan Terkini Infeksi Saluran Kemih (ISK) Pada Dewasa

    Penanganan TerkinI Infeksi Saluran Kemih (ISK)

    Infeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan adanya infeksi (ada perkembangbiakan bakteri) dalam saluran kemih, meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuria yang bermakna. 

    Bakteriuria yang bermakna adalah bila ditemukan pada biakan urin pertumbuhan bakteri sejumlah > 100.000 per ml urin segar (yang diperoleh dengan cara pengambilan yang steril atau tanpa kontaminasi) 

    Faktor resiko: 

    • kerusakan atau kelainan anatomi saluran kemih berupa obstruksi internal oleh jaringan parut, pemasangan kateter urin yang lama,endapan obat intratubular,refluks,instrumentasi saluran kemih, konstriksi arteri-vena,hipertensi,analgetik,ginjal polikistik, kehamilan,DM, atau pengaruh obat – obat estrogen. 

    ISK Sederhana / tak berkomplikasi

    • ISK yang terjadi tidak terdapat disfungsi struktural ataupun ginjal 

    ISK Berkomplikasi

    • ISK yang berlokasi selain di vesika urinaria,ISK pada anak-anak,laki-laki,atau ibu hamil. 

    Anamnesis

    • ISK bawah: frekuensi, disuria terminal, polakisuria,nyeri suprapubik. 

    ISK Atas: nyeri pinggang,demam,menggigil,mual dan muntah,hematuria. 

    Anamnesis adanya faktor resiko. 

    Pemeriksaan FisikFebris,nyeri tekan suprapubik, nyeri ketok sudut kostovertebra 

    Pemeriksaan Penunjang

    DPL,tes resistensi kuman,tes fungsi ginjal, gula darah

    Kultur urin (+): bakteriuria > 100.000/ml urin

    Foto BNO-IVP bila perlu

    USG ginjal bila perlu

    Diagnosis Banding

    Keganasan kandung kemih

    Nonbacterial cystitis

    Interstitial cystitis

    Pelvic inflammatory disease

    Pyelonephritis akut

    Urethritis

    Vaginitis

    PENATALAKSANAANNonfarmakologisBanyak minum bila fungsi ginjal masih baik. Menjaga higiene genitalia eksterna.

    FarmakologisAntimikroba berdasarkan pola kuman yang ada. Bila hasil tes resistensi kuman sudah ada, pemberian antimikroba disesuaikan. 

    KOMPLIKASIBatu saluran kemih,obstruksi saluran kemih,sepsis,infeksi kuman yang multiresisten,gangguan fungsi ginjal. 

    PROGNOSISInfeksi saluran kemih tanpa kelainan anatomis mempunyai prognosis yang lebih baik bila dilakukan pengobatan pada fase akut yang adekuat dan disertai pengawasan terhadap kemungkinan infeksi berulang. 

    REFERENSI

    Infeksi saluran kemih.In:Sudoyo A, Setiyohadi B,Alwi I,Simadibrata M,Setiati S,editors.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.5th ed.jakarta;Pusat informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI.2009.

    Infection of the urinary tract.Dalam:Wein et al.Campbell-Walsh urology.9th Edition.Saunders.

    Penanganan Terkini "Krisis Hipertensi" 

    Penanganan Terkini “Krisis Hipertensi” 

    Krisis Hioertensi merupakan suatu sindroma klinis yang ditandai dengan peningkatan takanan darah mendadak pada penderita hipertensi, dimana tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan tekanan darah diastolik > 120 mmHg, dengan komplikasi disfungsi dari target organ, baik yang sedang dalam proses maupun sudah dalam tahap akut progresif. 

    Yang dimaksud target organ disini adalah jantung,otak,ginjal,mata(retina),dan arteri perifer. 

    Sindrom klinis krisis hipertensi meliputi:

    • Hipertensi gawat (hypertensive emergency): peningkatan tekanan darah yang disertai kerusakan target organ akut.
    • Hipertensi mendesak (hypertensive urgency): peningkatan tekanan darah tanpa disertai kerusakan target organ akut progresif
    • Hipertensi akselerasi (accelerated hypertension):peningkatan tekanan darah yang berhubungan dengan perdarahan retina atau eksudat
    • Hipertensi maligna (malignant hypertension): peningkatan tekanan darah yang berkaitan dengan edema papil

    Anamnesis

    • Selain ditanyakan mengenai etiologi hipertensi pada umumnya, perlu juga ditanyakan gejala-gejala kerusakan target organ seperti: gangguan penglihatan,edema pada ekstremitas,penurunan kesadaran,sakit kepala,mual/muntah,nyeri dada,sesak napas,kencing sedikit/berbusa,nyeri seperti disayat pada abdomen. 

    Pemeriksaan Fisik

    • Tekanan darah pada kedua ekstremitas,perabaan denyut nadi perifer,bunyi jantung,bruit pada abdomen,adanya edema atau tanda penumpukan cairan, funduskopi,dan status neurologis. 

    Pemeriksaan Penunjang

    • Darah perifer lengkap,panel metabolik,urinalisis,toksikologi urin,EKG,CT Scan, MRI,foto toraks. 

    Diagnosis Banding

    • Penyebab hipertensi emergency.
    • Kondisi serebrovaskular: ensefalopati hipertensi,infark otak aterotrombotik dengan hipertensi berat,perdarahan intraserebral,perdarahan subarahnoid, dan trauma kepala
    • Kondisi jantung: diseksi aorta akut,gagal jantung kiri akut,infark miokard akut,pasca operasi bypass koroner
    • Kondisi ginjal: GN akut,hipertensi renovaskular,krisis renal karena penyakit kolagen-vaskular,hipertensi berat pasca transplantasi ginjal
    • Akibat katekolamin di sirkulasi: krisis feokromositoma,interaksi makanan atau obat dengan MAO inhibitor, penggunaan obat simpatomimetik,mekanisme rebound akibat penghentian mendadak obat antihipertensi, hiperrefleksi otomatis pasca cedera korda spinalis
    • Eklampsia
    • Kondisi bedah: hipertensi berat pada pasien yang memerlukan operasi segera,hipertensi pasca operasi, perdarahan pasca operasi dari garis jahitan vaskular
    • Luka bakar berat
    • Epistaksis berat
    • Thrombotic thrombocytopenic purpura

    • Hipertensi mendesak(Hypertensive urgency/HU) dapat diterapi rawat jalan dengan antihipertensi oral, terapi ini meliputi penurunan TD dalam 24-48 jam.Penurunan TD tidak boleh lebih dari 25% dalam 24 jam pertama. Nifedipine oral ataupun sublingual saat ini tidak lagi dianjurkan karena dapat menyebabkan hipotensi berat dan iskemik organ.
    • Pada sebagian besar HE, tujuan terapi parenteral dan penurunan mean arterial pressure(MAP) secara bertahap (tidak lebih dari 25% dalam beberapa menit sampai 1 jam). Aturannya adalah menurunkan arterial pressure yang meningkat sebanyak 10% dalam 1 jam pertama, dan tambahan 15% dalam 3-12 jam. 
    • Setelah diyakinkan tidak ada tanda hipoperfusi organ,penurunan dapat dilanjutkan dalam 2-6 jam sampai tekanan darah 160/100-110 mmHg selanjutnya sampai mendekati normal. TD dapat diturunkan lebih lanjut dalam 48 jam berikutnya
    • Pada hipertensi kronis,autoregulasi serebral di-set pada TD yang lebih tinggi daripada normal. Penyesuaian kompensasi ini untuk mencegah overperfusi jaringan(peningkatan TIK) pada TD sangat tinggi, namun juga underperfussion(iskemia serebral) apabila TD diturunkan terlalu cepat. Pada pasien dengan penyakit jantung koroner,penurunan TD diastolik terlalu cepat di ICU dapat memicu iskemik miokard akut atau infark.

    KOMPLIKASI

    • Kerusakan organ target 

    PROGNOSIS

    • Tergantung respon terapi dan kerusakan target organ 

    REFERENSI

    • Chobanian AV et al:The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention,Detection,Evaluation,and Treatment of High Blood Pressure: The JNC 7 Report.JAMA.2003:289:2560-72
    • Roesma J.Krisis Hipertensi.Dalam:SudoyoA,Setiyohadi B,Alwi,et al.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Edisi V.Jilid II.Jakarta: Interna Publishing;2009.Hal 1103-4

    Penanganan Terkini Hipertensi

    Penanganan Terkini Hipertensi

    Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah (TD) sama atau melebihi 140 mmHg sistolik dan / atau sama atau lebih dari 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang minum obat antihipertensi. 

    Anamnesis

    • Durasi hipertensi
    • Riwayat terapi hipertensi sebelumnya dan efek sampingya bila ada
    • Riwayat hipertensi dan kardiovaskular pada keluarga
    • Kebiasaan makan dan psikososial
    • Faktor resiko lainnya: kebiasaan merokok, perubahan berat badan, dislipidemia,diabetes, inaktivitas fisik
    • Bukti hipertensi sekunder: riwayat penyakit ginjal, perubahan penampilan, kelemahan otot (palpitasi,keringat berlebihan,tremor), tidur tidak teratur,mengorok, somnolen di siang hari, gejala hipo atau hipertiroidisme, riwayat konsumsi obat yang dapat menaikkan tekanan darah
    • Bukti kerusakan organ target: riwayat TIA, stroke, buta sementara, penglihatan kabur tiba-tiba, angina, infark miokard, gagal jantung, disfungsi seksual

    Pemeriksaan Fisik

    • Pengukuran tinggi dan berat badan, tanda – tanda vital
    • Pengukuran Tekanan Darah metode auskultasi :
    • Palpasi leher apabila terdapat pembesaran kelenjar tiroid
    • Palpasi pulsasi arteri femoralis, pedis
    • Auskultasi bruit karotis, bruit abdomen
    • Funduskopi
    • Evaluasi gagal jantung dan pemeriksaan neurologis

    Pemeriksaan Penunjang

    • Urinalisis, tes fungsi ginjal, ekskresi albumin, serum BUN, kreatinin, gula darah, elektrolit, profil lipid,foto toraks, EKG. sesuai penyakit penyerta: asam urat,USG ginjal, ekokardiografi. 

    Diagnosis Banding

    • Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertension, rasa nyeri, peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat, dll 

    • Modifikasi gaya hidup
    • Pemberian B-Bloker pada pasien unstable angina / non-ST elevated myocardial infark(NSTEMI) atau STEMI harus memperhatikan kondisi hemodinamik pasien. B-Bloker hanya diberikan pada kondisi hemodinamik stabil.
    • Pemberian angiotensin convertin enzyme inhibitor (ACE-I) atau angiotensin receptor bloker (ARB) pada pasien NSTEMI atau STEMI apabila hipertensi persisten, terdapat infark miokard anterior, disfungsi ventrikel kiri, gagal jantung, atau pasien menderita diabetes dan penyakit ginjal kronik
    • Pemberian antagonis aldosteron pada pasien disfungsi ventrikel kiri bila terjadi gagal jantung berat (misal gagal jantung NYHA kelas III-IV atau fraksi ejeksi ventrikel kiri < 40% dan klinis gagal jantung Kondisi khusus lain: Obesitas dan sindrom metabolik terdapat 3 atau lebih keadaan berikut: lingkar pinggang laki-laki > 102 cm atau perempuan > 89 cm, toleransi glukosa terganggu dengan gula darah puasa 110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi 150 mg/dl, kolesterol HDL rendah < 40 mg/dl pada laki – laki atau < 50 mg/dl pada perempuan.Modifikasi gaya hidup yang intensif dengan pilihan terapi utama golongan ACE-I. Pilihan lain ARB,CCB. Hipertropi ventrikel kiri Tatalaksana agresif termasuk penurunan berat badan dan restriksi garam Pilihan terapi: dengan semua kelas antihipertensi Kontra indikasi: vasodilator langsung, hidralazin dan minoksidil Penyakit arteri perifer: semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor resiko lain, dan pemberian aspirin. Lanjut usia (>65 tahun)
    • Identifikasi etiologi lain yang bersifat irreversibel
    • Evaluasi kerusakan organ target
    • Evaluasi penyakit komorbid lain yang mempengaruhi prognosis
    • Identifikasi hambatan dalam pengobatan

    Terapi farmakologis:

    • diuretik thiazid, CCB

    Kehamilan

    • Pilihan terapi: metildopa, Beta Bloker, dan vasodilator
    • Kontraindikasi: ACE-I dan ARB

    KOMPLIKASI

    • Hipertrofi ventrikel kiri, protein uria dan gangguan fungsi ginjal, aterosklerosis pembuluh darah, retinopati, stroke atau TIA, infark miokard, angina pektoris, gagal jantung. 

    PROGNOSIS

    • Hipertensi tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikontrol dengan terapi yang sesuai. Terapi kombinasi obat dan modifikasi gaya hidup umumnya dapat mengontrol tekanan darah agar tidak merusak organ target. Oleh karena itu, obat antihipertensi harus terus diminum untuk mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi. 

    REFERENSI

    • Kotchen T.Hypertensive vascular disease. In: Longo DL.Fauci AS,Kasper DL,Hauser SL,Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine.18th Edition.New York:McGraw-Hill:2012.

    Penanganan Terkini Sindrom Nefrotik Pada Dewasa

    Penanganan Terkini Sindrom Nefrotik Pada Dewasa

    Sindrom nefrotik (SN) merupakan salah satu gambaran klinik penyakit glomerular yang ditandai dengan proteinuria masif > 3,5 gram/24 jam disertai hipoalbuminemia < 3,5 g/L, edema, hiperkolesterolemia dan lipiduria. 

    • Gejala klasik SN ditandai dengan edema, proteinuria berat, hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia, dan lipiduria. SN dapat bermanifestasi dengan spektrum keluhan yang luas, mulai dari proteinuria asimptomatik sampai keluhan yang sering yaitu bengkak. 

    • Bengkak biasanya berawal pada area dengan tekanan hidrostatik intravaskular yang tinggi seperti kedua kaki dan ankle, tetapi dapat juga terjadi pada area dengan tekanan hidrostatik intravaskular yang rendah seperti periorbita dan skrotum. 
    • Bila bengkak hebat dan generalisata dapat bermanifestasi sebagai anasarka. Keluhan buang air kecil berbusa. Gejala-gejala lain dapat muncul sebagai manifestasi penyakit penyebab SN sekunder seperti diabetes melitus, nefritis lupus, riwayat obat-obatan, riwayat keganasan atau amyloidosis. 
    • Pretibial edema, edema periorbita, edema skrotum, edema anasarka, asites. Xanthelasmas bisa didapatkan akibat hyperlipidemia 
    • Laboratorium: Proteinuria masif > 3,5 gram/24 jam, hiperlipidemia, hipoalbuminemia (< 3,5 gram/dl), lipiduria, hiperkoagulabilitas
    • Biopsi ginjal: dapat digunakan untuk penegakkan diagnosis

    Non FARMAKOLOGIS

    • Istirahat
    • Restriksi protein dengan diet protein 0,8 gram/kgBB ideal/hari + ekskresi protein dalam urin/24 jam. Bila fungsi ginjal sudah menurun, diet protein disesuaikan hingga 0,6 gram/kgBB ideal/hari + ekskresi protein dalam urin/24 jam
    • Diet rendah kolesterol < 600 mg/hari
    • Berhenti merokok
    • Diet rendah garam, restriksi cairan pada edema

    FARMAKOLOGI

    • Pengobatan edema: diuretik loop
    • Pengobatan proteinuria dengan penghambat ACE dan/atau antagonis reseptor Angiotensin II
    • Pengobatan dislipidemia dengan golongan statin
    • Pengobatan hipertensi dengan target tekanan darah < 125/75 mmHg. Penghambat ACE dan antagonis reseptor Angiotensin II sebagai pilihan obat utama
    • Pengobatan kausal sesuai etiologi SN

    KOMPLIKASI

    • Gagal jantung
    • sirosis hepatis
    • penyakit ginjal kronik
    • tromboemboli 

    PROGNOSIS

    • Hanya sekitar 20% pasien yang menderita fokal glomerulosclerosis mengalami remisi dari proteinuria, 10% membaik tapi masih mengalami proteinuria.Stadium akhir penyakit ginjal berkembang pada 25-30% pasien dengan fokal segmental glomerulosclerosis dalam waktu 5 tahun dan 30-40% dalam 10 tahun. 
    • Prognosis pasien dengan perubahan nefropati minimal memiliki risiko kambuh. Tetapi prognosis jangka panjang untuk fungsi ginjalnya baik, dengan sedikit risiko gagal ginjal. Respon pasien yang buruk terhadap steroid dapat menyebabkan hasil yang buruk. Pada sindroma nefrotik sekunder, mortalitas dan morbiditas tergantung pada penyakit primernya. 
    • Pada nefropati diabetik tingkat proteinuria berhubungan langsung dengan mortalitas. Pada amyloidosis primer, prognosis buruk, meskipun dengan kemoterapi. Pada amyloidosis sekunder, perbaikan penyakit penyebab diikuti oleh perbaikan amyloidosis dan sindroma nefrotik yang mengikuti

    REFERENSI

    • Sindroma Nefrotik. In: Sudoyo A, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 5 1h ed. Jakarta; Pusat lnformasi dan Penerbitan Bagian llmu Penyakit Dalam FKUI, 2009:2009- 15
    • Glomerular Disease. In: Fauci A, Kasper D, Longo D, Braunwald E, Hauser S, Jameson J, Loscalzo J, editors. Harrison’s principles of internal medicine. 18 1h ed. United States of America; The McGraw- Hill Companies, 2012:2911 -3

    Gangguan Keseimbangan Kalium, Gejala dan Penanganannya

    Gangguan Keseimbangan Kalium, Gejala dan Penanganannya

    Gangguan kalium ada 2 yaitu hipokalemia dan hiperkalemia. Nilai normal kalium plasma yaitu 3.5 – 5 meq/L. Hipokalemia yaitu kadar kalium plasma < 3.5 meq/L, dan hiperkalemia jika kadar kalium plasma > 5 meq/L. 

    Kalium adalah kation utama dalam intraselular dan berperan penting dalam metabolisme sel. Kalium berfungsi dalam sintesis protein, kontraksi otot, konduksi saraf, pengeluaran hormone, transport cairan, perkembangan janin. Ginjal merupakan pengatur keseimbangan kalium dengan mengatur jumlah yang diekskresikan dalam urin. 

    HIPOKALEMIA

    • Menyingkirkan adanya transcellular shifts (keadaan yang menyebabkan masuknya kalium ke dalam sel)
    • Pemeriksaan kalium urin 24 jam
    • Menghitung transtubular potassium gradient(TTKG)
    Indikasi Koreksi Kalium
    1. Indikasi mutlak :
      • Pasien sedang dalam pengobatan digitalis
      • Pasien dengan ketoasidosis diabetik
      • Pasien dengan kelemahan otot pernafasan
      • Hipokalemia berat (kalium < 2 meq/L)
    2. Indikasi kuat : Kalium harus diberikan dalam waktu tidak terlalu lama yaitu insufisiensi koroner atau iskemia otot jantung, ensefalopati hepatikum, pasien memakai obat yang dapat menyebabkan perpindahan kalium dari ekstra ke intrasel
    3. Indikasi sedang : pemberian kalium tidak perlu segera seperti pada hipokalemia ringan (kalium 3-3,5 meq/L)
    1. Penurunan kalium plasma 1mEq/L sama dengan kehilangan 200 mEq dari total tubuh
    2. Pengobatan penyebab dasar
    3. Terapi hipomagnesia jika ada
    4. Penggantian kalium secara oral (slow correction): 40-60 mEq dapat dinaikkan kadar kalium sebesar 1-1,5mEq/L
    5. Penggantian kalium secara intravena dalam bentuk larutan KCL (rapid correction): jika hiperkalemia berat atau pasien tidak mampu menggunakan kalium per oral. KCL 20 mEq dilarutkan dalam 100cc NaCl isotonik.
    6. Pada kasus aritmia berat atau kelumpuhan otot pernapasan : KCL diberikan dengan kecepatan 40 – 100 mEq/L
    7. Pasien yang menerima 10-20 mEq/jam harus pada pemantauan jantung secara kontinu. Jika terdapat gelombang T datar menunjukkan adanya hiperkalemia dan memerlukan perhatian segera.
    HIPERKALEMIA

    Pendekatan terapi hiperkalemia:

    • Menyingkirkan adanya pseudohyperkalemia, misalnya pemberian kalium intravena, hemolisis selama venipuncture, peningkatan sel darah putih atau trombosit
    • Menyingkirkan adanya transcellular shifts
    • Menentukan LFG.Jika LFG normal pikirkan menurunnya kadar natrium di distal dan menurunnya aliran urin
    1. Pengobatan penyebab dasar
    2. Pembatasan asupan kalium: menghindari makanan yang mengandung kalium tinggi
    3. Pengecekan ulang kadar kalium 1-2 jam setelah terapi untuk menilai keefektifan terapi dan diulang secara rutin sesuai kadar kalium awal dan gejala klinis
    4. Subakut: slow correction
    5. Kation yang mengubah resin (sodium polystyrene sulfonate/Kayexalate): diberikan secara oral, selang nasogastrik, atau melalui retensi enema untuk menukar natrium dengan kalium di usus. Dosis 20-60 gram per oral dengan 100-200ml sorbitol atau 40 gram Kayexalate dengan 40 gram sorbitol dalam 100 ml air sebagai enema.

    6. Akut: rapid correction
      • Kalsium glukonat intravena: untuk menghilangkan efek neuromuskular dan jantung akibat hiperkalemia
      • Glukosa dan insulin intravena: untuk memindahkan kalium ke dalam sel, dengan efek penurunan kalium kira-kira 6 jam. Dosis : insulin 10 unit dalam glukosa 40%, 50 ml bolus intravena, lalu diikuti dengan infuse dextrosa 5% untuk mencegah hipoglikemia
      • Natrium bikarbonat: untuk memindahkan kalium ke dalam sel, dengan efek penurunan kira-kira 1-2 jam
    7. Pemberian alfa 2 agonis (albuterol): untuk memindahkan kalium ke dalam sel. Dosis 10-20mg secara inhalasi maupun tetesan intravena
    8. Dialisis: untuk membuang kalium dari tubuh paling efektif

    Komplikasi

    • Aritmia jantung
    • henti jantung 

    Prognosis

    • Pada hipokalemia jika diterapi dengan adekuat akan sembuh.Resiko peningkatan kadar kalium mencapai 7-8 meq/L menjadi fibrilasi ventrikel yaitu 5%, sedangkan jika kadar kalium 10 meq/L resiko menjadi fibrilasi ventrikel meningkat 90%. Pada kasus berat resiko mortalitas sebesar 67% 



    Referensi

    1. Aminoff M.Fluid and Electrolyte disturbances.In:Fauci A,Kasper D, Braunwald E,Hauser S,Jameson J, Loscalzo J,editors.Harrison’s principles of internal medicine.18th ed.United states of America;The McGraw-Hill Companies,2012
    2. Siregar Parlindungan.Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit.Dalam: Alwi I, Setiati S, Setiyohadi B,Simadibrata M, Sudoyo AW.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV.Jakarta:Interna Publishing;2006:Hal 134-142

    Diabetes Tipe 1, Gejala dan Penanganannya

    Diabetes Tipe 1, Gejala dan Penanganannya

    Diabetes adalah penyakit kronis (menahun) yang terjadi ketika pankreas (kelenjar ludah perut) tidak memproduksi cukup insulin, atau ketika tubuh tidak secara efektif menggunakan insulin. Sedangkan diabetes tipe 1 sendiri termasuk jenis diabetes dengan produksi insulin yang rendah. Oleh karena itu diabetes tipe 1 disebut juga  diabetes ketergantungan insulin, atau dikenal dengan istilah penyakit autoimun diabetes dengan penyebab yang belum diketahui pasti.

    Kadar gula dalam darah biasanya dikendalikan oleh hormon insulin. Jika tubuh kurang insulin, kadar gula darah akan meningkat drastis akibat terjadinya penumpukan, ini yang disebut hiperglikemia. Inilah yang terjadi saat seseorang menderita diabetes mellitus tipe 1.

    Penyebab kurangnya produksi insulin oleh pankreas pada penderita diabetes tipe 1 belum diketahui hingga saat ini sehingga belum dapat disimpulkan cara pencegahannya. Diabetes tipe ini dapat timbul pada usia berapa pun, umumnya menyerang pasien di bawah usia 40 tahun, khususnya anak-anak (childhood-onset diabetic). Terkadang dikenal dengan istilah diabetes remaja

    Pada tahun 2015, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai 10 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari Federasi Diabetes Internasional). Namun, hanya sekitar separuh dari mereka yang menyadari kondisinya.

    Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi tinggi untuk diabetes tipe 1. Pada tahun 2010, diperkirakan ada sekitar 113.000 anak di bawah 15 tahun yang mengidap diabetes tipe 1 dengan perkiraan 18.000 kasus baru pada setiap tahunnya.

    • Gejala umum diabetes pada awal penyakit, yang juga dikenal dengan gejala klasik di kalangan medis, adalah sering kencing (polyuria), sering haus (polydipsia) dan sering lapar (polyphagia). Gejala-gejala ini akan berkembang dan memburuk seiring dengan tidak terkontrolnya kadar gula yang sangat tinggi dalam darah (hiperglikemia) sehingga merusak jaringan dan organ-organ tubuh, dan berkomplikasi.
    • Tanpa insulin, gula dalam darah tidak dapat masuk dan digunakan oleh sel-sel tubuh. Akhirnya tubuh akan mengolah lemak dan otot menjadi energi sehingga menyebabkan penurunan berat badan. Ini dapat mengakibatkan kondisi akut yang disebut ketoasidosis diabetik , yaitu kondisi di mana darah menjadi terlalu asam dan terjadinya dehidrasi yang membahayakan.
    • Kadar glukosa darah yang tinggi juga bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Karena itu, diabetes bisa mengakibatkan sejumlah komplikasi jika tidak dikendalikan dengan baik. Peningkatan kadar gula darah yang tidak signifikan dan tidak memicu gejala pun bisa mengakibatkan kerusakan bila terjadi dalam jangka panjang.

    • Diabetes ketergantungan insulin atau tipe 1 termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dikendalikan. Diagnosis diabetes sejak dini sangat penting agar pengobatan bisa segera dilakukan sehingga kadar gula darah penderita yang tinggi bisa dikendalikan. Pengobatan diabetes bertujuan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darah dan mengendalikan gejala untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
    • Organ pankreas dalam tubuh penderita diabetes tipe 1 tidak memproduksi insulin lagi sehingga mereka harus menerima suplai insulin dari luar tubuh secara rutin. Mereka juga dituntut untuk belajar menyesuaikan dosisnya dengan makanan yang dikonsumsi, kadar gula darah, dan aktivitas yang dilakukan.

    Proses penyesuaian tersebut harus dilakukan secara bertahap. Beberapa jenis insulin yang bisa digunakan meliputi:

    • Insulin kerja panjang yang dapat bertahan satu hari.
    • Insulin kerja singkat yang dapat bertahan maksimal delapan jam.
    • Insulin kerja cepat yang tidak bertahan lama, tapi bereaksi cepat.

    Cara pengobatan untuk penderita diabetes bisa menggunakan kombinasi dari jenis-jenis insulin di atas.

    • Transplantasi sel-sel pankreas yang memproduksi insulin (sel islet) juga mungkin dapat menolong sebagian penderita diabetes tipe 1. Dalam proses ini, sel islet dari yang diambil dari donor yang sudah meninggal akan dimasukkan ke pankreas penderita diabetes tipe 1.
    • Transplantasi islet memang efektif untuk mengurangi risiko serangan hipoglikemia parah. Hipoglikemia adalah keadaan di mana kadar gula darah jatuh terlalu rendah. Kondisi ini sama berbahayanya dengan kadar gula darah yang terlalu tinggi. Tetapi, walau ada negara-negara yang sudah menerapkan transplantasi islet, banyak juga penderita diabetes yang enggan menjalaninya karena risiko yang cukup tinggi.
    • Pola makan sehat dan seimbang serta olahraga teratur terbukti dapat menurunkan kadar gula darah bagi penderita diabetes. Berhenti merokok juga dapat mengurangi risiko komplikasi penyakit jantung.



    Penyebab dan Penanganan Batuk Darah

    Penyebab dan Penanganannya Batuk Darah

    Batuk darah atau hemoptisis adalah keadaan ketika seseorang mengalami batuk yang disertai darah. Batuk darah sendiri merupakan suatu bentuk gejala yang bisa timbul akibat sejumlah kondisi, baik serius maupun tidak. Jika batuk darah dialami oleh kalangan usia muda yang memiliki riwayat kesehatan yang baik, biasanya ini bukan merupakan pertanda dari suatu penyakit serius. Akan tetapi, jika orang yang mengalaminya diketahui memiliki riwayat kesehatan yang buruk atau dia adalah seorang perokok, maka ada kemungkinan batuk darah ini sebagai gejala dari suatu kondisi yang serius.

    Bentuk batuk darah bermacam-macam, ada yang disertai dengan darah yang teksturnya berbusa atau berwarna merah muda, ada pula yang disertai dengan darah yang bercampur lendir. 

    Segera temui dokter atau pergi ke rumah sakit jika Anda mengalami:

    • Batuk disertai dengan dahak bercampur darah.
    • Batuk dengan volume darah cukup banyak.
    • Batuk darah disertai gejala turun berat badan dan hilang nafsu makan.
    • Batuk darah disertai dengan gejala sesak napas, demam, pusing, berkeringat di malam hari, dan nyeri dada.
    • Batuk darah disertai dengan urine atau kotoran yang juga bercampur dengan darah.
    • Batuk darah yang berlangsung lebih dari seminggu.
    • Batuk darah yang sering muncul dan hilang.

    Penyebab batuk darah

    • Bronkitis. Batuk berdarah yang disebabkan oleh kondisi ini jarang berkembang menjadi serius atau mengancam nyawa penderitanya.
    • Batuk parah berkepanjangan.
    • Bronkiektasis. Selain batuk darah, jenis penyakit paru-paru ini juga menyebabkan penumpukan lendir di dalam saluran napas.
    • Infeksi paru. Selain batuk darah, penderita kondisi ini akan mengeluarkan dahak berwarna atau bernanah, serta sesak napas yang disertai demam.
    • Edema paru atau penumpukan cairan. Batuk berdarah biasanya terjadi pada penderita edema paru yang juga terdiagnosis memiliki masalah pada jantung. Darah yang keluar saat batuk akan memiliki tekstur berbusa dan berwarna merah muda.
    • Emboli paru atau penggumpalan darah. Selain batuk darah, kondisi ini dapat menyebabkan nyeri dada dan sesak napas secara tiba-tiba.
    • Tuberkulosis atau TBC. Ini merupakan golongan infeksi paru-paru parah. Selain batuk darah, TBC juga dapat menyebabkan penderitanya mengalami demam dan berkeringat berlebihan.
    • Kanker tenggorokan
    • Kanker paru-paru.
    • Luka berat, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas atau terkena senjata.
    • Efek samping obat-obatan pengencer darah.
    • Efek samping penggunaan narkoba.
    • Tukak lambung atau sakit maag.
    • Selain kondisi-kondisi tersebut, batuk darah juga bisa disebabkan oleh pendarahan di dalam tenggorokan, mulut, atau hidung yang bercampur dengan air liur ketika penderitanya batuk.

    • Selain dari keterangan pasien mengenai riwayat kesehatan, serta gejala-gejala lain yang menyertai batuk darah
    • Pemeriksaan sampel dahak.
    • Tes darah. Tes ini sebenarnya mencakup banyak hal. Selain kadar sel darah merah dan putih, dokter juga dapat mengukur elektrolit serta fungsi ginjal pasien melalui pemeriksaan zat kimia darah. Dokter juga dapat mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam darah melalui pemeriksaan yang dinamakan oksimetri nadi dan analisis gas darah. Selain itu, dokter juga dapat mengukur kemampuan darah dalam membeku melalui tes koagulasi.
    • Bronkoskopi. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan alat yang disebut endoskop ke dalam saluran pernapasan melalui mulut atau hidung. Alat berbentuk selang yang dilengkapi kamera ini akan membantu dokter mengetahui penyebab batuk darah.
    • CT scan. Pemindaian ini bertujuan menghasilkan gambar dari struktur dada secara terperinci.
    • Pemeriksaan X-ray pada dada. Melalui pemindaian ini, dokter dapat mengetahui adanya masalah kesehatan, seperti infeksi atau penumpukan cairan di dalam paru-paru.

    • Pengobatan batuk darah harus didasarkan pada penyebabnya. Selain menghentikan batuk darah, tujuan pengobatan sendiri adalah menyembuhkan kondisi yang mendasarinya. 
    • Pemberian antibiotik untuk infeksi paru-paru akibat bakteri, seperti tuberkulosis atau pneumonia.
    • Pemberian steroid jika batuk darah disebabkan oleh radang.
    • Terapi radiasi atau kemoterapi jika batuk darah disebabkan oleh kanker paru-paru.
    • Embolisasi arteri bronkial jika batuk darah terjadi akibat pendarahan di dalam arteri. Melalui metode ini, dokter akan memblok arteri yang bermasalah dengan menggunakan suatu zat atau bahkan kumparan logam dan mengalihkan peredaran darah ke arteri lain yang lebih sehat. Identifikasi sumber pendarahan dapat dibantu dengan kateter melalui monitor.
    • Operasi untuk menangani gejala batuk darah akibat kondisi yang mengancam nyawa, misalnya operasi pengangkatan paru-paru pada penyakit paru-paru parah.

    Penyebab dan Penanganan Batuk Darah

    Penyebab dan Penanganannya Batuk Darah

    Batuk darah atau hemoptisis adalah keadaan ketika seseorang mengalami batuk yang disertai darah. Batuk darah sendiri merupakan suatu bentuk gejala yang bisa timbul akibat sejumlah kondisi, baik serius maupun tidak. Jika batuk darah dialami oleh kalangan usia muda yang memiliki riwayat kesehatan yang baik, biasanya ini bukan merupakan pertanda dari suatu penyakit serius. Akan tetapi, jika orang yang mengalaminya diketahui memiliki riwayat kesehatan yang buruk atau dia adalah seorang perokok, maka ada kemungkinan batuk darah ini sebagai gejala dari suatu kondisi yang serius.

    Bentuk batuk darah bermacam-macam, ada yang disertai dengan darah yang teksturnya berbusa atau berwarna merah muda, ada pula yang disertai dengan darah yang bercampur lendir. 

    Segera temui dokter atau pergi ke rumah sakit jika Anda mengalami:

    • Batuk disertai dengan dahak bercampur darah.
    • Batuk dengan volume darah cukup banyak.
    • Batuk darah disertai gejala turun berat badan dan hilang nafsu makan.
    • Batuk darah disertai dengan gejala sesak napas, demam, pusing, berkeringat di malam hari, dan nyeri dada.
    • Batuk darah disertai dengan urine atau kotoran yang juga bercampur dengan darah.
    • Batuk darah yang berlangsung lebih dari seminggu.
    • Batuk darah yang sering muncul dan hilang.

    Penyebab batuk darah

    • Bronkitis. Batuk berdarah yang disebabkan oleh kondisi ini jarang berkembang menjadi serius atau mengancam nyawa penderitanya.
    • Batuk parah berkepanjangan.
    • Bronkiektasis. Selain batuk darah, jenis penyakit paru-paru ini juga menyebabkan penumpukan lendir di dalam saluran napas.
    • Infeksi paru. Selain batuk darah, penderita kondisi ini akan mengeluarkan dahak berwarna atau bernanah, serta sesak napas yang disertai demam.
    • Edema paru atau penumpukan cairan. Batuk berdarah biasanya terjadi pada penderita edema paru yang juga terdiagnosis memiliki masalah pada jantung. Darah yang keluar saat batuk akan memiliki tekstur berbusa dan berwarna merah muda.
    • Emboli paru atau penggumpalan darah. Selain batuk darah, kondisi ini dapat menyebabkan nyeri dada dan sesak napas secara tiba-tiba.
    • Tuberkulosis atau TBC. Ini merupakan golongan infeksi paru-paru parah. Selain batuk darah, TBC juga dapat menyebabkan penderitanya mengalami demam dan berkeringat berlebihan.
    • Kanker tenggorokan
    • Kanker paru-paru.
    • Luka berat, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas atau terkena senjata.
    • Efek samping obat-obatan pengencer darah.
    • Efek samping penggunaan narkoba.
    • Tukak lambung atau sakit maag.
    • Selain kondisi-kondisi tersebut, batuk darah juga bisa disebabkan oleh pendarahan di dalam tenggorokan, mulut, atau hidung yang bercampur dengan air liur ketika penderitanya batuk.

    • Selain dari keterangan pasien mengenai riwayat kesehatan, serta gejala-gejala lain yang menyertai batuk darah
    • Pemeriksaan sampel dahak.
    • Tes darah. Tes ini sebenarnya mencakup banyak hal. Selain kadar sel darah merah dan putih, dokter juga dapat mengukur elektrolit serta fungsi ginjal pasien melalui pemeriksaan zat kimia darah. Dokter juga dapat mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam darah melalui pemeriksaan yang dinamakan oksimetri nadi dan analisis gas darah. Selain itu, dokter juga dapat mengukur kemampuan darah dalam membeku melalui tes koagulasi.
    • Bronkoskopi. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan alat yang disebut endoskop ke dalam saluran pernapasan melalui mulut atau hidung. Alat berbentuk selang yang dilengkapi kamera ini akan membantu dokter mengetahui penyebab batuk darah.
    • CT scan. Pemindaian ini bertujuan menghasilkan gambar dari struktur dada secara terperinci.
    • Pemeriksaan X-ray pada dada. Melalui pemindaian ini, dokter dapat mengetahui adanya masalah kesehatan, seperti infeksi atau penumpukan cairan di dalam paru-paru.

    • Pengobatan batuk darah harus didasarkan pada penyebabnya. Selain menghentikan batuk darah, tujuan pengobatan sendiri adalah menyembuhkan kondisi yang mendasarinya. 
    • Pemberian antibiotik untuk infeksi paru-paru akibat bakteri, seperti tuberkulosis atau pneumonia.
    • Pemberian steroid jika batuk darah disebabkan oleh radang.
    • Terapi radiasi atau kemoterapi jika batuk darah disebabkan oleh kanker paru-paru.
    • Embolisasi arteri bronkial jika batuk darah terjadi akibat pendarahan di dalam arteri. Melalui metode ini, dokter akan memblok arteri yang bermasalah dengan menggunakan suatu zat atau bahkan kumparan logam dan mengalihkan peredaran darah ke arteri lain yang lebih sehat. Identifikasi sumber pendarahan dapat dibantu dengan kateter melalui monitor.
    • Operasi untuk menangani gejala batuk darah akibat kondisi yang mengancam nyawa, misalnya operasi pengangkatan paru-paru pada penyakit paru-paru parah.

    Cegukan atau Singultus, Penyebab dan Penanganannya

    Cegukan atau Singultus, Penyebab dan Penanganannya

    Cegukan atau singultus merupakan kondisi umum yang dapat dialami oleh semua orang, mulai dari bayi hingga dewasa. Kondisi yang ditandai dengan suara “hik” ini terjadi ketika diafragma, atau membran otot yang memisahkan rongga dada dan rongga perut, mengalami kontraksi. Tiap kontraksi pada organ yang juga memiliki peran penting dalam pernapasan tersebut akan mengakibatkan pita suara menutup tiba-tiba sehingga menghasilkan suara khas cegukan.

    Pemicu 

    Sebagian besar cegukan berlangsung singkat atau hanya beberapa menit. Hal ini normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Cegukan singkat ini diduga terpicu oleh beberapa hal, di antaranya akibat:

    • Minuman panas
    • Minuman bersoda
    • Minuman beralkohol
    • Mengonsumsi makanan pedas
    • Makan terlalu cepat
    • Merokok
    • Stres, takut, atau gembira
    • Perut yang kembung

    Namun dalam beberapa kasus, cegukan juga ada yang bisa berlangsung lama, yaitu lebih dari dua hari. Biasanya cegukan seperti ini disebabkan oleh masalah kesehatan atau kondisi-kondisi yang mendasari, seperti:

    • Gangguan metabolisme, seperti hipoglikemia, hiperglikemia, dan diabetes.
    • Gangguan saraf vagus, misalnya akibat meningitis, faringitis, dan penyakit gondok.
    • Gangguan sistem saraf, seperti cedera berat pada otak, radang jaringan otak atau ensefalitis, tumor, dan stroke.
    • Gangguan pernapasan, seperti penyakit pleuritis, pneumonia, dan asma.
    • Reaksi psikologi, seperti stres, gembira, sedih, takut, atau syok.
    • Gangguan pencernaan, seperti obstruksi usus, radang usus, dan penyakit refluks gastroesofagus (GERD).

    Cegukan yang berlangsung lama juga bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan.

    • Obat-obatan kemoterapi untuk penanganan kanker.
    • Obat golongan opioid atau pereda nyeri, seperti metadon dan morfin.
    • Benzodiazepine atau obat penenang untuk mengatasi kecemasan.
    • Anastesi atau obat bius praoperasi.
    • Methyldopa,yaitu obat untuk hipertensi.
    • Barbiturate, yaitu obat pencegah kejang.
    • Kortikosteroid,yaitu obat untuk mengatasi pembengkakan dan radang.


    • Segera ke dokter jika mengalami cegukan lebih dari dua hari. Dikhawatirkan cegukan yang berlangsung lama tersebut menjadi gejala bahwa Anda menderita suatu kondisi serius.

    Dalam mendiagnosis cegukan yang berlangsung lama, sejumlah tes mungkin akan dilakukan oleh dokter, di antaranya:

    • Endoskopi. Pemeriksaan dengan menggunakan selang kecil yang dilengkapi lampu dan kamera ini dilakukan jika cegukan diduga berkaitan dengan gangguan pencernaan, misalnya penyakit asam lambung atau refluks gastroesofagus (GERD)
    • Elektrokardiogram (ECG). Pemeriksaan dengan mengukur aktivitas elektrik di dalam jantung ini dilakukan jika cegukan diduga berkaitan dengan gangguan jantung.
    • Pemindaian sinar-X, pemindaian dengan tomografi terkomputerisasi atau CT scan, dan pemindaian dengan resonansi magnetik atau MRI. Salah satu dari ketiga pemindaian ini bisa dilakukan jika dokter menduga cegukan disebabkan oleh infeksi atau tumor.
    • Pemeriksaan darah. Tes ini dilakukan jika cegukan diduga disebabkan oleh gangguan hati, ginjal, atau diabetes.

    Pengobatan cegukan

    Jika cegukan bukan disebabkan oleh kondisi yang mendasari atau reaksi obat-obatan, maka cegukan tersebut biasanya akan reda dengan sendirinya tanpa harus diberi obat. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu menghentikan cegukan lebih cepat, meski cara-cara ini belum terbukti secara medis.

    • Lakukan posisi telungkup untuk menekan dada Anda ke lantai.
    • Berbaring atau duduk sambil menarik kedua lutut hingga menyentuh dada.
    • Bernapas di dalam kantung yang terbuat dari kertas.
    • Mengecap cuka.
    • Menelan gula pasir.
    • Menggigit lemon.
    • Menahan napas dalam waktu yang relatif singkat.
    • Minum air dingin secara perlahan-lahan.

    Jika cegukan disebabkan oleh suatu masalah kesehatan atau akibat reaksi obat-obatan yang dikonsumsi, maka cegukan baru dapat dihentikan setelah hal-hal tersebut diatasi. Contohnya jika asma menjadi penyebab cegukan, maka asma tersebut harus ditangani terlebih dahulu. Jika cegukan terjadi akibat reaksi penggunaan suatu obat, maka biasanya dokter akan menyesuaikan dosis obat tersebut atau bahkan menggantinya dengan obat lain yang tidak menyebabkan efek samping cegukan.

    Jika cegukan sudah berlangsung lama dan tidak diketahui penyebabnya, meski pemeriksaan telah dilakukan, maka ada beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk mengatasi cegukan tersebut, di antaranya:

    • Gabapentin
    • Metoclopramide
    • Baclofen
    • Haloperidol
    • Chlorpromazine

    Periksakan cegukan yang Anda alami jika tidak membaik dalam waktu 48 jam.


    Cegukan atau Singultus, Penyebab dan Penanganannya

    Cegukan atau Singultus, Penyebab dan Penanganannya

    Cegukan atau singultus merupakan kondisi umum yang dapat dialami oleh semua orang, mulai dari bayi hingga dewasa. Kondisi yang ditandai dengan suara “hik” ini terjadi ketika diafragma, atau membran otot yang memisahkan rongga dada dan rongga perut, mengalami kontraksi. Tiap kontraksi pada organ yang juga memiliki peran penting dalam pernapasan tersebut akan mengakibatkan pita suara menutup tiba-tiba sehingga menghasilkan suara khas cegukan.

    Pemicu 

    Sebagian besar cegukan berlangsung singkat atau hanya beberapa menit. Hal ini normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Cegukan singkat ini diduga terpicu oleh beberapa hal, di antaranya akibat:

    • Minuman panas
    • Minuman bersoda
    • Minuman beralkohol
    • Mengonsumsi makanan pedas
    • Makan terlalu cepat
    • Merokok
    • Stres, takut, atau gembira
    • Perut yang kembung

    Namun dalam beberapa kasus, cegukan juga ada yang bisa berlangsung lama, yaitu lebih dari dua hari. Biasanya cegukan seperti ini disebabkan oleh masalah kesehatan atau kondisi-kondisi yang mendasari, seperti:

    • Gangguan metabolisme, seperti hipoglikemia, hiperglikemia, dan diabetes.
    • Gangguan saraf vagus, misalnya akibat meningitis, faringitis, dan penyakit gondok.
    • Gangguan sistem saraf, seperti cedera berat pada otak, radang jaringan otak atau ensefalitis, tumor, dan stroke.
    • Gangguan pernapasan, seperti penyakit pleuritis, pneumonia, dan asma.
    • Reaksi psikologi, seperti stres, gembira, sedih, takut, atau syok.
    • Gangguan pencernaan, seperti obstruksi usus, radang usus, dan penyakit refluks gastroesofagus (GERD).

    Cegukan yang berlangsung lama juga bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan.

    • Obat-obatan kemoterapi untuk penanganan kanker.
    • Obat golongan opioid atau pereda nyeri, seperti metadon dan morfin.
    • Benzodiazepine atau obat penenang untuk mengatasi kecemasan.
    • Anastesi atau obat bius praoperasi.
    • Methyldopa,yaitu obat untuk hipertensi.
    • Barbiturate, yaitu obat pencegah kejang.
    • Kortikosteroid,yaitu obat untuk mengatasi pembengkakan dan radang.


    • Segera ke dokter jika mengalami cegukan lebih dari dua hari. Dikhawatirkan cegukan yang berlangsung lama tersebut menjadi gejala bahwa Anda menderita suatu kondisi serius.

    Dalam mendiagnosis cegukan yang berlangsung lama, sejumlah tes mungkin akan dilakukan oleh dokter, di antaranya:

    • Endoskopi. Pemeriksaan dengan menggunakan selang kecil yang dilengkapi lampu dan kamera ini dilakukan jika cegukan diduga berkaitan dengan gangguan pencernaan, misalnya penyakit asam lambung atau refluks gastroesofagus (GERD)
    • Elektrokardiogram (ECG). Pemeriksaan dengan mengukur aktivitas elektrik di dalam jantung ini dilakukan jika cegukan diduga berkaitan dengan gangguan jantung.
    • Pemindaian sinar-X, pemindaian dengan tomografi terkomputerisasi atau CT scan, dan pemindaian dengan resonansi magnetik atau MRI. Salah satu dari ketiga pemindaian ini bisa dilakukan jika dokter menduga cegukan disebabkan oleh infeksi atau tumor.
    • Pemeriksaan darah. Tes ini dilakukan jika cegukan diduga disebabkan oleh gangguan hati, ginjal, atau diabetes.

    Pengobatan cegukan

    Jika cegukan bukan disebabkan oleh kondisi yang mendasari atau reaksi obat-obatan, maka cegukan tersebut biasanya akan reda dengan sendirinya tanpa harus diberi obat. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu menghentikan cegukan lebih cepat, meski cara-cara ini belum terbukti secara medis.

    • Lakukan posisi telungkup untuk menekan dada Anda ke lantai.
    • Berbaring atau duduk sambil menarik kedua lutut hingga menyentuh dada.
    • Bernapas di dalam kantung yang terbuat dari kertas.
    • Mengecap cuka.
    • Menelan gula pasir.
    • Menggigit lemon.
    • Menahan napas dalam waktu yang relatif singkat.
    • Minum air dingin secara perlahan-lahan.

    Jika cegukan disebabkan oleh suatu masalah kesehatan atau akibat reaksi obat-obatan yang dikonsumsi, maka cegukan baru dapat dihentikan setelah hal-hal tersebut diatasi. Contohnya jika asma menjadi penyebab cegukan, maka asma tersebut harus ditangani terlebih dahulu. Jika cegukan terjadi akibat reaksi penggunaan suatu obat, maka biasanya dokter akan menyesuaikan dosis obat tersebut atau bahkan menggantinya dengan obat lain yang tidak menyebabkan efek samping cegukan.

    Jika cegukan sudah berlangsung lama dan tidak diketahui penyebabnya, meski pemeriksaan telah dilakukan, maka ada beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk mengatasi cegukan tersebut, di antaranya:

    • Gabapentin
    • Metoclopramide
    • Baclofen
    • Haloperidol
    • Chlorpromazine

    Periksakan cegukan yang Anda alami jika tidak membaik dalam waktu 48 jam.