ROSEOLA INFANTUM, GEJALA DAN PENANGANANNYA

ROSEOLA INFANTUM, GEJALA DAN PENANGANANNYA

Ruam kemerahan dan demam tinggi tidak selalu menjadi gejala campak ataupun rubella. Kondisi ini mungkin merupakan salah satu gejala penularan virus roseola infantum. Penanganan yang tepat akan menghindarkan balita dari risiko yang berbahaya.

Roseola infantum adalah penyakit infeksi yang umum terjadi pada bayi dan balita. Gejala yang terjadi adalah demam tinggi yang disertai dengan ruam pada kulit setelah demam turun. Roseola infantum disebabkan oleh human herpesvirus 6(HHV-6). Gejala ditandai dengan demam secara tiba-tiba dan ruam yang berkembang setelah suhu tubuh kembali ke normal. Wabah roseola bisa bersifat musiman dan dapat menyebar di lingkungan tertentu. Roseola infantum banyak terjadi pada anak yang berusia enam bulan hingga tiga tahun. Usia puncak terjadinya adalah 9-21 bulan.

Virus roseola infantum sering menyerang bayi usia enam bulan hingga 1,5 tahun. Umumnya virus ini tidak berbahaya, bahkan terkadang kondisi ini juga tidak terdeteksi karena gejalanya bersifat umum. Meski begitu, Anda tetap harus waspada jika kondisi ini menyerang buah hati Anda, sebab roseola termasuk penyakit menular.

1511710098604_crop_610x66-2.jpg

Kemunculan roseola biasanya ditandai dengan beberapa gejala, antara lain:

  • Demam biasanya akan turun setelah 3-4 hari. Setelah itu, muncul ruam merah muda yang biasanya muncul pada punggung, perut, atau dada. Ruam dapat terasa gatal, dan kadang juga dapat menyebar ke kaki dan wajah. Pada beberapa kasus yang sangat jarang, anak yang mengalami roseola akan mengalami kejang demam. Demam Gejala roseola infantum dimulai sekitar 5 sampai 15 hari setelah infeksi. Demam berkisar 39,5-40,5 °C dan bisa dimulai secara tiba-tiba. Demam bisa berlangsung selama tiga sampai lima hari.
  • Batuk, pilek, dan sakit tenggorokan.
  • Kejang. Lima sampai 15% dari anak-anak mengalami kejang, sebagai akibat dari demam tinggi. Terutama demam yang meningkat dengan cepat.
  • Hidung meler dan diare ringan. Meskipun demam tinggi, anak biasanya waspada dan aktif. Gejala ini sering disalahartikan sebagai flu biasa pada anak-anak sehingga terlambat ditangani. Selain itu, beberapa anak juga mengalami sakit perut.
  • Pembesaran kelenjar getah bening. Pembesaran terjadi pada kelenjar getah bening di belakang kepala, sisi leher, dan di belakang telinga. Demam biasanya hilang pada hari keempat.
  • Ruam. Anak-anak yang terjangkit roseola infantum mengalami ruam dalam beberapa jam atau sehari setelah demam turun. Ruam yang terbentuk berwarna merah dan datar atau tidak berbintil. Ruam terjadi sebagian besar pada bagian dada dan perut dan ukuran yang tidak terlalu besar pada wajah, lengan, dan kaki. Ruam ini tidak gatal dan dapat berlangsung dari beberapa jam sampai dua hari kedepan. Anak yang terkena penyakit ini akan sangat rewel dan kelelahan. Maka, butuh kesabaran ekstra dari orang tua untuk mendampinginya. Selain itu, kondisi orang tua juga harus sehat selama anak masih sakit.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Pembengkakan kelenjar pada leher.
  • Pembengkakan kelopak mata.
  • Waspadai kemungkinan terjadinya penularan virus kepada anak-anak lain. Bila perlu, berlakukan masa isolasi untuk anak yang terkena virus agar saudaranya yang lain tidak tertular.
  • Roseola biasanya terjadi karena infeksi virus herpes tipe 6 (HHV/human herpesvirus 6) yang penyebarannya sama dengan penularan flu, yaitu melalui batuk atau bersin dari anak lain yang lebih dulu terinfeksi. Selain itu, virus juga bisa menular setelah menyentuh barang yang disentuh penderita. Barang-barang tersebut dapat berupa pegangan pintu, mainan, ataupun gelas dan alat makan.

1517391881608-14.jpg

  • Tidak ada pengobatan khusus untuk roseola. Seperti penyakit virus pada umumnya, gejala harus dilewati hingga virus hilang dengan sendirinya.
  • Hal yang paling penting yang dapat orang tua  lakukan adalah membuat anak beristirahat dan mendapat banyak cairan untuk menghindari dehidrasi.
  • Gunakan obat penurun panas jika perlu. Berikan obat penurun panas jika ia demam. Namun, jangan memberikan paracetamol dan ibuprofen secara bersamaan. Selain itu, jangan pernah memberikan aspirin pada anak di bawah usia 16 tahun, kecuali atas resep dokter. Jika anak terlampau tidak nyaman atau demam terlalu tinggi, dokter mungkin menyarankan memberinya acetaminophen anak-anak (atau ibuprofen, untuk anak-anak berusia minimal 6 bulan) untuk menurunkan demam. Anda juga dapat mencoba untuk menurunkan demam anak dengan menyekanya dengan air hangat (tidak dingin) atau memandikannya dengan air suam-suam kuku. Jangan pernah memberikan aspirin pada anak. Hal ini dapat memicu sindrom Reye, suatu kelainan langka tapi berpotensi fatal
  • Balita yang mengalami roseola umumnya bisa pulih setelah beristirahat dengan cukup. Anda juga bisa membantu penyembuhannya dengan beberapa langkah di bawah ini:
  • Berikan minum yang cukup Hal ini perlu dilakukan meski anak mungkin tidak merasa haus, untuk mencegah dehidrasi. Jika Si Kecil masih mengonsumsi ASI, berikan ASI secara teratur setiap hari.
  • Beristirahat di ruangan yang sejuk Biarkan anak beristirahat dalam ruangan yang nyaman dan temperatur rendah atau sejuk. Jika memungkinkan, Anda bisa membuka jendela kamar tidurnya agar ruangan tidak terasa pengap.
  • Mandi dengan air hangat Jangan menggunakan air dingin saat mandi selama sakit. Sebagai gantinya, mandikan dia dengan air hangat. Jika tidak memungkinkan, Anda disarankan untuk membersihkan tubuhnya dengan lap yang dibasahi air hangat.
  • Umumnya roseola infantum dapat reda dengan sendirinya dalam satu minggu.
  • Infeksi roseola bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun. Maka dari itu, jika anak Anda terkena roseola infantum, sebaiknya dia tidak bersekolah dulu hingga kondisinya membaik, agar tidak menularkan infeksi kepada anak-anak lain.

    Roseola juga bisa terjadi pada orang dewasa jika belum pernah terpapar virus ini. Infeksi roseola pada orang dewasa cenderung menimbulkan gejala-gejala yang ringan, tapi juga bisa menular pada anak-anak. Hingga saat ini tidak ada vaksin untuk mencegah roseola, sehingga penting menghindari kontak dengan orang yang sedang terinfeksi

Harus ke dokter bila

  • Anak mengalami demam tinggi dan kejang.
  • Ruam tidak hilang setelah tiga
  • Sistem kekebalan tubuh anak lemah akibat menderita penyakit serius.
  • Anak sedang menjalani pengobatan tertentu, misalnya kemoterapi.

1515589761157-15.jpg

1516631787279-37.jpg

Advertisements

Perkembangan Literasi, Kemampuan Baca Tulis dan Cara Stimulasinya Pada Anak

wp-1526479626863..jpg

Perkembangan Literasi, Kemampuan Baca Tulis dan Cara Stimulasinya Pada Anak

Membaca dan menulis Usia 2-4 tahun

  • Anak usia prasekolah masih sibuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya.
  • Perkembangan bahasa terkait erat dengan perkembangan kemampuan membaca di kemudian hari.
  • Pada usia ini, membacalah kepada anak Anda sesering mungkin untuk menumbuhkan minat bacanya dan memperluas kosakatanya.
  • Pada usia ini anak dapat mulai mempelajari keterampilan motorik halus dasar yang diperlukan untuk belajar menulis nantinya (pre-writing skills).
  • Keterampilan-keterampilan tersebut misalnya belajar menarik garis, menggambar lingkaran, dan menghubungkan titik-titik.
  • Mewarnai juga menunjang perkembangan keterampilan ini.
  • Gunakan alat tulis dengan pegangan gemuk agar lebih mudah dipegang oleh anak.

Usia 4-5 tahun: Pre-reading skills

  • Usia taman kanak-kanak adalah usia yang baik untuk memperkenalkan anak pada dasar-dasar baca-tulis (pre-reading skills): pengenalan huruf dan angka, mendengarkan sajak berima, mencocokkan kata-kata dengan bunyi awal atau akhir yang sama (buku dan bulan, tarik dan naik).
  • Bila anak sudah dapat mengeja suku kata (b-a, ba), tidak lama kemudian ia akan dapat membaca kata-kata sederhana (ibu, sapi, babi).
  • Pada usia ini baik juga untuk memperkenalkan anak pada bagian-bagian buku: sampul depan, judul, pengarang, sampul belakang.
  • Anak mungkin mulai tertarik untuk menulis beberapa huruf dan angka. Ia makin nyaman menggunakan alat tulis. Untuk menunjang keterampilan ini, anak dapat diberikan permainan mencari jalan atau menghubungkan titik-titik untuk membentuk huruf dan angka.

Usia 6-7 tahun: Belajar membaca dan menulis

  • Pada tahun pertama SD, makin banyak kata yang dibaca oleh anak.
  • Anak mulai dapat mengenali kata tanpa harus mengeja terlebih dahulu dan mengerti makna sebagian besar kata dan kalimat yang dibacanya.
  • Pada pertengahan tahun pertama, ia dapat membaca sendiri buku-buku sederhana.
  • Pada usia ini, sediakan untuk anak bacaan yang bervariasi, dapat berupa buku atau majalah. Manfaatkan perpustakaan sekolah semaksimal mungkin.
  • Pada usia ini anak sudah mahir memegang pensil atau pena. Pada akhir masa ini, anak sudah mahir menulis, dengan tulisan yang dapat dibaca.

Usia 7-8 tahun: Belajar membaca tingkat lanjut

  • Makin banyak kata dan kalimat yang telah dibaca oleh anak usia ini. Dengan membaca, anak memperluas kosakata dan pengetahuannya tentang dunia di sekitarnya.
  • Anak dapat membaca keras-keras dengan ekspresi dan sudah memiliki preferensi buku atau cerita yang disenanginya.
  • Bila membaca cerita, anak sudah dapat mengidentifikasi tokoh, setting, dan peristiwa-peristiwa di dalamnya.
  • Pada akhir masa ini, biasanya anak sudah dapat membaca sendiri dengan lancar.

Usia 8 tahun ke atas

  • Setelah usia 8 tahun, anak sudah mahir mempergunakan keterampilan membacanya untuk belajar baik di dalam maupun di luar sekolah.
  • Pada usia remaja, anak sudah mengerti sepenuhnya apa yang dibacanya. Jenis bacaannya pun bervariasi, mulai dari fiksi hingga nonfiksi.

SumBer: IDAI

Penyebab dan Gejala Sindroma Distres Pernafasan (Penyakit Membran Hialin)

Penyebab dan Gejala Sindroma Distres Pernafasan (Penyakit Membran Hialin)

  • Sindroma Gawat Pernafasan (dulu disebut Penyakit Membran Hialin) adalah suatu keadaan dimana kantung udara (alveoli) pada paru-paru bayi tidak dapat tetap terbuka karena tingginya tegangan permukaan akibat kekurangan surfaktan.
  • Agar bayi bisa bernafas dengan bebas, setelah lahir, alveoli harus tetap terbuka dan terisi dengan udara. Alveoli bisa terbuka lebar karena adanya suatu bahan yang disebut surfaktan.
  • Surfaktan dihasilkan oleh sel-sel di dalam alveoli dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan dihasilkan oleh paru-paru yang matang, yaitu pada kehamilan 34-37 minggu.

  • Sindroma gawat pernafasan hampir selalu terjadi pada bayi prematur; semakin prematur, semakin besar kemungkinan terjadinya sindroma ini.
  • Sindroma gawat pernafasan juga cenderung banyak ditemukan pada bayi yang ibunya menderita diabetes.
  • Bayi yang sangat prematur mungkin tidak mampu untuk memulai proses pernafasan karena tanpa surfaktan paru-paru menjadi sangat kaku. Bayi yang lebih besar bisa memulai proses pernafasan, tetapi karena paru-paru cenderung mengalami kolaps, maka terjadilah sindroma gawat pernafasan.

Gejala-gejalanya berupa:

  • Takipneu (pernafasan cepat)
  • Gerakan pernafasan yang tidak biasa (retraksi interkostalis, ketika menghirup udara, otot dinding dada tertarik)
  • Nafasnya pendek dan ketika menghembuskan nafas terdengar suara ngorok
  • Cuping hidung mengembang
  • Apneu
  • Sianosis (warna kulit dan selaput lendir membiru)
  • Edema (pembengkakan tungkai atau lengan).

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

  • Hasil pemeriksaan fisik
  • Hasil analisa gas darah (menunjukkan kadar oksigen yang rendah dan asidosis)
  • Rontgen dada
  • Hasil tes fungsi paru.

Komplikasi:

  • Pneumotoraks. Paru-paru sangat kaku dan untuk mengembangkannya diperlukan tekanan yang lebih dari bayi maupun ventilator. Akibatnya paru-paru bisa pecah sehingga udara merembes ke dalam rongga dada. Udara ini menyebabkan paru-paru menjadi kolaps dan terjadinya gangguan ventilasi dan sirkulasi. Kolaps paru-paru (pneumotoraks) memerlukan pengobatan segera, yaitu berupa pengeluran udara dari dada dengan bantuan sebuah jarum
  • Perdarahan di dalam otak. Resiko terjadinya perdarahan akan berkurang jika sebelum persalinan telah diberikan kortikosteroid kepada ibu.

  • Resiko terjadinya sindroma gawat pernafasan bisa dikurangi jika persalinan bisa ditunda sampai paru-paru bayi telah mampu menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang memadai.
  • Jika kemungkinan akan terjadi persalinan prematur, maka dilakukan amniosentesis untuk mengetahui kadar surfaktan.
  • Jika diperkirakan bahwa paru-paru bayi belum matang dan persalinan tidak dapat ditunda, maka diberikan kortikosteroid kepada ibu minimal 24 jam sebelum waktu perkiraan persalinan.
  • Kortikosteroid akan melewati plasenta dan merangsang pembentukan surfaktan oleh paru-paru janin.
  • Setelah persalinan, kepada bayi yang menderita sindroma ringan hanya perlu diberikan oksigen. Pada sindroma yang lebih berat mungkin perlu didukung oleh ventilator dan obat surfaktan.
  • Obat surfaktan sangat menyerupai surfaktan yang asli dan dapat diteteskan langsung ke dalam trakea bayi melalui suatu selang.
  • Obat ini bisa memperbaiki angka kelangsungan hidup bayi dengan cara mengurangi beratnya sindroma dan resiko terjadinya komplikasi.
  • Untuk mencegah terjadinya sindroma pada bayi yang sangat prematur, obat surfaktan bisa diberikan segera setelah bayi lahir atau diberikan ketika tanda-tanda terjadinya gejala mulai terlihat.
  • Pengobatan bisa dilanjutkan selama beberapa hari sampai bayi mulai menghasilkan surfaktan sendiri.

Cara Penularan Penyakit Difteri

 

wp-1526479899292..jpgCara Penularan Penyakit Difteri

Meski jarang sebelumnya kasus penyakit Difteri pernah muncul secara insidentil di Indonesia. Tetapi saat ini di Indonesia Difteri kembali mewabah lebih hebat dibandingkan peristiwa sebelumnya. Bila sebelumnya hanya pada 1 atau 2 propinsi terjangkit, saat ini tidak tanggung tanggung hampir separuh provinsi di Indonesia terjangkit Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi. Difteri dianggap penyakit menular yang sangat cepat dan sangat ganas. Sehingga saat ada peningkatan 1 kasus penyakit sudah dianggap kejadian luar biasa. Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyakit difteri memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematianSehingga pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan penemuan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir seperuh wilayah Indonesia.

  • Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Penyakit difteri dapat disembuhkan dengan pengobatan. Meski dengan pengobatan, difteri masih tetap mematikan, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun.
  • Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.
  • Infeksi bakteri Corynebacterium dipthteriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan. Gejala yang ditimbulkan seperti terkena flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas.

Cara Penularan

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
  • Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
  • Difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

1515589761157-15.jpg

 

Bila Anak Tidak Di Imunisasi DPT, Inilah Dampaknya


Bila Anak Tidak Di Imunisasi DPT, Inilah Dampaknya

Meski jarang sebelumnya kasus penyakit Difteri pernah muncul secara insidentil di Indonesia. Tetapi saat ini di Indonesia Difteri kembali mewabah lebih hebat dibandingkan peristiwa sebelumnya. Bila sebelumnya hanya pada 1 atau 2 propinsi terjangkit, saat ini tidak tanggung tanggung hampir separuh provinsi di Indonesia terjangkit Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi. Difteri dianggap penyakit menular yang sangat cepat dan sangat ganas. Sehingga saat ada peningkatan 1 kasus penyakit sudah dianggap kejadian luar biasa. Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyakit difteri memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematianSehingga pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan penemuan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir seperuh wilayah Indonesia.

Bila Anak Tidak Di Imunisasi DPT, Inilah Dampaknya

  • Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Penyakit difteri dapat disembuhkan dengan pengobatan. Meski dengan pengobatan, difteri masih tetap mematikan, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun.
  • Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.
  • Infeksi bakteri Corynebacterium dipthteriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan. Gejala yang ditimbulkan seperti terkena flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas.
  • Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dari 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri. Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
  • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas
  • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
  • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

 

Penanganan Terkini Difteri

Penanganan Terkini Difteri

Difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae. Difteri ialah penyakit yang mengerikan di mana masa lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal. Anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit ini.

Difteri menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan dan terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Difteri disebabkan oleh dua jenis bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae dan Corynebacterium ulcerans. Masa inkubasi (saat bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul) penyakit ini umumnya dua hingga lima hari.

  • Terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Hidung beringus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah.
  • Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul. Bisul-bisul tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.

Penularan Difteri

  • Penyebaran bakteri difteri dapat terjadi dengan mudah dan yang utama adalah melalui udara saat seorang penderita bersin atau batuk. Selain itu, ada beberapa metode penularan lain yang perlu diwaspadai. Antara lain melalui:
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, misalnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada bisul akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
  • Kontak langsung dengan hewan-hewan yang sudah terinfeksi, misalnya sapi.
  • Meminum susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi.
  • Makanan yang terbuat dari susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi.
  • Bakteri difteri akan memproduksi toksin yang akan membunuh sel-sel dalam tenggorokan. Sel-sel yang mati tersebutlah yang akan membentuk membran abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, toksin juga dapat menyebar lewat darah dan menyerang jantung serta sistem saraf.
  • Orang yang sudah menerima vaksinasi masih bisa terinfeksi penyakit ini. Namun mereka biasanya tidak menunjukkan gejala saat sedang terinfeksi. Tetapi Anda harus tetap waspada karena mereka juga dapat menularkan difteri.

wp-1494710045009.

  • Diagnosis awal difteri biasanya terlihat dari gejalanya, misalnya sakit tenggorokan yang disertai pembentukan membran abu-abu.
  • Pengambilan sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau bisul untuk diperiksa di laboratorium.

wp-1494710015769.

  • Perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan dua jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.
  • Antibiotik akan membantu tubuh untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.
  • Sebagian besar penderita tidak akan menularkan bakteri difteri lagi setelah meminum antibiotik selama dua hari. Tetapi sangat penting bagi mereka untuk tetap menyelesaikan proses pengobatan antibiotik sesuai anjuran dokter, yaitu selama dua minggu. Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium. Jika bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.
  • Sementara antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter biasanya akan mengecek apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak. Jika terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sambil melihat perkembangan kondisi pasien.
  • Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala bisul pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.
  • Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.
  • Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik. Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.

Komplikasi

  • Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan hampir satu dari lima penderita difteri balita dan berusia di atas 40 tahun yang meninggal dunia diakibatkan oleh komplikasi.
  • Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
  • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu inflamasi pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas.
  • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan inflamasi otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Masalah saluran kemih dapat menjadi indikasi awal dari kelumpuhan saraf yang akan memengaruhi diagfragma. Paralisis ini akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi apa pun umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
  • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal. Sebagian besar komplikasi ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

1511070437380_crop_959x153.jpg

  • Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.
  • Vaksin DPT adalah salah satu dari lima imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan lima kali pada saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, 1,5-2 tahun, dan lima tahun.
  • Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidupnya. Tetapi vaksinasi ini dapat diberikan kembali pada saat anak memasuki masa remaja atau tepatnya saat berusia 11-18 tahun untuk memaksimalisasi keefektifannya.
  • Penderita difteri yang sudah sembuh juga disarankan untuk menerima vaksin karena tetap memiliki risiko untuk kembali tertular penyakit yang sama.

Gejala dan Penanganan Terkini Tetralogi Fallot

Gejala dan Penanganan Terkini Tetralogi Fallot

Tetralogi Fallot

Tetralogi Fallot adalah gabungan dari:

  • Defek septum ventrikel (lubang diantara ventrikel kiri dan kanan)
  • Stenosis katup pulmoner (penyempitan pada katup pulmonalis)
  • Transposisi aorta 
  • Hipertrofi ventrikel kanan (penebalan otot ventrikel kanan).

  • Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui. Biasanya melibatkan berbagai faktor.
  • Faktor prenatal yang berhubungan dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah:
    • Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi virus lainnya
    • Gizi yang buruk selama hamil
    • Ibu yang alkoholik
    • Usia ibu diatas 40 tahun
    • Ibu menderita diabetes.
  • Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang menderita sindroma Down.
  • Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas.
  • Mungkin gejala sianotik baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik karena menyusu atau menangis.
  • Tetralogi Fallot terjadi pada sekitar 50 dari 100.000 bayi dan merupakan kelainan jantung bawaan nomor 2 yang paling sering terjadi.

Gejalanya bisa berupa:

  • Bayi mengalami kesulitan untuk menyusu
  • Berat badan bayi tidak bertambah
  • Pertumbuhan anak berlangsung lambat
  • Perkembangan anak yang buruk
  • Sianosis
  • Jari tangan clubbing (seperti tabuh genderang karena kulit atau tulang di sekitar kuku jari tangan membesar)
  • Sesak nafas jika melakukan aktivitas
  • Setelah melakukan aktivitas, anak selalu jongkok.

Serangan sianosis biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas (misalnya menangis atau mengedan), dimana tiba-tiba sianosis memburuk sehingga anak menjadi sangat biru, mengalami sesak nafas dan bisa pingsan.

Pada pemeriksaan dengan stetoskop biasanya akan terdengar murmur (bunyi jantung yang abnormal).

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

  • EKG
  • Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel darah merah dan hematokrit
  • Rontgen dada menunjukkan ukuran hati yang kecil
  • Kateterisasi jantung
  • Ekokardiogram.

  • Pada serangan sianosis, diberikan oksigen dan morfin. Untuk mencegah serangan lainnya, untuk sementara waktu bisa diberikan Propanolol.
  • Pembedahan untuk memperbaiki kelainan jantung ini biasanya dilakukan ketika anak berumur 3-5 tahun (usia pra-sekolah).
  • Pada kelainan yang lebih berat, pembedahan bisa dilakukan lebih awal.

Pembedahan yang dilakukan terdiri dari 2 tahap:

  1. Pembedahan sementara Pembuatan shunt bisa terlebih dahulu dilakukan pada bayi yang kecil dan sangat biru, agar aliran darah ke paru-paru cukup. Shunt dibuat diantara aorta dan arteri pulmonalis. Setelah bayi tumbuh cukup besar, dilakukan pembedahan perbaikan untuk menutup kembali shunt tersebut.
  2. Pembedahan perbaikan terdiri dari: – penutupan VSD – pembukaan jalur aliran ventrikel kanan dengan cara membuang sebagian otot yang berada di bawah katup pulmonalis – perbaikan atau pengangkatan katup pulmonalis – pelebaran arteri pulmonalis perifer yang menuju ke paru-paru kiri dan kanan. Kadang diantara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis dipasang sebuah selang (perbaikan Rastelli).

Jika tidak dilakukan pembedahan, penderita biasanya akan meninggal pada usia 20 tahun.

Orang tua dari anak-anak yang menderita kelainan jantung bawaan bisa diajari tentang cara-cara menghadapi gejala yang timbul:

  • Menyusui atau menyuapi anak secara perlahan
  • Memberikan porsi makan yang lebih kecil tetapi lebih sering
  • Mengurangi kecemasan anak dengan tetap bersikap tenang
  • Menghentikan tangis anak dengan cara memenuhi kebutuhannya
  • Membaringkan anak dalam posisi miring dan kaki ditekuk ke dada selama serangan sianosis.

    Difteri Mewabah Di Indonesia, Inilah Gejala dan Komplikasinya

    wp-1526481523091..jpg

    Difteri Mewabah Di Indonesia, Inilah Gejala dan Komplikasinya

    Meski jarang sebelumnya kasus penyakit Difteri pernah muncul secara insidentil di Indonesia. Tetapi saat ini di Indonesia Difteri kembali mewabah lebih hebat dibandingkan peristiwa sebelumnya. Bila sebelumnya hanya pada 1 atau 2 propinsi terjangkit, saat ini tidak tanggung tanggung hampir separuh provinsi di Indonesia terjangkit Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi. Difteri dianggap penyakit menular yang sangat cepat dan sangat ganas. Sehingga saat ada peningkatan 1 kasus penyakit sudah dianggap kejadian luar biasa. Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyakit difteri memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematianSehingga pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan penemuan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir seperuh wilayah Indonesia.

    • Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap. Penyakit difteri dapat disembuhkan dengan pengobatan. Meski dengan pengobatan, difteri masih tetap mematikan, terutama bagi anak-anak di bawah 15 tahun.
    • Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.
    • Infeksi bakteri Corynebacterium dipthteriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan. Gejala yang ditimbulkan seperti terkena flu, yaitu sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, dan lemas.

    Cara Penularan

    • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
    • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
    • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
    • Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.
    • Difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.
    • Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari.
    • Ciri yang membedakan difteri dengan gejala flu biasa adalah adanya selaput tebal yang menyelimuti tenggorokan yang bisa menghalangi jalannya pernapasan sehingga penderita kesulitan bernapas. Namun bila keadaan semakin parah, difteri dapat menyebabkan kerusakan jantung, ginjal, dan sistem saraf. Tentu saja penyakit ini berakibat fatal dan bahkan menyebabkan kematian.
    • Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi: Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
    • Demam dan menggigil.
    • Sakit tenggorokan dan suara serak.
    • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
    • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
    • Lemas dan lelah.
    • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

    Komplikasi Difteri

    • Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dari 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri. Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.
    • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas
    • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
    • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
    • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

    1516631787279-37.jpg

    DIFTERI ANCAM INDONESIA, PERIKSA STATUS IMUNISASI ANAK DAN SEGERA LENGKAPI

     

    DIFTERI ANCAM INDONESIA, PERIKSA STATUS IMUNISASI ANAK DAN SEGERA LENGKAPI

    Meski jarang sebelumnya kasus penyakit Difteri pernah muncul secara insidentil di Indonesia. Tetapi saat ini di Indonesia Difteri kembali mewabah lebih hebat dibandingkan peristiwa sebelumnya. Bila sebelumnya hanya pada 1 atau 2 propinsi terjangkit, saat ini tidak tanggung tanggung hampir separuh provinsi di Indonesia terjangkit Difteri. Kementerian Kesehatan bahkan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi. Difteri dianggap penyakit menular yang sangat cepat dan sangat ganas. Sehingga saat ada peningkatan 1 kasus penyakit sudah dianggap kejadian luar biasa. Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia. Sementara pada kurun waktu Oktober hingga November 2017, ada 11 Provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri, antara lain di Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Penyakit difteri memiliki risiko tinggi dan bahkan bisa menyebabkan kematianSehingga pemberian imunisasi DPT sebaiknya tidak dilewatkan. Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang baik oleh masyarakat dan institusi kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran, kehebatan vaksin dan pengetahuan serta pendidikan masyarakat tentang kesehatan meningkat pesat tetapi justru kasus difteri mewabah di hampir seperauh wilayah Indonesia.

    Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

    Sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada, baru muncul lagi pada tahun 2009. Pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1501/ MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu, apabila ditemukan 1 kasus difteria klinis dinyatakan sebagai KLB.

    1511070437380_crop_959x153.jpg

    • Edukasi mengenai imunisasi harus senantiasa diberikan oleh setiap petugas kesehatan dan semua kelompo masyarakat pada setiap kesempatan bertemu orang tua pasien.
    • Periksa ulang status imunisasi anak. Imunisasi DPT pada anak-anak diberikan sebanyak lima kali sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun. Tiga pemberian pertama pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Pemberian yang ke-4 adalah pada usia 18-24 bulan dan pemberian yang terakhir pada usia 5 tahun. Dosis yang diberikan yakni satu kali suntikan setiap jadwal imunisasi. Setelahnya, dianjurkan untuk melakukan booster TD (imunisasi ulang Tetanus Difteri) tiap 10 tahun.

    jadwal-imunisasi-2017-blog-cl_crop_582x308.jpg

    • Semua institusi kesehatan baik Puskesma, rumah Sakit dan Dokter diharapkan turut berpartisipasi aktif dalam memberantas difteri dan meningkatkan cakupan imunisasi DPT.
    • Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
    • Jangka pendek Di daerah KLB dilakukan outbreak response immunization (ORI), yaitu pemberian imunisasi DPT/ DT kepada semua anak berumur <15 tahun yang tinggal di daerah KLB (umur 2-7 tahun diberikan DPT, >7 tahun diberikan DT atau dT). Di daerah non-KLB diperlukan kesiapsiagaan dengan memperhatikan kelengkapan status imunisasi setiap anak yang berobat. Segera lengkapi apabila status imunisasi belum lengkap (3x sebelum umur 1 tahun, 1x pada tahun kedua, 1x pada umur 5 tahun atau sebelum masuk sekolah dasar). Selain itu perlu juga dilengkapi imunisasi yang lainnya.
    • Jangka panjang, untuk daerah KLB perlu dilakukan gerakan imunisasi terpadu untuk meningkatkan cakupan imunisasi DPT sehingga mencapai 95% dari target anak <15 tahun.
    • Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.

    wp-1511595219124..jpg

    Imunisasi DPT

    • Imunisasi DPT pada anak-anak diberikan sebanyak lima kali sejak anak berusia 2 bulan hingga 6 tahun. Tiga pemberian pertama pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Pemberian yang ke-4 adalah pada usia 18-24 bulan dan pemberian yang terakhir pada usia 5 tahun. Dosis yang diberikan yakni satu kali suntikan setiap jadwal imunisasi. Setelahnya, dianjurkan untuk melakukan booster TD (imunisasi ulang Tetanus Difteri) tiap 10 tahun.
    • Perhatikan beberapa kondisi anak Anda sebelum memberikan imunisasi. Jika anak Anda mengalami sakit parah pada saat tiba jadwal imunisasi, maka sebaiknya Anda tunggu hingga keadaan anak membaik. Jangan berikan imunisasi selanjutnya jika anak Anda memiliki kondisi seperti:
    1. Setelah 7 hari mendapatkan suntikan, anak mengalami gangguan pada sistem saraf atau otak.
    2. Muncul alergi yang cukup mengancam nyawa setelah anak mendapatkan imunisasi.

    Croup atau Batuk Mengonggong, Gejala dan Penanganannya

    Croup atau Batuk Mengonggong, Gejala dan Penanganannya

    Croup adalah salah satu jenis infeksi saluran pernapasan yang umumnya dialami anak-anak berusia enam bulan hingga tiga tahun namun dapat juga menyerang anak-anak yang berusia lebih tua. Croup umumnya disebabkan oleh virus yang menjangkiti laring atau kotak suara dan trakea atau batang tenggorokan, keduanya merupakan jalan masuk udara ke paru-paru. Infeksi pada saluran pernapasan atas ini mengakibatkan suara batuk yang khas seperti menggonggong.

    Penyebab 

    • Penyebab umum croup adalah virus parainfluenza. Dibandingkan virus-virus parainfluenza lain yang berada di dalam keluarganya, virus parainfluenza I merupakan tipe virus yang paling banyak menyebabkan croup. Virus ini menyebar melalui sentuhan dengan orang, benda, atau permukaan apa pun yang telah terkontaminasi. Virus ini juga dapat menyebar melalui udara, melalui bersin, dan batuk. Beberapa virus lain yang dapat memicu croup adalah virus flu (influenza  A dan B), campak, pilek (rhinovirus), enterovirus (penyebab penyakit tangan, kaki, dan mulut), dan RSV (penyebab pneumonia pada bayi).
    • Croup dapat dialami lebih dari satu kali selama masa anak-anak dan umumnya terjadi di saat yang sama dengan merebaknya flu dan pilek. Anak laki-laki lebih banyak terkena penyakit ini dibandingkan anak perempuan. Infeksi virus menyebabkan pembengkakan pada laring dan penyumbatan pada trakea yang dapat berpengaruh juga kepada paru-paru.

    Selain infeksi virus, infeksi bakteri juga dapat menjadi penyebab. Beberapa kondisi lain juga bisa memicu croup, seperti tanpa sengaja menghirup benda atau zat yang kecil (misalnya kacang), peradangan pada area epiglotis (epiglotitis), dan alergi. Menghirup zat kimia turut dapat menyebabkan peradangan dan memicu kondisi croup, begitu juga dengan keadaan keluarnya asam dari perut menuju tenggorokan atau acid reflux.

    • Beberapa gejala yang menyerupai flu dapat dialami anak beberapa hari sebelum timbulnya gejala croup, seperti hidung beringus, sakit tenggorokan, batuk, dan demam yang dapat berlangsung hingga beberapa hari.
    • Kesulitan bernapas, suara yang serak, suara batuk seperti menggonggong yang keras, dan suara kasar bernada tinggi saat menghirup napas. Suara dan gejala ini akan lebih mudah terdengar dan bertambah buruk saat anak menangis atau ketika mereka tidur di malam hari. Gejala ini dapat berlangsung beberapa hari hingga dua minggu.
    • Sesak napas dengan jarak mengambil napas yang terlalu dekat sehingga anak susah berbicara maupun makan atau minum. Dengarkan suara dada anak untuk mengecek suara napas, irama detak jantung yang bertambah cepat atau sebaliknya. Perhatikan anak yang menjadi resah, mudah merasa terganggu, serta selalu merasa lelah dan mengantuk. Batuk yang bertambah parah, demam, kulit yang berubah warna menjadi membiru atau pucat, serta tulang dada dan rusuk yang makin terlihat  juga bisa dianggap sebagai gejala yang membutuhkan tindakan medis secepatnya.
    • Pemeriksaan tenggorokan anak yang dilakukan sendiri sangat tidak disarankan karena dapat berdampak buruk kepada saluran udara dan menambah pembengkakan yang membuat bernapas menjadi makin sulit. 

    • Mempelajari gejala dan mengecek kondisi fisik pasien, seperti suara batuk dan suhu badan, dapat dilakukan untuk mempersempit dugaan penyebab croup. 
    • Pemeriksaan untuk mengetahui kadar oksigen di dalam darah (pulse oxymetry) serta memastikan keperluan perawatan di rumah sakit atau di rumah.
    • Beberapa gangguan lain, seperti gangguan pada saluran udara, abses pada jaringan tenggorokan, dan reaksi alergi memiliki gejala yang serupa dengan croup. Untuk itu beberapa tes tambahan, seperti pemindaian dada atau trakea bagian atas, mungkin dilakukan untuk mengesampingkan faktor yang bukan penyebab kondisi ini.

    • Pemberian cairan yang cukup diperlukan dalam menangani croup ringan di rumah untuk mencegah dehidrasi pada anak. Air putih, ASI, atau susu formula dapat diberikan pada anak bayi maupun anak yang lebih besar. Buatlah anak merasa nyaman dan tenang karena menangis dapat menambah parah gejala kondisi ini. Dokter dapat memberikan jenis obat kortisteroid oral yang akan membantu meredakan pembengkakan di tenggorokan dan parasetamol khusus anak untuk meredakan demam serta rasa sakit yang muncul.
    • Perhatikan efek samping akibat pemberian obat-obatan ini, seperti gelisah, pusing, gangguan pada perut, dan muntah. Obat-obatan ini juga tersedia dalam bentuk cairan dan dapat diperoleh secara bebas di apotek atau supermarket. Jangan berikan obat batuk atau dekongestan karena dapat membahayakan kondisi anak yang sedang mengalami kesulitan bernapas. Anak yang berusia di bawah 16 tahun sebaiknya tidak diberikan aspirin. Bicarakan bersama dokter atau apoteker mengenai jenis obat yang sesuai untuk kondisi dan usia anak Anda.
    • Anak yang terus mengalami gangguan pernapasan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter karena dapat memerlukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit. Suntikan adrenalin melalui nebulizer dapat mengurangi gejala croup yang makin parah. Anak akan menghirup obat dalam bentuk titik-titik air kecil.
    • Pada kasus lainnya, anak dapat memerlukan intubasi, yaitu dimasukannya sebuah selang melalui lubang hidung atau mulut hingga melewati trakea untuk mempermudah pernapasan. Proses ini membutuhkan pembiusan umum agar anak tidak merasa takut dan sakit.
    • Kasus kematian anak akibat croup sangat jarang ditemukan karena pada sebagian besar kasus, kondisi ini akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 48 jam. Gejala croup dapat berlangsung hingga dua minggu dan jika tidak segera diobati croup dapat menimbulkan komplikasi seperti infeksi telinga bagian tengah atau pneumonia. 
    • Jika setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit kondisi anak tidak kunjung membaik, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari kemungkinan gangguan lain, misalnya pemeriksaan X-ray di area leher dan dada.

    Komplikasi Croup

    • Gangguan saluran napas yang berujung pada gangguan napas berat, bahkan gagal napas. Kondisi gagal napas ditandai dengan terhentinya pernapasan, namun jantung tetap berdetak.
    • Peradangan pada salah satu atau kedua jaringan paru-paru yang dikenal dengan penyakit pneumonia. Infeksi lainnya adalah bakteri trakeitis (peradangan pada trakea), infeksi telinga tengah, dan lymphadenitis (peradangan pada kelenjar getah bening).

    Pencegahan Croup

    • Menjaga kebersihan serta menjauhkan anak dari penderita lainnya adalah hal utama dalam pencegahan penyebaran croup. Seperti halnya flu, penyakit ini dapat menyebar dengan mudah jika Anda tidak rajin membiasakan anak untuk rajin mencuci tangan. 
    • Anjurkan anak untuk mengarahkan bersin ke area siku untuk mengurangi risiko penularan virus ke orang lain. 
    • Vaksinasi rutin juga menjadi satu cara lain melindungi anak dari jenis infeksi pemicu kondisi croup. 

    Ascariasis atau Cacing Gelang, Gejala dan Penanganannya

    Ascariasis atau Cacing Gelang, Gejala dan Penanganannya

    Ascariasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang. Cacing ini adalah jenis parasit yang bisa hidup dan berkembang biak di dalam usus manusia. Infeksi akibat cacing ini biasanya tidak menyebabkan gejala spesifik. Namun, jumlah cacing gelang yang sangat banyak dalam usus berpotensi memicu gejala serta komplikasi yang serius.

    • Fase awal infeksi, telur-telur cacing yang tertelan akan menetas , sehingga memicu gejala berupa demam, batuk kering, napas pendek, serta mengi. Fase ini umumnya bisa berlangsung hingga 21 hari
    • Pada fase lanjut, larva-larva telah berpindah ke usus dan berkembang menjadi cacing dewasa. Ascariasis ringan hingga menengah akan memicu gejala sakit perut, mual, muntah, diare, atau munculnya darah pada tinja.

    Semakin banyak jumlah cacing gelang yang ada dalam tubuh, gejala yang dialami oleh pengidap akan semakin memburuk. Ascariasis yang parah akibat banyaknya jumlah cacing gelang di dalam usus akan menyebabkan gejala-gejala berupa:

    • Sakit perut yang parah.
    • Muntah-muntah.
    • Kelelahan.
    • Adanya cacing dalam muntah atau tinja.
    • Penurunan berat badan..

    Penularan  

    • Tertelan telur-telur cacing gelang yang terdapat dalam air atau makanan. Bahan makanan yang tumbuh pada tanah yang terkontaminasi telur cacing gelang juga bisa menjadi sumber penyebab ascariasis.

    Faktor-faktor risiko 

    • Kebersihan yang tidak terjaga. Ascariasis banyak berkembang di tempat-tempat yang kurang bersih, terutama daerah yang memanfaatkan tinja manusia sebagai pupuk.
    • Usia. Ascariasis umumnya menyerang pasien berusia 10 tahun ke bawah.
    • Kepadatan penduduk. Infeksi ini sering terjadi di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

    Diagnosis 

    • Selain menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien, dokter akan mengambil dan memeriksa sampel tinja pengidap. Prosedur ini akan membantu dokter untuk memeriksa ada atau tidaknya telur-telur cacing pada tinja pengidap.
    • Tes darah dapat dilakukan untuk melihat adanya kenaikan sel darah putih tertentu yang disebut sebagai eosinophilia, tapi ini tidak spesifik untuk memastikan adanya infeksi Ascaris. Pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan X-rayUSG, atau CT scan dan MRI guna melihat apakah ada larva di paru-paru, cacing dewasa pada organ hati atau pankreas, gumpalan cacing-cacing yang menyumbat saluran hati atau pankreas.

    • Mebendazole. Obat ini dianjurkan bagi pasien berusia 1 tahun ke atas. Efek samping yang berpotensi muncul meliputi diare, ruam kulit, serta sering buang angin.
    • Piperazine. Bayi berusia 3 hingga 11 bulan biasanya disarankan mengonsumsi obat ini sebanyak 1 kali saja. Sakit perut, diare, mual, muntah, serta kolik merupakan beberapa efek samping dari piperazine.
    • Albendazole. Obat ini biasanya dianjurkan untuk dikonsumsi sebanyak 2 kali sehari. Sakit perut, mual, muntah, pusing, serta ruam kulit adalah beberapa efek samping yang mungkin dialami oleh pasien setelah meminum albendazole.

    Pencegahan 

    • Cuci tangan dengan air bersih dan sabun, misalnya sebelum makan, memasak, maupun setelah buang air besar.
    • Pastikan masakan benar-benar matang sebelum mengonsumsinya.Minumlah air dalam kemasan yang tersegel ketika bepergian. 
    • Jika tidak tersedia, masaklah air hingga mendidih sebelum meminumnya.
    • Konsumsi buah-buahan yang bisa dikupas, misalnya jeruk atau apel.Cucilah buah dan sayuran hingga bersih sebelum dikonsumsi.


      Terapi Terkini Bronkitis Pada Anak

      wp-1505397266843..jpgTerapi Terkini Bronkitis Pada Anak

      Pada bronkitis akut, terapi medis umumnya menargetkan gejala dan mencakup penggunaan analgesik dan antipiretik. Pada bronkitis kronis, terapi bronkodilator harus dipertimbangkan dan dilakukan (agonis beta-adrenergik, seperti albuterol atau terbutalin). Agen beta-adrenergik kurang beracun dan memiliki onset tindakan yang lebih cepat. Penggunaan kortikosteroid inhalasi secara bertahap juga bisa menjadi intervensi awal yang efektif.

      Pada anak yang terus batuk meski diberi dengan bronkodilator dan di antaranya temuan pemeriksaan dan fisik menunjukkan adanya bentuk bronkitis, kortikosteroid oral harus ditambahkan. Jika responsnya suboptimal atau jika demam terus berlanjut, terapi antibiotik dengan agen seperti makroxida atau antimikroba resisten beta-laktamase dapat dipertimbangkan.

      Antibiotik sebaiknya tidak menjadi terapi utama. Mereka biasanya tidak menghasilkan penyembuhan dan mungkin menunda dimulainya terapi asma yang lebih tepat.

      Agen analgesik dan antipiretik Obat golongan ini digunakan untuk mengendalikan demam, myalgia, dan artralgia.

      • Acetaminophen (Tylenol, Aspirin-Free Anacin, Feverall) Obat golongan ini adalah pengobatan pilihan untuk rasa sakit pada pasien yang tidak dapat mengkonsumsi obat antiinflamasi aspirin atau nonsteroid (NSAID).
      • Ibuprofen (Ibuprin, Advil, Motrin). NSAID ini adalah pengobatan pilihan yang biasa untuk nyeri ringan sampai sedang jika tidak ada kontraindikasi. Ibuprofen mengurangi reaksi inflamasi dan rasa sakit, mungkin dengan menurunkan aktivitas siklooksigenase, yang menghambat sintesis prostaglandin.

      Kortikosteroid, sistemik Obat golongan ini digunakan untuk kursus singkat (3-10 d) untuk mendapatkan kontrol segera terhadap episode asma akut yang tidak terkendali. Kortikosteroid sistemik juga digunakan untuk pencegahan gejala jangka panjang pada asma persisten berat, juga untuk penekanan, kontrol, dan pembalikan peradangan. Penggunaan beta2-agonis yang sering dan berulang dikaitkan dengan subsensitivitas reseptor beta2 dan regulasi turun; Proses ini dibalik dengan kortikosteroid.

      Kortikosteroid dosis tinggi tidak memiliki keuntungan dalam eksaserbasi asma yang parah, dan pemberian intravena tidak ada manfaatnya dibandingkan terapi oral, asalkan waktu transit atau penyerapan GI tidak terganggu. Regimen yang biasa adalah melanjutkan beberapa dosis harian sampai volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (FEV1) atau peak expiratory flow (PEF) adalah 50% dari nilai prediksi atau nilai terbaik pribadi; Kemudian, dosisnya berubah menjadi dua kali sehari. Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 48 jam.

      • Prednisolon (Pediapred, Orapred)Prednisolone bekerja dengan mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan mengurangi . permeabilitas kapiler.
      • Prednisone (Sterapred). Prednison dapat menurunkan peradangan dengan membalikkan permeabilitas kapiler yang meningkat dan menekan aktivitas leukosit polimorfonuklear. Prednisone menstabilkan membran lisosom dan menekan limfosit dan produksi antibodi.

      Bronkodilator. Penelitian telah mengungkapkan bahwa bronkodilator menghilangkan gejala bronkitis, dan mereka telah ditemukan lebih unggul dari antibiotik dalam keadaan ini. Namun, jumlah pasien dalam percobaan ini sangat kecil, mengingat seberapa sering bronkitis akut didiagnosis.

      • Albuterol sulfat (Proventil, Ventolin, ProAir)
      • Terbutaline (Brethine, Bricanyl, Brethaire, atau Terbulin). Agonis beta-adrenergik yang berguna dalam pengobatan bronkospasme refraksi epinefrin, albuterol merelaksasi otot polos bronkial dengan bekerja pada reseptor beta2-adrenergik. Ini memiliki sedikit efek pada kontraktilitas otot jantung. Larutan nebulisasi siap pakai tersedia sebagai 0,083% (2,5 mg / 3 mL).).

      Antibiotik. Antibiotik sebaiknya tidak menjadi terapi utama bagi penderita bronkitis akut. Mereka biasanya tidak menghasilkan penyembuhan dan mungkin menunda dimulainya terapi asma yang lebih tepat. Studi tentang efektivitas antibiotik telah berfokus pada individu sehat atau pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis. Pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau cadangan kardiopulmoner terbatas, seperti pasien asma, mungkin mengalami efek menguntungkan yang sangat terbatas.

      • Asam amoksisilin-klavulanat (Augmentin). Amoksisilin adalah antibiotik beta-laktam bakisida semisintetik yang menghambat sintesis dinding sel. Agen ini mengandung amoksisilin yang dikombinasikan dengan klavulanat, penghambat beta-laktamase.
      • Azitromisin (Zithromax). Azitromisin digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh strain mikroorganisme yang rentan. Hal ini ditunjukkan untuk infeksi klamidia dan gonore pada saluran kelamin.

      Referensi

      • Knutson D, Braun C. Diagnosis and management of acute bronchitis. Am Fam Physician. 2002 May 15. 65(10):2039-44.
      • Black S. Epidemiology of pertussis. Pediatr Infect Dis J. 1997 Apr. 16(4 Suppl):S85-9.
      • Jivcu C, Gotfried M. Gemifloxacin use in the treatment of acute bacterial exacerbation of chronic bronchitis. Int J Chron Obstruct Pulmon Dis. 2009. 4:291-300. [
      • Sethi S, Murphy TF. Infection in the pathogenesis and course of chronic obstructive pulmonary disease. N Engl J Med. 2008 Nov 27. 359(22):2355-65.
      • Macfarlane J, Holmes W, Gard P, et al. Prospective study of the incidence, aetiology and outcome of adult lower respiratory tract illness in the community. Thorax. 2001 Feb. 56(2):109-14.
      • Wenzel RP, Fowler AA 3rd. Clinical practice. Acute bronchitis. N Engl J Med. 2006 Nov 16. 355(20):2125-30.
      • Schuetz P, Christ-Crain M, Thomann R, et al. Effect of procalcitonin-based guidelines vs standard guidelines on antibiotic use in lower respiratory tract infections: the ProHOSP randomized controlled trial. JAMA. 2009 Sep 9. 302(10):1059-66.
      • Briel M, Schuetz P, Mueller B, et al. Procalcitonin-guided antibiotic use vs a standard approach for acute respiratory tract infections in primary care. Arch Intern Med. 2008 Oct 13. 168(18):2000-7; discussion 2007-8.
      • Fazili T, Endy T, Javaid W, Maskey M. Role of procalcitonin in guiding antibiotic therapy. Am J Health Syst Pharm. 2012 Dec 1. 69(23):2057-61.
      • Albrich WC, Dusemund F, Bucher B, et al. Effectiveness and safety of procalcitonin-guided antibiotic therapy in lower respiratory tract infections in “real life”: an international, multicenter poststudy survey (ProREAL). Arch Intern Med. 2012 May 14. 172(9):715-22.
      • [Guideline] Braman SS. Chronic cough due to acute bronchitis: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. Chest. 2006 Jan. 129(1 Suppl):95S-103S.
      • [Guideline] Braman SS. Chronic cough due to chronic bronchitis: ACCP evidence-based clinical practice guidelines. Chest. 2006 Jan. 129(1 Suppl):104S-115S.
      • American Academy of Pediatrics. Committee on Drugs. Use of codeine- and dextromethorphan-containing cough remedies in children. American Academy of Pediatrics. Committee on Drugs. Pediatrics. 1997 Jun. 99(6):918-20.
      • Smucny J, Becker L, Glazier R. Beta2-agonists for acute bronchitis. Cochrane Database Syst Rev. 2006 Oct 18. CD001726.
      • Poole PJ, Black PN. Mucolytic agents for chronic bronchitis or chronic obstructive pulmonary disease. Cochrane Database Syst Rev. 2010 Feb 17. 2:CD001287.
      • Aagaard E, Gonzales R. Management of acute bronchitis in healthy adults. Infect Dis Clin North Am. 2004 Dec. 18(4):919-37; x.
      • Gonzales R, Steiner JF, Lum A, Barrett PH Jr. Decreasing antibiotic use in ambulatory practice: impact of a multidimensional intervention on the treatment of uncomplicated acute bronchitis in adults. JAMA. 1999 Apr 28. 281(16):1512-9.
      • Harrison L. Antibiotics still overprescribed for sore throats, bronchitis. Medscape Medical News. October 4, 2013; Accessed October 15, 2013. Available at http://www.medscape.com/viewarticle/812109.
      • Barnett ML, Linder JA. Antibiotic Prescribing to Adults With Sore Throat in the United States, 1997-2010. JAMA Intern Med. 2013 Oct 3.
      • Tan T, Little P, Stokes T. Antibiotic prescribing for self limiting respiratory tract infections in primary care: summary of NICE guidance. BMJ. 2008 Jul 23. 337:a437.
      • Ram FS, Rodriguez-Roisin R, Granados-Navarrete A, Garcia-Aymerich J, Barnes NC. Antibiotics for exacerbations of chronic obstructive pulmonary disease. Cochrane Database Syst Rev. 2006 Apr 19. CD004403
      • Roede BM, Bresser P, Prins JM, Schellevis F, Verheij TJ, Bindels PJ. Reduced risk of next exacerbation and mortality associated with antibiotic use in COPD. Eur Respir J. 2009 Feb. 33(2):282-8.
      • Siempos II, Dimopoulos G, Korbila IP, Manta K, Falagas ME. Macrolides, quinolones and amoxicillin/clavulanate for chronic bronchitis: a meta-analysis. Eur Respir J. 2007 Jun. 29(6):1127-37.
      • Korbila IP, Manta KG, Siempos II, Dimopoulos G, Falagas ME. Penicillins vs trimethoprim-based regimens for acute bacterial exacerbations of chronic bronchitis: meta-analysis of randomized controlled trials. Can Fam Physician. 2009 Jan. 55(1):60-7. [
      • El Moussaoui R, Roede BM, Speelman P, Bresser P, Prins JM, Bossuyt PM. Short-course antibiotic treatment in acute exacerbations of chronic bronchitis and COPD: a meta-analysis of double-blind studies. Thorax. 2008 May. 63(5):415-22.
      • Nichol KL, Wuorenma J, von Sternberg T. Benefits of influenza vaccination for low-, intermediate-, and high-risk senior citizens. Arch Intern Med. 1998 Sep 14. 158(16):1769-76.

      • United States Food and Drug Administration. Zicam cold remedy nasal products (Cold Remedy Nasal Gel, Cold Remedy Nasal Swabs, and Cold Remedy Saws, Kids Size). MedWatch Public Health Advisory. Available at http://www.fda.gov/Safety/MedWatch/SafetyInformation/SafetyAlertsforHumanMedicalProducts/ucm166996.htm. Accessed: June 16, 2009.
      • Gonzales R, Steiner JF, Sande MA. Antibiotic prescribing for adults with colds, upper respiratory tract infections, and bronchitis by ambulatory care physicians. JAMA. 1997 Sep 17. 278(11):901-4.
      • Franks P, Gleiner JA. The treatment of acute bronchitis with trimethoprim and sulfamethoxazole. J Fam Pract. 1984 Aug. 19(2):185-90.

      Penanganan Diare Pada Anak, Bukan Dengan Antibiotika

      1465533447708.jpgPenanganan Diare Pada Anak, Bukan Dengan Antibiotika

      Hingga saat ini masih saja sebagian masyarakat bahkan sebgioan klinisi yang masihmeyakini bahwa pengobatan diare pada anak tidak akan mantap bila tidak disertai antibiotika. Secara umum penatalaksanaan diare akut bukan dengan pemberian antibiotika atau obat lainnya tetapi ditujukan untuk mencegah dan mengobati, dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, malabsorpsi akibat kerusakan mukosa usus, penyebab diare yang spesifik, gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk memperoleh hasil yang baik pengobatan harus rational. Diare pada anak masih merupakan problem kesehatan dengan angka kematian yang masih tinggi terutama pada anak umur 1-4 tahun, yang memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan memadai.

      Pada kelompok usia 1 – 4 tahun, diare merupakan penyebab kematian terbanyak. Diare pada anak masih merupakan masalah yang memerlukan penanganan yang komprehensif dan rasional. Terapi yang rasional diharapkan akan memberikan hasil yang maksimal, oleh karena efektif, efisien dan biaya yang memadai. Terapi rasional adalah terapi yang: tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat penderita, dan waspada terhadap efek samping obat.

      Penyebab diare

      • Sebagian besar dari diare akut disebabkan oleh karena infeksi. Banyak dampak yang dapat terjadi karena infeksi saluran cerna antara lain: pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan gangguan keseimbangan asam basa.
      • Seperti yang telah disebutkan di atas, banyak hal yang dapat menyebabkan diare. Bila bayi maupun anak anda diare, bisa saja dikarenakan adanya parasit, infeksi bakteri maupun virus, antibiotik, atau makanan.
      • Infeksi virus Virus yang paling banyak menimbulkan diare adalah rotavirus. Menurut WHO, rotavirus turut berkontribusi sebesar 15-25% diare pada anak usia 6-24 bulan.
      • Infeksi Bakteri Sangat jarang biasanya disebakan karena Bakteri seperti Shigella, Vibrio cholera, Salmonella (non thypoid), Campylobacter jejuni maupun Escherichia coli bisa saja merupakan penyebab diare pada buah hati anda. Anak anda kemungkinan mengalami diare akibat infeksi bakteri jika diare yang dialaminya sangat hebat, diikuti dengan kejang, terdapat darah di tinjanya, serta demam.
      • Parasit Infeksi akibat parasit meski sangat jarang juga dapat menyebabkan diare. Penyakit giardiasis misalnya. Penyakit ini disebabkan parasit mikroskopik yang hidup dalam usus. Gejala giardiasis diantaranya adalah banyak gas, tinja yang sangat banyak dan berbau busuk, perut kembung, serta diare.
      • Antibiotik Jika anak atau bayi anda mengalami diare selama pemakaian antibiotik, mungkin hal ini berhubungan dengan pengobatan yang sedang dijalaninya. Antibiotik bisa saja membunuh bakteri baik dalam usus selama pengobatan. Konsultasikan pada dokter mengenai hal ini. Namun, jangan hentikan pengobatan pada anak anda sampai dokter memberikan persetujuan.
      • Makanan dan Minuman Terlalu banyak jus (terutama jus buah yang mengandung sorbitol dan kandungan fruksosa yang tinggi) atau terlalu banyak minuman manis dapat membuat perut bayi “kaget” dan menyebabkan diare.
      • Alergi Makanan Alergi makanan merupakan reaksi sistem imun tubuh terhadap makanan yang masuk. Alergi makanan pada bayi biasa terjadi pada bayi yang mulai mengenal makanan pendamping ASI. Protein susu merupakan alergen (penyebab alergi) yang paling umum dijumpai pada bayi. Selain protein susu, alergen yang umum dijumpai adalah telur, kedelai, gandum, kacang, ikan, dan kerang-kerangan. Konsultasikan pada dokter jika anda mencurigai ananda memiliki alergi makanan. Alergi makanan dapat menyebabkan berbagai reaksi (salah satunya adalah diare) dalam waktu singkat maupun setelah beberapa jam.
      • Intoleransi Makanan Berbeda dengan alergi makanan, intoleransi makanan tidak dipengaruhi oleh sistem imun. Contoh intoleransi makanan adalah intoleransi laktosa (sangat jarang ditemukan pada bayi). Bayi yang mengalami intoleransi laktosa, artinya bayi tersebut tidak cukup memproduksi laktase, suatu enzim yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa (yaitu gula dalam susu sapi dan produk susu lainnya). Gejala seperti diare, perut kembung, dan banyak gas bisa terjadi bila laktosa tidak terurai. Gejala biasanya muncul sekitar satu atau dua jam setelah mengkonsumsi produk susu.

      Penanganan

      Rekomendasi dari WHO dan Unicef sebagai tatalaksana diare, yaitu:

      • Penggunaan oralit formula baru (osmolaritas rendah) dan cairan rumah tangga
      • Lanjutkan pemberian ASI
      • Lanjutkan pemberian makanan
      • Penggunaan antibiotika yang selektif
      • Pemberian suplementasi Zinc selama 10 – 14 hari

      Tidak Perlu Antibiotika

      • Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). Antibiotika hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya kholera, shigella, karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus).
      • Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gejala yang berat serta berulang atau yang menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir yang jelas atau gejala sepsi
      • Zinc atau disebut juga dengan Seng merupakan mikronutrien esensial, artinya walaupun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil tetapi sangat penting artinya dalam mempertahankan fungsi normal tubuh. Zinc berperan di dalam sintesa Dinukleosida Adenosin (DNA) dan Ribonukleosida Adenosin (RNA), dan protein. Maka bila terjadi defisiensi Zinc dapat menghambat pembelahan sel, pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Zinc umumnya ada di dalam otak, dimana zinc mengikat protein. Kekurangan zinc akan berakibat fatal terutama pada pembentukan struktur otak, fungsi otak dan mengganggu respon tingkah laku dan emosi. Peranan penting Zinc dalam tubuh manusia dan berbagai penelitian yang menunjukkan Zinc dapat digunakan sebagai tatalaksana diare. Maka pemberian Zinc telah mendapatkan rekomendasi dari WHO dan Unicef
      • Probiotik.Probiotik (Lactic acid bacteria) merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang menguntungkan pada host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik di dalam lumen saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus, sehingga tidak terdapat tempat lagi untuk bakteri patogen untuk melekatkan diri pada sel epitel usus sehingga kolonisasi bakteri patogen tidak terjadi. Dengan mencermati fenomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai sebagai cara untuk pencegahan dan pengobatan diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain, pseudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian antibiotika yang tidak rasional rasional (antibiotic associated diarrhea).
      • Mikroekologi mikrobiota yang rusak oleh karena pemakaian antibotika dapat dinormalisir kembali dengan pemberian bakteri probiotik. Mekanisme kerja bakteri probiotik dalam meregulasi kekacauan atau gangguan keseimbangan mikrobiota komensal melalui 2 model kerja rekolonisasi bakteri probiotik dan peningkatan respon imun dari sistem imun mukosa untuk menjamin terutama sistem imun humoral lokal mukosa yang adekuat yang dapat menetralisasi bakteri patogen yang berada dalam lumen usus yang fungsi ini dilakukan oleh secretory IgA (SIgA).

      Penanganan Umun diare

      • Makan dan Minum Untuk bayi dan balita yang masih diberi ASI, teruskan minum ASI (Air Susu Ibu). Bagi anak yang sudah tidak minum ASI, makan dan minum seperti biasa untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang
      • Garam Oralit Berikan oralit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Perlu diperhatikan bagi orang tua mengenai cara pemberian oralit yang benar. Caranya adalah minum segelas oralit sedikit demi sedikit, dua sampai tiga teguk, kemudian berhenti selama tiga menit. Hal ini harus diulang terus menerus sampai satu gelas oralit habis. Minum oralit satu gelas sekaligus dapat memicu muntah dan buang air besar.
      • Segera periksakan anak ke dokter bila diare lebih dari 12 jam atau bila bayi anda tidak mengompol dalam waktu 8 jam, suhu badan lebih dari 39°C, terdapat darah dalam tinjanya, mulutnya kering atau menangis tanpa air mata, dan luar biasa mengantuk atau tidak ada respon.
      • Dan bila tidak mendapatkan penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik. Beberapa cara penanganan dengan menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit, pencegahan dengan vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap di beberapa penelitian.
      • Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intoleransi, mengobati kausa dari diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta.
      • Terapi Cairan Yang paling utama penanganan diare adalah pemberian terapi cairan. Pelaksanaan pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parenteral. Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan sampai sedang dapat menggunakan pipa nasogastrik, walaupun pada dehidrasi ringan dan sedang, bila diare profus dengan pengeluaran air tinja yang hebat ( > 100 ml/kg/hari ) atau mutah hebat ( severe vomiting ) dimana penderita tak dapat minum samasekali, atau kembung yang sangat hebat ( violent meteorism ) sehingga rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan rehidrasi panenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya untuk dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi.
      • Dehidrasi dengan mengganti defisit. Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan dengan pemberian oralit sesuai dengan defisit yang terjadi

      Intervensi Gangguan Gizi

      • Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama pada anak dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari 24 jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup. Bila tidak maka hal ini akan merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare kronik1. Pemberian kembali makanan atau minuman ( refeeding ) secara cepat sangatlah penting bagi anak dengan gizi kurang yang mengalami diare akut dan hal ini akan mencegah berkurangnya berat badan lebih lanjut dan mempercepat kesembuhan. Air susu ibu dan susu formula serta makanan pada umumnya harus dilanjutkan pemberiannya selama diare.
      • Suplemen nukleotida pada susu formula secara signifikan mengurangi lama dan beratnya diare pada anak oleh karena nucleotide adalah bahan yang sangat diperlukan untuk replikasi sel usus
      • Pemberian susu rendah laktosa, formula medium laktosa atau bebas laktosa diberikan pada penderita yang menunjukkan gejala klinik dan laboratorium intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah tipe yang ringan sehingga cukup memberikan formula susu yang biasanya diminum dengan pengenceran oleh karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam waktu 2-3 hari akan sembuh terutama pada anak dengan gizi yang baik. Namun bila terdapat intoleransi laktosa yang berat dan berkepanjangan tetap diperlukan susu formula bebas laktosa untuk waktu yang lebih lama. Untuk intoleansi laktosa ringan dan sedang sebaiknya diberikan formula susu rendah laktosa. Penulis lain memberikan formula bebas laktosa atau formula soya untuk penderita intoleransi laktosa sekunder oleh karena gastroenteritis, malnutrisi protein-kalori dan lain penyebab dari kerusakan mukosa usus.
      • Pada keadaan ini ASI tetap diberikan;, tidak perlu memberikan susu rendah laktosa / pengenceran susu pada anak dengan diare, khususnya untuk usia di atas 1 tahun atau yang sudah makan makanan padat.
      • Sebagaimana halnya intoleransi laktosa, maka intoleransi lemak pada diare akut sifatnya sementara dan biasanya tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan formula khusus. Pada situasi yang memerlukan banyak enersi seperti pada fase penyembuhan diare, diet rendah lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan diare kronik.